Didampingi Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan dan beberapa orang Menteri, Kapolda Sumut Irjen Pol Ngadino, Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen L Pusung, Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi dan 7 orang Bupati di sekitar Danau Toba, Presiden Republik Indonesia melakukan kunjungan dan Rapat mengenai prioritas pembangunan di daerah Tapanuli.
Kehadiran orang nomor satu di Indonesia di kawasan wisata Danau Toba Sumataera Utara, menunjukkan keserusan Pemerintahan Joko Widodo dalam memajukan industri parawisata. Program ini bukan hanya berdampak pada aspek pembangunan fisik, juga berdampak pada kehidupan ekonomi secara khusus masyarakat di daerah ini.
Keseriusan Pemerintahan Joko Widodo dimaksud tentu saja berdimensi sangat luas. Bukan hanya bersangkutan pada tugas kepala pemerintahan di ketujuh kabupaten di kawasan Danau Toba. Lembaga sosial, tokoh adat juga termasuk di dalamnya. Gereja juga berperan penting dan fundamental sifatnya dalam mendorong kualitas mental, etika hidup atau praktek sosial orang beriman sehingga gereja bersinergi dengan keseriusan pemerintahan guna menyejahterakan hidup umat.
***
Dan tentu saja, sambutan positif orang Kristen atas program pemerintah, sebaiknya diterjemahkan dengan "menyanyikan keindahan Danau Toba di gereja". Sebab salah satu unsur penting dari liturgi gereja adalah nyanyian, khotbah dan pengajaran. Keyakinan ini sudah tertanam dan mengakar kuat serta berbuah lebat sejak masa Israel beribadah Synagoge sampai masa kini. Itulah sebabnya, seruan akan nyanyian Mazmur dalam ibadah Yahudi sebagaimana ditulis kitab Kisah Para Rasul, Yakobus maupun surat rasul Paulus, menekankan peran penting nyanyian dalam ibadah sebagai bagian pengajaran iman.
Nyanyian gereja akan keindahan Danau Toba juga dapat didengar melalui khotbah dari mimbar. Sebagai podium seruan prophetis, gereja bernyanyi akan realitas alam Danau Toba yang semakin hari akan dapat kehilangan kecantikan, keanggunan, daya tariknya yang mengekspresikan kemuliaan Tuhan. Dari atas mimbar, jemaat akan mendengar nyanyian yang membangunkan kesadaran akan potensi alam Danau Toba yang bukan hanya berdimensi religi, juga demi kelangsungan hidup generasi di masa mendatang.
Afirmasi atas seruan nyanyian keindahan Danau Toba akan menjadi bangunan fundamental praktek hidup sosial anggota gereja sebagai umat beriman. Keindahan Danau Toba yang dinyanyikan dalam gereja, akan menggugah batin, menggerakkan senar kebaikan orang beriman untuk mengekang jiwa kapitalisme sehingga tidak mengeksploitasi alam tetapi menyadari peran penting keindahan danau terbesar di dunia ini.
Nyanyian gereja akan keindahan Danau Toba juga mendorong nilai kepribadian sebagai umat beriman, etika komunikasi, cara hidup berdampingan dari umat berbeda keyakinan sehingga praktek hidup berdagang akan ditandai dengan keramahan, kejujuran, ketulusan melayani para wisatawan. Dan tentu saja, nyanyian gereja akan keindahan Danau Toba pastilah berdampak positif terhadap peningkatan taraf hidup ekonomi anggota gereja.
***
Sebagai lembaga gereja dan jemaatnya cukup banyak berinteraksi, menyambung hidup di sekitar alam Danau Toba, maka keseriusan Pemerintahan Joko Widodo harus dilihat sebagai media dalam memaknai fungsi dan kehadiran gereja dalam dunia berpijaknya. Kesadaran sinergis ini harus dimaknai dalam kerangka fungsi dari masing-masing identitas sebagai bagian yang terikat pada Tuhan dan ciptaan-Nya.
Dengan seruan menyanyikan keindahan Danau Toba di gereja, akan mendorong umat Tuhan untuk menyadari dan menempatkan dirinya pada subjek yang berfungsi mencintai, merawat, melestarikan keindahan alam. Bukan berfungsi eksploitatif. Wawasan kosmologi ini juga menjadi wujud nilai teologis yang diperintahkan Tuhan bahwa manusia (Adam) memberi nama dan merawat setiap mahluk, alam ciptaan (Kejadian 2: 19-20).
Dan pemaknaan terhadap seruan menyanyikan keindahan Danau Toba, menjadi buah "panggilan keberimanan", sekaligus sebagai jawaban atas pemaknaan tugas panggilan gereja dalam realitas sosialnya yang berdimensi nilai ekonomis dan religious. Keyakinan berpola Weberian ini, bahwa ada hubungan keberimanan dengan pertumbuhan nilai ekonomi, akan menjadi elemen penting mewujudkan program gereja dan pemerintah untuk kesejahteraan umat.
Maka yang kita butuhkan adalah terwujudnya kesadaran dan praktek hidup beriman, praktek bergereja untuk mencintai seluruh ciptaan Tuhan guna menggelorakan semangat pelestarian alam Danau Toba. Itulah sebabnya, Gereja Methodist Indonesia selalu melaksanakan program penanaman pohon yang tentu saja juga dilakukan oleh banyak gereja-gereja di Sumatera Utara.
Mungkin, PGI Sumatera Utara dan Lembaga gereja di daerah Toba (Tapanuli) dapat bekerjasama menetapkan tema khotbah secara berkesinambungan tentang "Keindahan Danau Toba" sehingga program ini tidak hanya "nyanyian sumbang" tetapi menjadi sumbangan konstruktif berdimensi mental, guna meningkatkan kualitas iman dan taraf hidup ekonomi jemaat. Dengan demikian, nyanyian keindahan Danau Toba adalah kesadaran peradaban hidup itu sendiri. Amin (y)