Kisaran (SIB)- Jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kisaran Kota menggelar seminar sehari Tahun Keluarga 2016 dengan topik “Ama Na Marsahala Dalam Persfektif Budaya Batak Toba, Alkitab dan Tradisi Gereja serta Bidang Sosial dan Kesehatan, Rabu (9/3) sekira pukul 09.00 WIB di Gereja HKBP Jalan Sisingamangaraja Kisaran. Acara diawali dengan kebaktian singkat dipimpin Pdt Horas Purba MTh.Guru Besar (Gubes) Unimed St Prof Dr Belferik Manullang selaku narasumber pertama mengatakan, peran ama na marsahala membangun budaya batak toba (bahasa, seni, adat istiadat, kuliner dan lainnya) dalam keluarga merupakan pondasi kuat bagi pengembangan peradaban batak toba dalam konstelasi peradaban bangsa dan dunia global.Dijelaskannya, beberapa karakteristik ama na marsahala di antaranya, panorama versi habatahon yang berarti mengindikasikan bahwa sosok tersebut memiliki kemuliaan, hikmat, wibawa, kebesaran, otoritas dan kesaktian. Dalam keluarga ia merupakan sumber kebaikan, tekun, rajin dalam bekerja dan semangat bermasyarakat serta taat akan Tuhan. Selain itu, lanjutnya, ama na marsahala bersifat rasional dan selalu berpikir positif serta mempunyai citra diri yang kuat.Belferik juga mengatakan, landasan perilaku ama na marsahala dalam keluarga adalah kasih sayang tulus. Dengan begitu, katanya, ama hadir sebagai inspirator dan motivator. Sehingga, seluruh anggota keluarga semakin bertumbuh memiliki kemandirian dikarenakan pengaruh peran tersebut.Sementara itu, Praeses HKBP Distrik Asahan Pdt Robert Pandiangan MTh pada acara tersebut mengatakan, jika ditinjau dari alkitab dan tradisi gereja, marsahala dalam praksis kehidupan berarti orang yang mampu melakukan tugas dan perannya dengan baik, sehingga orang-orang di sekitarnya merasakan ada sesuatu hal yang sangat mempengaruhi dirinya secara positif. “Hasahalaon†(kewibawaan) itu akan tampak dan dinikmati ketika yang bersangkutan dapat melakukan tanggung jawabnya dengan baik.Dikatakan, hakikat dan fungsi keluarga merupakan persekutuan total (menyeluruh) yang berfungsi untuk meneruskan generasi manusia dan juga secara bersama-sama suami istri itu berperan dalam mengelola alam. Oleh karenanya, Tuhan Yesus pun mempertegas bahwa laki-laki dan perempuan telah dipersatukan oleh Allah bukan lagi dua melainkan satu dan tidak boleh diceraikan oleh manusia.Ia menambahkan, bahwa keluarga itu merupakan wadah bukan hanya untuk prokreasi, melainkan juga lembaga pertama untuk membentuk pribadi anak-anak. Artinya, lanjutnya, peran kedua orangtua sangat signifikan dalam penumbuhkembangan iman sang anak.Secara hakiki, tambahnya lagi, keluarga tersebut sebenarnya adalah gereja yaitu persekutuan orang percaya dalam bentuk yang kecil. Karena itu, salah satu tugas keluarga adalah membina kerohanian anak. Sebab, tidak ada artinya keistimewaan manusia dari mahluk lain apabila pembinaan kerohanian dalam keluarga tidak berjalan. St dr Robin Lumbantobing selaku narasumber ketiga mengatakan, apabila ditinjau dari aspek sosial dan kesehatannya, bahwa menurut kepercayaan agama malim di tanah batak ada dua jenis sahala yakni, sahala marsangap merupakan tondi yang sangat mulia dan terhormat dan sahala martua yang berarti roh yang sangat bertuah, bermarwah dan bahagia.Ciri-cirinya, katanya, mampu memberikan pertolongan, mampu memberikan pengobatan (sahal pangubati), pengajar (sahala pangajari), penutur (sahala panuturi) dan jiwa pejuang (sahala panghongkop).Dikatakan, dilihat dari aspek sosial bahwa peran ama na marsahala dalam keluarga sebagai pengajar serta pendidik ilmu dan budaya, memahami arti kesehatan, memiliki spiritualis iman yang kuat dan berpenghasilan. Sementara itu, tambahnya, ama na marsahala menurut konsep paradigma sehat yakni, sehat jasmani, sehat mental, kesejahteraan sosial dan sehat spritual. (D02/y)