Setelah terbang selama dua puluh menit dalam penerbangan dari New York ke San Antonio, penerbangan yang semula tenang mendadak berubah menjadi panik. Ketika salah satu mesin pesawat mati, serpihan-serpihan mesin menghantam jendela pesawat hingga menyebabkan kabin kehilangan tekanan udara. Yang menyedihkan, sejumlah penumpang terluka dan satu orang meninggal dunia.
Jika bukan karena pembawaan pilot yang cakap dan tenang dalam mengendalikan pesawat-seorang penerbang pesawat tempur untuk Angkatan Laut-keadaan mungkin akan berakhir lebih buruk. Tajuk utama surat kabar lokal pun menulis: "Dalam Tangan yang Luar Biasa."
Sejarah telah menunjukkan bahwa apa pun usaha manusia untuk menciptakan sesuatu yang dapat memberi perlindungan dan keamanan sesungguhnya pasti gagal tanpa Tuhan.
Kapal Titanic dirancang sebagai kapal pesiar yang modern dan mewah, tetapi yang pertama kapal itu hancur ketika menabrak gunung es dan akhirnya tenggelam.
Istana di Edinburgh, Skotlandia, dibangun untuk memberikan rasa aman bagi warganya terhadap para penyerbu. Namun akhirnya, tempat perlindungan yang sulit ditembus itu pun jatuh ke tangan musuh.
Apapun usaha manusia, bahkan yang terbaik sekalipun, untuk menyelesaikan persoalan hidup atau untuk memberi rasa aman dan perlindungan, sesungguhnya tidak akan berhasil sebab tidak ada tempat berlindung yang abadi selain Tuhan.
Setiap negara pastilah mempunyai aparat, seperti polisi, tentara, angkatan laut, dan angkatan udara, akan tetapi gangguan keamanan terus saja semakin meningkat. Lihatlah penyelundupan Narkoba lewat jalur laut masih saja terus lancar meski selalu tertangkap aparat keamanan begitu sampai di daratan. Dewasa ini kejahatan di tengah masyarakat masih saja merajalela seperti, perampokan, begal, pencurian, pembunuhan. Semua ini menggambarkan bahwa manusia masih dihantui gangguan ketentraman hidup.
Mazmur 31 sebagai nats renungan kita pada Minggu ini adalah Doa dari Daud yang menggambarkan jeritan hati, ratapan dan keluhan yang diungkapkan Daud selaku Pemazmur. Rupanya ada saat di mana ia merasa seakan-akan Tuhan telah melupakannya (ay. 23). Tetapi di samping itu, ia juga memiliki keyakinan (ay. 1-9) bahwa Tuhan pasti menolong. Berulang kali Pemazmur berseru agar Tuhan melindunginya. Pemazmur menyatakan bahwasanya Tuhan semata sebagai tempat perlindungannya (ay. 2,3,5).
Dalam Mazmur ini, Daud mengungkapkan jeritan hati orang percaya yang menderita. Tetapi di dalam jeritan tidak semata-mata berisi keluhan dan ratapan tetapi juga berisi ungkapan kepercayaan; ada keyakinan iman. Doa ini menyatakan bahwa pada saat kesukaran Tuhan adalah gunung batu.
Gunung batu merupakan tempat orang berpijak dan tempat berlindung untuk mendapatkan keselamatan dari serangan musuh maupun ketika terjadi badai. Tuhan menjadi tempat perlindungan dalam tantangan ketika para musuh yang menyerang Pemazmur.
Keyakinannya kepada Allah sebagai tempat perlindungan tidak membuat ia lengah, tetapi ia tetap mencari kehendak Tuhan dan hidup di dalam Tuhan. Allah menjadi gunung batu dan tempat perlindungan yang membuat Pemazmur tetap berharap dalam situasi tanpa harapan.
Pada minggu ini kita memasuki Minggu Estomihi. Estomihi berasal dari kata Latin EstoMihi = 'Jadilah bagiku' (Mazmur 31:3b). Minggu Estomihi menunjuk pada titik peralihan, dari perjalanan Yesus di Galilea kepada perjalanan-Nya ke Yerusalem yakni perjalanan menuju salib yang akan direnungkan sepanjang tujuh minggu ini.
Perjalanan Yesus menuju salib adalah melindungi, menyelamatkan dan membebaskan umat manusia. Karena itu kita memohon agar Yesus menjadi perlindungan kita. Ia adalah Gunung batu dan tempat berlindung yang teguh. Manusia tidak dapat bebas dan lepas dari belenggu dosa. Hanya 'Dia yang menuju ke salib' saja yang dapat melakukannya. Sepanjang jalan menuju salib, Yesus dihujat, dihina, dipukul, dicambuk, diludahi bahkan Ia tergantung di salib, namun penderitaan kitalah yang Dia pikul. Dari salib Kristus, ada pengharapan dan pembebasan bagi saya dan saudara.
Dalam setiap pergumulan, jadikanlah Yesus sebagai Gunung batu dan tempat perlindungan. Pada Yesus kita akan tentram dan aman.
Aman bukan sekadar tidak ada musuh atau bencana atau masalah yang menghadang hidup orang percaya. Aman di dalam Tuhan adalah kondisi batin yang sungguh-sungguh mengalami kehadiran Tuhan dan meyakini bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi di luar sepengetahuan, kendali, dan kasih Tuhan. Aman di dalam Tuhan berarti semakin memercayai pemeliharaan Tuhan walaupun situasi dan kondisi di sekeliling kita tidak kondusif.
Aman dalam perlindungan Tuhan selaku Gunung batu akan menjadikan kita tetap kuat meskipun mengalami jatuh bangun kehidupan. Tetap percaya meskipun sulit, tetap berharap walau keadaan tidak lagi memberi harapan. Di tiap keadaan, tiap waktu dan tempat Yesus yang menderita sengsara dan mati sebagai Gunung batu dan tempat perlindungan yang teguh. Amin! (c)