Gereja, Ibadah dan Lingkungan Hidup

* Oleh: Pdt Banner Siburian, MTh
- Minggu, 05 Juni 2016 16:10 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2016/06/hariansib_Gereja--Ibadah-dan-Lingkungan-Hidup.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Tanggal 5 Juni setiap tahun adalah Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Bukan untuk diperingati secara seremonial, tetapi untuk dimaknai dan diisi dengan aksi-aksi ekologis yang menghidupkan oleh setiap insan penghuni bumi ini, tak terkecuali gereja. Hari ini, menjadi momentum penting bagi gereja untuk mengasah tajam suara nabiahnya, komitmen serta aksi nyata berkelanjutan guna merawat bumi.Ini cerita kutipan Paul Knitter tentang kehidupan dinosaurus. Konon, sebuah bumi dihuni oleh dinosaurus dan seorang manusia serba bisa nan rakus. Di kala dunia sejuk indah menawan, sang dinosaurus tidur nyenyak.Namun, manusia itu tidak puas dengan dunia yang dia diami. Dia ingin mencari planet lain. Maka pohon-pohon ditebangnya hingga gundul. Binatang-binatang dibunuh guna mengambil tulang-tulangnya. Perut bumi digali untuk menyedot minyaknya. Semua bahan itu dia design untuk sebuah pesawat. Dia pun terbang menjelajahi ruang angkasa mencari planet lain.Setelah terbang jauh, dia melihat ada planet lain. Namun dia kecewa. Planet itu lebih buruk dari planet yang dia tinggalkan. Dia terus menjelajah. Tetapi tak satu pun ditemukan planet yang lebih baik. Suatu saat dia melihat planet yang indah. Di situ terdapat hamparan rumput nan menghijau. Sungai mengalir jernih nan bening. Burung-burung berkicau ria. Anak-anak kelinci bermain senang. Gumamnya di hati: "Aku harus memiliki planet impian ini".Dia pun turun dari pesawatnya. Namun sebelum menginjak tanah, seekor dinosaurus segera menghadangnya. Bumi itulah yang dahulu dirusak dan ditinggalkannya. Lalu, dinosaurus memperbaikinya. Dinosaurus berkata: "Anda tidak boleh turun di sini". Manusia itu mengemis: "Tolonglah dinosaurus, beri aku tempat tinggal". "Tidak boleh", sergah Dinosaurus sambil bertahan tidak memperbolehkan manusia itu turun. Manusia itu menyesal. Katanya: "Maafkan aku saudaraku. Aku telah bersalah merusak alam kita, tetapi aku berjanji tidak akan merusaknya lagi". Melihat itu, dinosaurus berkata: "Kalau begitu, turunlah, sebab ini bukan punyaku dan juga bukan milikmu. Ini adalah milik Tuhan yang dititipkan kepada kita serta anak-cucu kita kelak". Memelihara BumiBumi yang satu yang kita huni ini adalah rumah kita seluruh manusia bersama segala makhluk. Manusia sering kali melupakannya bahkan merasa dirinya sebagai penguasa tunggal. Bumi ini dipercayakan Tuhan kepada manusia untuk kita kelola dan pelihara (Kej 2:15).Kata Ibrani untuk tugas mengusahakan dan memelihara adalah avad dan syamar. Tanggungjawab itu menjadi ibadah operasional dari manusia dalam konteks melayani dan mengabdi, yakni menjadi "pengusaha" dan pemelihara bumi (bnd. Matius 25:14-30). Tuhan memberi manusia kuasa untuk ciptaan lain, baik ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara (Kejadian 1:26). "Berkuasa" (Ibrani: radah), telah disalahtafsirkan banyak orang, sehingga telah membelokkan maksud sejati dari Allah. Padahal kata "radah", justru mengacu kepada karakter perawatan dan pemeliharaan; bukan kerakusan mengeksploitasi.Manusia tidak pernah diberi kuasa dalam rangka memiliki sebagai warisan atau hak milik menetap (Kej 1:29; Mzm 24:1-2; Im 25:1-7). Tuhan tidak pernah memberi izin bagi Israel memasuki tanah Kanaan yang subur dalam rangka eksploitasi. Tanah perjanjian tetaplah milik Tuhan. Maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk tidak mengelola alam dan tanah demi kesejahteraan umat sepanjang zaman. Kerakusan, gegabah dan keserakahan harus dihentikan (Ams 30:15-16).Manusia harus sadar tentang siapa dirinya di hadapan Allah. Dia adalah adamah, artinya sehakekat dan berasal dari tanah (bumi). Itu artinya, manusia tidak mungkin bisa hidup tanpa bumi yang memberikan makanan dan minuman serta sumber daya alam lainnya untuk dipakai demi kemuliaan Tuhan serta demi kemaslahatan umat manusia sepanjang zaman.Kepekaan EkologisAlam ciptaan erat kaitannya dengan oikumene. Alam adalah satu oikos (rumah) bagi semua. Semua kita wajib memelihara dan merawat bumi (Kej 1:26-31), sambil terus mengasah kepekaan ekologis kita, sebab terhisab dalam satu oikos, siapapun dia, apapun agamanya dan apapun pekerjaan dia. Itu juga merupakan konsekuensi teologis manusia sebagai Imago Dei.Missi ekologi dimulai dari pengakuan secara sadar akan keberadaan kita dalam satu oikos. Cara pandang gereja atas bumi memengaruhi manusia untuk memelihara atau merusak lingkungan. Paradigma lama membuka jalan dan peluang bagi manusia untuk mengeksploitasi bumi demi kepentingan sekelompok orang, sehingga oikos semakin menderita sakit.  Gereja yang menyembuhkan, menatalayani segenap ciptaan dalam terang Injil. Ulat dan cacing pun ada dalam misi Allah di bumi ini, demi kelestarian lingkungan hidup dan kegemburan tanah untuk berproduksi (Yes 41:15-16). Ibadah yang operasional komit memulihkan kesehatan lingkungan secara khusus dan planet bumi secara umum, yang semuanya ada dalam arak-arakan misi Allah di dunia ini. Bumi bukan sekedar panggung sandiwara manusia, tetapi panggung kemuliaan bagi Tuhan semesta alam.Pada hari lingkungan hidup sedunia hari ini, kiranya gereja yang menyembuhkan terus menerus menggemakan suara nabiahnya untuk merawat bumi dan lingkungan hidup. Marilah setia menata dan memelihara kelestarian lingkungan hidup, sebagai cermin hidup beribadah kita. Penatalayanan alam dan lingkungan hidup yang baik, menjadi salah satu alat ukur akan kualitas iman dan kematangan hidup bergereja kita. (Penulis: Praeses HKBP di Kaltimsel-Kaltara/h)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Satlantas Polres Tanjungbalai Sosialisasikan Ops Keselamatan Toba 2026

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat