Medan (SIB)- Dentang lonceng gereja berganti denting piano dan bersatu padu dengan suara syahdu yang melantunkan lagu kidung puji-pujian dalam keheningan di Gereja HKBP Uskup Agung Sugiapranoto Medan, Distrik X Medan Aceh, Sabtu (17/4). Sekumpulan anak-anak Tuhan yang didominasi kaum ibu dan anak-anak, rupanya tengah khusuk berdoa menyiratkan tantangan dan pergumulan gereja dan penduduk Kuba pada Hari Doa Sedunia (HDS) sore itu.Ny Willer Marpaung Boru Tobing, Ketua Panitia HDS Resort Medan Kota 2016, dalam sambutannya menyampaikan, seperti apa dan makna apa yang dapat diambil dari tantangan dan pergumulan gereja di Kuba. Terjadi banyak persoalan, termasuk soal ekonomi, yakni pemboikotan ekonomi yang telah turut mempengaruhi kehidupan penduduk, mengakibatkan penduduknya keluar dari Kuba dan terpinggirkan.Katanya, kondisi tersebut membuat Komisi HDS Kuba termotivasi menempatkan mereka yang terpinggirkan kepada sebuah status kehormatan. Artinya, anak-anak itu harus diterima tanpa memandang status ekonomi, fisik atau psikologis mereka. Tindakan Yesus dimaksudkan untuk tidak hanya ide-ide yang benar tentang anak-anak dan orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan dalam masyarakat, tetapi juga memperbaiki perilaku orang dewasa terhadap kelompok orang yang terpinggirkan.Amatan SIB, kaum ibu atau lebih pantas disebut "Gerakan Perempuan Kristen" se-resort Medan Kota itu, lengkap dengan pembungkus kepala terbuat dari kain sutra berwarna, biru, putih merah ciri khas Kuba itu menujukkan, hari doa sedunia adalah suatu gerakan perempuan Kristen di seluruh dunia dari semua latar belakang dan tradisi. Serta bersama-sama berkomitmen dalam doa.Satu hal yang menarik lagi, pada peringatan HDS itu, sejumlah anak-anak suci, turut mengambil peran dan berkomitmen dalam doa. Mereka adalah hamba Tuhan, yang terlihat duduknya dengan kaki masih menggantung di bangku gereja dengan tulusnya mempersembahkan lagu puji-pujian sebagai bentuk persembahan.Pdt Jelita Dewi Situmorang selaku leader ibadah tersebut, memimpin jemaat berdoa untuk Kuba pada prosesi “tangiang pangondianon dohot hamuliateonâ€. “Rap ma hita dohot akka parompuan na di Negara Kuba mandok mauliate huhut mangidohon tu Debata. Ibana do haroroan ni las ni roha, na ro tu portibion di bagasan haserepon, na gok las ni roha di tikki sietek-etehonna, hujanghon hami ma asi ni roham na gok holong dohot las ni roha i jala rade pasahathon i tu halak na asing,†kata pdt Dewi. Kemudian, disambut jemaat dengan menyerukan, “Mauliate Tuhan di holongmu gok lasni roha i.â€Sedangkan Pdt Sondang Hutahaean dalam khotbahnya berpesan ada kalanya orang-orang dewasa layaknya anak kecil. Betapa tidak, orang dewasa harus bisa seperti sifat anak kecil. Artinya, penuh pengharapan, kedamaian dan juga ada ketulusan hari kepolosan serta kejujuran. Seperti seorang anak percaya kepada orang tuanya. Tentunya hal seperti itu harus dicapai dalam mengambil bagian kerajaan Allah.Peringatan HDS itu diikuti Koor gabungan Ina HKBP se-Resort Medan Kota yang dipimpin Bibel vrow Linceria Boru Napitupulu. Serta diramaikan Koor lainnya dari HKBP Satahi, HKBP Eklesia, HKBP Kasih Setia, HKBP Narwastu UAS, dan pembacan liturgi yang berkaitan dengan Negara Kuba. (A22/h)