Pada suatu hari seorang gadis mengirimkan sebuah foto dirinya pada pacarnya. Di balik foto tersebut, sang gadis mencantumkan kata-kata cinta, "Dari Whitney yang mencintai dan akan selalu mencintaimu selamanya. Dibawahnya tertulis catatan, isinya,: Kalau kita putus, jangan lupa kembaliin fotonya padaku yah, soalnya aku hanya punya satu." Ironis memang, kalimat pertama merupakan janji setia, kalimat kedua merupakan kebalikannya, minta barang kembali pada yang punya seakan tidak mau rugi. Cinta tapi tidak tulus, karena foto saja pun harus diminta kembali kalau putus. Mungkin saja kita dengan tidak sadar menjadi orang yang memiliki sifat, "lain di mulut lain di hati". Di luarnya bermuka manis, sementara dalam hati menyimpan kekesalan. Seperti orang pakai topeng. Sekarang ini, banyak orang yang gemar memakai topeng; topeng penampilan keren, topeng kebaikan, topeng kemurahan hati, topeng kata-kata manis dan janji surga, padahal isi hatinya sama sekali tidak memiliki niatan untuk melakukan apa yang dikatakan. Itu semua karena tidak tulus ikhlas. Dalam kehidupan orang Kristen pun bisa saja kita terjebak dengan topeng kemunafikan sebagai bungkus seolah kita hidup dalam kedewasaan atau kesalehan. Misalnya, supaya terlihat lebih rohani, segala sesuatu dalam pelayanan dimulai dalam doa, tapi ketika kita bertemu kesulitan, kemiskinan, dan jabatan justru kita menjadi bringas dan dan tidak penyabar. Lihatlah Yudas Iskariot, seorang yang kelihatan sangat piawai sekali di bidang keuangan. Dia yang mengendalikan kebijakan keuangan dalam "komunitas pengikut Kristus" Sekilas, prinsip yang dia pegang terlihat baik ketika dia mengkritik apa yang Maria lakukan. "Kenapa sih uang itu gak dibagi-bagi saja pada orang miskin?" (Yohannes 12:1-8). Sepintas terlihat begitu sosialis dan sangat religius tapi ia seorang pejahat. Sesungguhnya, tidak ada satu hal pun dalam hati ini yang bisa disembunyikan dari Tuhan yang kudus. Mungkin orang lain tidak tahu, tapi Tuhan pasti tahu. Jadi, tidak ada gunanya berbohong di hadapan Tuhan. Kecuali, kita sudah tidak memiliki lagi rasa takut kepada Tuhan. Perkara Yudas Iskariot dan Maria adalah pelajaran beriman. Orang belum bisa dikatakan beriman kalau hanya berbuat baik, ia juga harus memiliki hati yang baik. Orang belum bisa dikatakan beriman kalau dia hanya memberi dengan tangannya, dia baru dikatakan beriman kalau dia juga bisa memberi hati dan bahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan dan sesama. Beriman adalah tanpa topeng. Beriman itu tulus dari dalam hati dan memancar keluar dalam perbuatan. Kalau manusia saja bisa merasakan ketulusan, apalagi Tuhan. Kalau manusia saja senang dengan kejujuran, apalagi Tuhan. Bukankah selama ini Tuhan itu tulus mengasihi kita? Dia tidak pernah berpura-pura mengasihi kita. Karena itu, Dia juga layak mendapatkan seluruh isi hati kita. Tulus tanpa topeng itu bisa ditujukan lewat pengorbanan. Maria mengurbankan minyak narwastu yang setara dengan mahar pernikahan untuk menunjukkan cintanya yang besar. Apa yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan cinta kita yang besar kepada Tuhan? Kasih yang tulus ikhlas didorong oleh iman yang murni, kita memberi bukan karena kita mengharapkan imbalan, kita berkorban bukan karena kita mau menanamkan investasi, kita menjadi orang baik bukan semata-mata untuk dipuji, kita beribadah ke gereja bukan supaya terlihat seperti orang yang saleh. Inilah harga sebuah kejujuran. Tidak boleh ada dusta dalam hati orang beriman.Jika anda dan saya sungguh-sungguh mengasihi Dia, jangan pula hanya dengan memberikan uang, tidak cukup hanya sebatas meluangkan waktu, tetapi berikanlah seluruh hidup kita bagi Dia. Mengapa? Karena Tuhan sudah memberikan segalanya dan bahkan hidupNya bagi anda dan saya. Kol 3:23, mengatakan, "Apapun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia". Tuhan memberkati kita. Amin.! (l)