India (SIB)- Menteri Luar Negeri Sushma Swaraj mengatakan bahwa Pastor Tom Uzhunnalil, yang sebelumnya sempat diberitakan telah dibunuh dengan cara disalib oleh gerombolan teroris ISIS Jumat Agung lalu, ternyata masih hidup dan dapat dikatakan dalam kondisi sehat. Pihaknya pun saat ini tengah mengupayakan pembebasannya.Juru bicara Konferensi Waligereja India, Frater Gyanprakash Topno kepada media Press Trust of India mengatakan bahwa Swaraj telah bertemu dengan delegasi CBCI dan mengatakan kepada mereka bahwa kabar yang menyatakan Uzhunnalil telah tewas adalah tidak benar. "Bapa Tom dalam kondisi sehat dan saat ini tengah diupayakan pembebasannya dalam waktu yang secepatnya," kata Topno, seraya menegaskan pernyataan menteri, bahwa "pemerintah akan memfasilitasi pembebasan Pastor Tom dengan selamat untuk kembali ke India."Pastor Uzhunnalil diculik pada Maret lalu setelah gerombolan teroris Islam menyerang Misionaris Cinta Kasih di Aden, Yaman, di mana mereka membunuh 16 orang, termasuk empat biarawati. Setelahnya beredar kabar bahwa Pastor Uzhunnalil telah dibunuh dengan cara disalib tepat saat Jumat Agung. Kabar itu sendiri dikatakan oleh Uskup Agung Wina, Kardinal Christoph Schönborn.Namun beberapa pejabat Gereja Katolik menampiknya, salahsatunya adalah Uskup Paul Hinder dari Southern Arabia yang menyatakan bahwa Pastor Uzhunnalil berpeluang besar masih hidup, karena kabar penyaliban itu sendiri masih disangsikan kebenarannya. “Kardinal Schönborn telah mengoreksi statemennya tersebut. Beberapa media di India (yang sudah memberitakan terbunuhnya Pastur Uzhunnalil) terlalu gugup atau penasaran sehingga mereka tidak sadar bahwa mereka telah bermain-main dengan nyawa Pastur Tom (Uzhunnalil),†kata Hinder, pekan lalu.Meskipun telah memberikan harapan baru atas keadaan Pastor Uzhunnalil ini, Swaraj mengatakan bahwa dia tidak akan dapat memberikan rincian lebih lanjut tentang situasi lebih lanjut. Pastinya, saat ini beberapa anggota Kongres di India telah meminta pemerintah pusat untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi orang-orang Kristen.PRIA INI SALIBKAN DIRINYA SENDIRISalah satu negara yang paling banyak disorot saat Jumat Agung adalah Filipina. Negara penganut Katolik terbesar di Asia Tenggara itu selalu melakukan ritual penyaliban selama bertahun-tahun. meskipun mendapat tentangan dari gereja-gereja di negara tersebut, namun ritual tersebut tetap terlaksana. Tahun ini setidaknya ada 17 orang pria menyalibkan diri mereka sendiri, dipaku di atas salib dalam peringatan Jumat Agung di San Juan, Filipina.Salah satu dari 17 pria tersebut adalah Willy Salvador, seorang nelayan berusia 59 tahun yang mengajukan diri untuk menunjukkan keimanannya dengan menjalankan ritual tersebut. Pemuda-pemuda berkostum prajurit Romawi menyeret tubuh Willy dan dua orang lainnya melintasi San Juan ke arah alun-alun dimana dia menjalani penyaliban. “Saya tahu Anda tidak akan percaya pada saya, tapi Tuhan membantu saya pulih dari penyakit mental, ini adalah cara saya untuk berterima kasih pada-Nya karena telah menyembuhkan saya,†kata Willy, pria yang menjalani ritual ini setiap tahun sejak 2006, Sabtu (26/3/2016).Paku yang digunakan dalam penyaliban tersebut menembus kedua tangan dan kaki, namun tidak sampai menahan beban para pelaku ritual. Mereka disalib selama beberapa menit sebelum diturunkan dan diberi pengobatan. Ritual serupa juga dilakukan di desa-desa lainnya di Filipina yang 80 juta penduduknya menganut agama Katolik. Penyaliban dilakukan pada Jumat Agung yang dipercaya sebagai saat dimana Yesus Kristus dipaku di atas salib untuk menebus dosa manusia.Penyaliban menjadi atraksi yang menarik bagi turis-turis yang datang ke Filipina, diperkirakan ribuan pengunjung datang ke San Pedro, dimana ritual ini telah berlangsung selama 30 tahun. Kepala Desa San Juan, Claro Tolentino mengatakan bahwa penyaliban dan penderaan diri telah menjadi tradisi dan bagian dari budaya di Filipina, dan hal itu harus dihormati.Meski merupakan sebuah bukti kepercayaan kepada Tuhan, ritual penyaliban ternyata mendapat kritik dari gereja yang menganggap penyaliban terlalu ekstrem untuk dilakukan. “Gereja tidak menganjurkan aksi ekstrem semacam ini karena Yesus Kristus telah menjalaninya untuk kita semua. Tidak perlu untuk mengulanginya,†kata Pendeta Douglas Badong dari gereja Katolik Quiapo di Manila. (CP/BerbagaiSumber/h)