Pentingkah mendoakan Rumah Tuhan ? Bukankah tanpa mendoakannya, Tuhan yang Maha Kuasa pasti telah dan akan melindunginya ? Tak seorang pun dapat menyelamatkan Bait Suci dengan doa-doanya, kecuali karena Tuhan sendiri. Namun, hidup bergereja tak mungkin berjalan tanpa doa. Warga jemaat berdoa agar Rumah Tuhan kokoh terhadap segala bencana, bertumbuh dan berkembang terutama demi kemuliaan nama Tuhan. Perikop 1 Raja 8:22-31 merupakan Doa Salomo setelah Bait Suci di Yerusalem selesai dibangun. Ketika pembangunan telah usai, Salomo lebih dahulu minta petunjuk kepada Tuhan. Sekaligus Salomo memperbaharui ulang janji ayahNya, Daud, dengan Allah. Pembaharuan itu mengikat diri Salomo, sehingga bukan saja ayahnya yang berjanji di hadapan Tuhan, namun juga Salomo. Janji ayahnya dahulu kini menjadi janjinya sendiri di hadapan Allah, untuk kemudian menyerahkan Bait itu kepada Tuhan. Pedagogika Pembangunan Bait SuciUkuran Bait itu sebenarnya tidak tergolong besar, yakni sektar 30 X 10 Meter persegi. Namun, Bait itu dibangun secara alami dalam kurun waktu 7 tahun. Alami, karena tanpa traktor atau peralatan modern seperti sekarang ini, tetapi dengan tenaga kurang lebih 100.000 orang. Bahan-bahan bangunannya sangat mentreng, buatan luar negeri seperti Tirus, Libanon dan Mesir, dilapisi dengan emas, perak serta batu permata. Tak heran, bila pesta pangompoion pun berlangsung selama 7 hari, dengan mempersembahkan lebih kurang 22.000 lembu dan 120.000 domba. Pembangunan Bait Suci diijinkan Tuhan dilakukan Salomo; bukan oleh Daud, ayahnya. Semula, Daudlah yang berencana mendirikannya (1 Raja 18:17). Namun Tuhan tidak berkenan, mengingat darah yang telah banyak tersembur di ujung pisau Daud (1 Taw 22:8; bnd. Yesaya 1:15). Semburan darah merupakan pertanda kekerasan dan kekejaman yang telah mematikan masa depan manusia. Rumah Tuhan sejatinya harus haram dari segala kekerasan dan kekejaman sekaligus media untuk memelihara masa depan manusia. Tuhan memilih Salomo, walau bukan berarti telah menolak Daud. Ada kalanya Allah tidak menghendaki kita melakukan sesuatu, agar orang lain beroleh kesempatan. Ada kalanya kita harus berhenti atau menahan diri, agar orang lain dapat menggapai sebuah pekerjaan. Ada kalanya kita harus beristirahat dan orang lain memiliki kesempatan untuk berkarya. Inilah kaderisasi atau garis estafet pengkaderan iman dari Tuhan, sehingga setiap generasi terlibat dalam menghidupi janjinya di hadapan Tuhan. Alangkah bahagianya para orangtua seperti Daud, oleh karena janji itu terwariskan kepada anaknya. Ayah dan anak sama-sama membaharui janji di hadapan Tuhan. Orangtua dan anak sama-sama dipakai Tuhan sebagai alatNya dalam porsi yang berbeda bahkan dibatasi sesuai dengan kehendak Allah. Alangkah bahagianya seorang ayah seperti Daud, yang memiliki mimpi dan rancangan besar untuk diteruskan oleh anak atau generasi muda. Alangkah bahagianya anak seperti Salomo. Dia tidak pernah melupakan janji ayahnya kepada Tuhan. Bahagia, sebab Tuhan memberi kesempatan kepadanya untuk menindak-lanjuti rencana baik dari ayahnya. Salomo tidak merasa lebih hebat dibanding ayahnya. Semua itu adalah ketentuan Allah. Kesempatan besar yang diberi Tuhan kepadanya tidak disalahgunakannya untuk meremehkan dan melecehkan rancangan ayahnya. Sungguh sebuah pedagogika estafet beriman yang menakjubkan: Daud berencana, Tuhan menentukan, Salomo meneruskan dan melakukan.Harapan Dalam Membangun Bait Tuhan KiniYesus Kristus, Sang Domba Allah yang tanpa cacat itu, telah mati demi kita. DarahNya sungguh tak terbandingkan mahalnya dengan 120.000 ekor domba persembahan Salomo. Kuasa darahNya adalah untuk selama-lamanya menghapus dosa serta melepaskan kita dari maut. Siapapun yang berkesempatan membangun gereja, tidak boleh lalai mengaku seperti Salomo (ayat 27): Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini". Hal ini sedikitnya mengingatkan kita akan dua pengakuan: Pertama : pengakuan yang sungguh bahwa sebagus apapun gereja yang didirikan manusia, dia mesti tetap sadar bahwa manusia tidak berkuasa mengklaim atau mengikat Tuhan untuk tinggal di sana. Allah maha hadir di mana-mana, dan tidak akan pernah terikat di manapun. Segala bangunan yang diperbuat oleh manusia tidak dapat mengatur apalagi menentukan bahwa Allah selamanya hadir di sana (bnd. Kisah 7:48-50; 17:24). Kedua : pengakuan secara sadar bahwa karya semonumental apapun yang kita bangun, hal itu tidak boleh membuat kita membesarkan diri, lalu mengecilkan nama Tuhan. Karya apapun, tidak dapat menggeser pujian kepada Allah menjadi pujian kepada diri sendiri. Allah benar-benar tidak terikat kepada manusia, karya atau bangunannya. Sekuat apapun kuasa yang dimiliki manusia, hal itu tidak akan pernah dapat mengikat Allah akan kehendaknya. Allah itu immanen, namun juga transenden. Setiap orang, siapapun dia, haruslah melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, namun senantiasa dalam bingkai kerendah-hatian. Gereja adalah tanda Kehadiran Allah sekaligus sebagai Kesaksian di dunia ini. Gereja tetap harus kita bangun dan rawat dengan indah, bersih, dan damai. Gereja merupakan simbol persekutuan kita sebagai umat Allah, yang sejatinya memproduksi nilai lebih dan nilai tambah secara kualitatif dibanding dengan masyarakat umum (bnd. Ibrani 10:24-25). Maka, tetaplah setia mendoakan dan merawat Rumah Tuhan, yang bukan semata-mata berorientasi kepada keselamatan bangunan, tetapi senantiasa dibaharui dan memperbaharui untuk meneruskan pegogika pewarisan iman. Amin ! (Penulis : Praeses HKBP Distrik XXVII Kaltim-Sel/ r)