RENUNGAN

Mendahulukan Tuhan sebagai Tradisi

(Markus 7:1-8) Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
Redaksi - Minggu, 16 Februari 2020 20:27 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_7010_Mendahulukan-Tuhan-sebagai-Tradisi.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172

Dalam nats renungan Markus 7:1-23 ini melukiskan orang Farisi dan ahli Taurat sebagai orang yang memegang teguh adat-istiadat Yahudi sebagai tradisi bahkan hampir saja menempatkan adat istiadat tersebut setara dengan Hukum Taurat Musa. Adat istiadat ini sebenarnya tidak ada di dalam kitab Taurat, tetapi merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka. Kebanyakan tradisi malah kelihatan mengurusi hal-hal yang sebenarnya tidak penting, seperti yang disebutkan dalam bacaan kita kali ini, antara lain membasuh tangan sebelum makan, membersihkan diri sepulang dari pasar, mencuci cawan, kendi, dan perkakas-perkakas tembaga.

Bila kita analisa istiadat tersebut masuk akal juga. Bukankah memang sebaiknya makan dengan membasuh tangan terlebih dahulu supaya tidak ada kuman di tangan kita yang ikut masuk ke tubuh bersama makanan? Bukankah pasar juga kotor dan banyak debu dan kotoran sehingga sebaiknya membersihkan diri setelah pulang dari pasar sebelum makan? Bukankah cawan, kendi, dan lain sebagainya memang harus dicuci agar bersih?

Pada satu sisi ada benarnya pendapat orang Farisi dan Ahli Taurat tersebut namun menjadi persoalan ketika menempatkan adat-istiadat sebagai tradisi seperti itu menjadi setara dengan ajaran Yesus bahkan mendahulukan adat-istiadat (tradisi) sebagai ajaran pokok melebihi ajaran Firman Tuhan. Inilah yang dikritik Yesus agar mereka tidak disesatkan oleh ajaran nenek moyang mereka, jangan menempatkan adat-istiadat melebihi ajaran dan nilai Firman Tuhan.

Oleh karena itu Yesus dengan tegas mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang munafik. Mereka lebih mementingkan adat-istiadat, tradisi nenek moyang ketimbang mendengarkan dan mendahulukan ajaran Yesus. Ketika Yesus mengajar (yang merupakan ajaran Allah sendiri), mereka tidak mau mendengar dan berpendapat bahwa ajaran mereka adalah yang paling benar. Tetapi terhadap adat istiadat yang tidak jelas sumbernya (karena bersifat turun temurun dan merupakan ajaran dari manusia), mereka mau melaksanakannya secara murni dan konsekuen. Itulah yang Yesus benci dari sikap orang Farisi. Mereka bersikap munafik karena mereka mau bersusah payah melaksanakan adat, tetapi mereka tidak mau mendengarkan kebenaran Firman Tuhan (ayat. 6 s.d. 8).

Orang-orang Yahudi sangat meninggikan tradisi (menunjuk pada sekumpulan perintah dan ajaran tidak tertulis para rabi yang terkenal pada masa lalu, kumpulan 613 peraturan sebagai pedoman bagi setiap aspek kehidupan). Tradisi ini mereka campur-adukkan dengan ibadah. Mereka sudah tidak dapat membedakan antara ajaran manusia dengan adat istiadat yang berotoritas ilahi.

Sebenarnya, ada motif terselubung di balik kedatangan mereka untuk menemui Yesus di Yerusalem. Mereka datang untuk mencari kesalahan Yesus. Karena itu Yesus secara keras menegur mereka. Demi kemunafikan, mereka rela mengabaikan perintah Allah, anehnya orang Yahudi juga kerap kali mengabaikan pemeliharaan terhadap orangtua. Mereka berpikir kalau sudah mempersembahkan kurban kepada Allah, maka tidak perlu memerhatikan orangtuanya (9-13). Mereka menggantikan kemurnian moral dengan hal-hal seremonial. Yesus menjelaskan bahwa makanan yang masuk dari luar tidak mencemari hati. Kenajisan sesungguhnya terdapat di hati yang dikeluarkan melalui perkataan dan tindakan jahat.

Tuhan tahu kejahatan yang ada dalam hati seseorang, meski ditutupi dengan sikap atau perkataan baik. Seseorang bisa terlihat benar dari luar, tetapi hatinya belum tentu mengasihi Allah. Tradisi dan adat istiadat tidak salah seluruhnya. Tetapi kebenaran TUHAN jauh melampaui tradisi dan adat istiadat manusia. Adat istiadat dan tradisi seharusnya didasarkan pada Firman Allah.

Dalam situasi ini, Yesus dengan tegas mengkritik kesalahan perilaku mereka bahwa secara lahiriah mereka terlihat seakan-akan adalah seorang yang suci, yang taat kepada Tuhan, namun kenyataannya mereka lebih berpegang kepada adat istiadat manusia ketimbang mematuhi perintah Tuhan. Jika kita memahami nas ini, bahwa memang kemarahan Yesus atas sikap orang Farisi dan ahli taurat yang mencoba mendakwa dan mempersalahkan Yesus dan murid-muridNya karena tidak tunduk kepada adat istiadat manusia, tetapi Yesus justru mengecam mereka yang lebih mengutamakan adat istiadat dan mengesampingkan perintah Allah. Bahwa dalam menjalani hukum taurat, orang Yahudi hanya menggunakan aturan-aturan rabi sebagai acuan dan pola hidup beragama mereka dengan mengaburkan perintah Tuhan yang sesungguhnya.

Hal ini menjadi peringatan dan pengajaran bagi kita. Dalam kehidupan kita selaku orang Kristen yang percaya kepada Tuhan Yesus, bahwa kita juga pasti bersinggungan dengan orang yang ada di sekitar kita, karena memang kita adalah mahluk sosial. Selain dari perintah Tuhan yang mengatur kehidupan kita, pasti akan ada aturan-aturan sosial yang lain yang akan mengatur interaksi kita, baik adat istiadat, aturan organisasi, aturan Negara.

Melalui nats ini patut kita renungkan, bahwa Tuhan tidak bermaksud meniadakan adat-istiadat dan tradisi nenek moyang namun janganlah menempatkan tradisi manusia setara dengan ajaran Yesus. Janganlah kita mengesampingkan perintah Tuhan demi otoritas adat-istiadat yang semu. Maka jika ada aturan-aturan manusia yang berhubungan dengan kita yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, maka kita harus kritis untuk memperbaikinya. Tuhan tidak menghendaki seseorang yang kelihatannya melakukan perintah Tuhan, namun dalam kenyataannya aturan dan kehendak manusia yang lebih dominan. Amin! (d)

Berita Terkait

Agama Kristen

Polresta Deliserdang Gagalkan Peredaran 21 Kg Lebih Sabu, 2 Kurir Ditangkap

Agama Kristen

Beraksi di Lampung, 3 Perampok Bersenpi Diringkus Tim Gabungan di Batubara

Agama Kristen

Ramadan Bawa Berkah, Jajanan Pinggir Jalan Diserbu Pembeli

Agama Kristen

Respon cepat, Polres Tanjungbalai Gerak Cepat Salurkan Bantuan Kepada Lansia

Agama Kristen

Sekdakab Tapteng Imbau Masyarakat Waspada Penipuan Mengatasnamakannya

Agama Kristen

Pedagang di Tapteng Sebut Harga Komoditas Belum Stabil