Gereja Peduli

Oleh: Pdt Dr Pahala J Simanjuntak
Redaksi - Minggu, 23 Februari 2020 20:39 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_5326_Gereja-Peduli.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Foto: SIB/Dok
Pdt Dr Pahala J Simanjuntak

Gereja sering menjadi sasaran pertanyaan ketika persoalan terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan dituduh tidak berpartisifasi. Berbagai pertanyaan yang dilontarkan antara lain, dimanakah gereja dan mengapa gereja tidak hadir? Apa tanggungjawab gereja terhadap kami? Serta berbagai pertanyaan lainnya yang dialamatkan kepada gereja. Bahkan ada kalanya persoalan jemaat menjadi bahan cemoohan bagi jemaat lainnya. Padahal sebagai warga jemaat sekaligus menjadi anggota masyarakat, mereka berhak mendapat perlindungan dari gereja.

Mereka menganggap gereja sebagai organisasi kerohanian yang dapat membantu mereka dalam menghadapi persoalan. Tetapi tudingan terhadap gereja yang tidak hadir dalam penderitaan umat, tentu keliru dan tidak beralasan. Gereja tidak pernah absen dalam setiap penderitaan umat-Nya. Gereja selalu peduli terhadap setiap pergumulan anggotanya. Hanya perlu maksimal dan ditingkatkan dengan berbagai program dan aksi kepedulian.

Bukan Hanya Untuk Dirinya.

Gereja melayani bukan hanya untuk dirinya, misalnya ketika banjir bandang terjadi, longsor, angin puting beliung, kebakaran, gempa bumi dan kasus lainnya gereja selalu hadir pertama sekali. Dengan mengunjungi mereka secara langsung untuk memberikan dan penghiburan kepada mereka. Sebahagian orang menganggap hal itu merupakan satu langkah yang paling cepat, tepat dan berguna. Tetapi sebahagian orang mengatakan hal itu tidak cukup.

Mereka mengharapkan lebih dari sekedar pastoral, doa dan mengunjungi mereka. Itu sebabnya gereja memberikan bantuan walau hanya dalam jumlah yang terbatas. Upaya lain tentunya dengan mengajak warga jemaat untuk meringankan beban para korban melalui pengumpulan dana baik dari perorangan maupun dari kas gereja itu sendiri. Bagi gereja-gereja besar telah membentuk badan atau yayasan tertentu untuk menangani setiap persoalan kemanusiaan dan pemeliharaan ciptaan. Misalnya Badan Tanggap Bencana (TABE) yang dimiliki oleh gereja HKBP sebagai perpanjangan tangan kantor pusat untuk mewujudkan kepedulian gereja bagi warga dan masyarakat yang mengalami musibah.

Artinya tindakan gereja seperti itu harus dilihat sebagai kepedulian gereja kepada warga masyarakat, bukan saja anggota gereja tetapi di luar anggota gereja. Belajar dari pengalaman musibah tsunami 2004 di Aceh dan beberapa musibah yang terjadi tanpa diduga yang mengakibatkan kematian manusia dan kerugian yang sangat besar. Itulah sebab kehadiran gereja untuk memperhatikan dunia di sekitarnya ketika menghadapi berbagai persoalan. Gereja bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi ikut melayani di luar dirinya sebagai salah satu dari tugas panggilannya yakni Diakonia (Yunani, diakonia, diakonos artinya melayani atau pelayanan).

Namun kepedulian gereja tidak harus dilihat dari bentuk sumbangan dan pemberian dana bagi para warganya. Tetapi dukungan moral dan spiritual yang disampaikan kepada warga jemaat juga merupakan wujud kepedulian gereja. Misalnya dua minggu yang lalu terjadi aksi damai yang dilakukan oleh sebahagian masyarakat Sumatera Utara bertempat di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara di Medan. Aksi damai ini diikuti oleh ribuan masyarakat yang datang dari lapisan masyarakat bawah.

Aksi damai ini merupakan aksi damai yang paling aman di seluruh dunia, dari awal hingga berakhir tidak terjadi kerusuhan dan pertikaian. Mereka menyampaikan suara hati kepada pemerintah terkait penyakit ternak (babi) yang enam bulan terakhir ini menjadi sorotan publik. Akibatnya terjadi pro dan kontra di antara masyarakat yang diakibatkan penyakit ternak ini.

Memang harus diakui bahwa akibat yang ditimbulkan penyakit ternak ini sangat banyak. Komsumsi lauk dari daging babi menjadi berkurang baik di rumah-rumah makan juga pesta-pesta adat (baca Batak Kristen) yang selama ini dipergunakan oleh masyarakat tertentu. Masalah lain terjadi kepada para peternak babi yang selama ini bekerja sebagai pemelihara ternak ini dan memperoleh penghasilan yang menjanjikan untuk kelangsungan hidup dan membiayai sekolah anak-anaknya, kini menjadi merosot bahkan hancur. Pokoknya setelah isu penyakit ternak ini semakin melebar maka sangat berdampak kepada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Di antara masyarakat pedagang daging, pengelola restoran dan pemelihara ternak ini menjadi terancam. Ditambah dengan beredarnya isu pemusnahan ternak babi di Sumatera Utara yang memicu keresahan di tengah-tengah masyarakat sendiri. Maka melalui aksi damai ini masyarakat perlu memperoleh kepastian dan jaminan terkait dengan perlindungan terhadap pemelihara ternak ini. Kepada para wakil rakyat dan pemerintah diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang terbaik dalam menjawab pergumulan masyarakat bukan hanya di Sumatera Utara terkait penyakit yang melanda ternak babi di Indonesia.

Suara Kenabian

Kosuke Koyama (1929-2009) adalah seorang teolog asal Jepang yang merancang teologi rakyat dengan kontekstualisasi Injil di tengah-tengah gereja dan masyarakat yang mengalami pergumulan. Dari upaya berteologinya dia menghasilkan sebuah karya teologi Water Buffalo (Teologia Kerbau) yang mewarnai teologia di Asia. Menurutnya gereja harus bersuara, menyampaikan suara kenabian dalam setiap penderitaan yang terjadi di masyarakat namun harus disampaikan dengan bahasa santun, etis dan kasih.

Keberhasilan aksi damai sebagaimana disebutkan di atas merupakan salah satu kepedulian gereja terhadap warganya dalam memahami diakonia gereja. Hal itu dapat dilihat: Pertama, sebahagian para peserta aksi damai adalah para kaum ibu, kaum perempuan dan kaum laki-laki yang menjadi warga gereja sekaligus menjadi perkumpulan (punguan) koor.

Kedua, peserta aksi damai juga berasal dari para majelis yang sekaligus menjadi pemimpin di sebuah gereja kecil. Ketiga, di beberapa gereja di pinggiran kota Medan telah membacakan surat resmi yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga di luar gereja yang peduli terhadap penderitaan masyarakat. Maka melalui warta jemaat tersebut gereja mengajak para warga untuk ikut bersama-sama dalam mensukseskan aksi damai dengan menjaga keamanan dan ketertiban.

Namun selain itu gereja juga harus banyak melakukan upaya-upaya mewujudkan kepedulian terhadap warganya. Terkait dengan persoalan ini ada banyak yang dapat dilakukan oleh gereja. Misalnya melalui penyuluhan-penyuluhan terhadap masyarakat seputar permasalahan yang dihadapi termasuk penyediaan vaksin mencegah penyakit tersebut serta penularannya.

Mengundang para ahli yang tepat pada bidangnya dalam mencari jalan keluar. Gereja juga menjembatani pertemuan-pertemuan dengan pemerintah untuk mencari jalan keluar. Misalnya menyediakan lahan khusus untuk peternakan ini supaya tertib tanpa harus memusnahkan ternaknya.

Yang lebih penting, gereja juga harus berani menyuarakan kepada masyarakat pemelihara ternak agar tetap memperhitungkan lokasi dan letak geografis dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar termasuk pembuangan limbah kotoran ternak di sembarangan tempat.

Perlu dicatat bahwa dalam melakukan kepeduliaanya gereja tidaklah sama dengan dunia. Gereja tidak dapat menghalalkan segala cara dalam melaksanakan kepeduliannya. Harus di dalam kasih, kaidah, norma dan tidak menyalahi Undang-Undang yang berlaku. Itu yang disampaikan rasul Paulus kepada jemaat Roma: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu" (Rom 12:2).

Reformator gereja yang terkenal itu baik Martin Luther maupun Yohanes Calvin tidak menyetujui jika gereja melaksanakan aksi kepeduliannya dengan cara-cara yang tidak benar. Mereka menyuarakan agar gereja tetap melakukan cara-cara yang tepat dalam berdiakonia: "Let the churh be the church, biarkan gereja tetap gereja. Maksudnya adalah apa yang dilakukan gereja tidak sama dengan dunia ini. Tidak menggunakan cara-cara yang jahat, kekerasan dan kriminal. Gereja tetap dalam melakukan aksinya dengan kasih dan damai.

Kembali kepada pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kepada gereja di atas. Tahukah kita bahwa sasaran pertanyaan itu bukan hanya gereja secara institusi? Tetapi gereja yang dimaksud adalah setiap orang Kristen merupakan gereja secara rohani. Sehingga masing-masing boleh berperan serta dalam pergerakan kepedulian gereja. Jadi bukan hanya para pemimpin dan majelis gereja yang ada di dalamnya. Warga jemaat sebagai bahagian dari diri gereja yang terpanggil untuk ikut melakukan kepedulian kepada masyarakat.

Mempedomani ajaran Yesus Kristus

Kepedulian gereja terhadap warga dan masyarakat lahir dari ajaran Yesus yang dicatat oleh Injil. Misalnya dalam kitab Injil Matius dituliskan dalam sebuah perumpamaan dimana seorang Raja yang berkata kepada orang banyak: "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus kamu memberi Aku minum, ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan, ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian, ketika Aku sakit, kamu melawat Aku, ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku (Mat. 25:34-36).

Itulah ajaran Yesus kepada setiap orang Kristen untuk menjadi pedoman dalam melakukan kepedulian kepada sesama. Lalu Raja itu menyimpulkan: "Aku berkata kepadaMu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat. 25: 40). (c)

Berita Terkait

Agama Kristen

Ramadan Bawa Berkah, Jajanan Pinggir Jalan Diserbu Pembeli

Agama Kristen

Respon cepat, Polres Tanjungbalai Gerak Cepat Salurkan Bantuan Kepada Lansia

Agama Kristen

Sekdakab Tapteng Imbau Masyarakat Waspada Penipuan Mengatasnamakannya

Agama Kristen

Pedagang di Tapteng Sebut Harga Komoditas Belum Stabil

Agama Kristen

Kinerja 100 Hari, Polrestabes Medan Ringkus 718 Tersangka Narkoba. Sita 156 Kg Sabu

Agama Kristen

Polda Sumut Intensifkan Patroli Subuh Selama Ramadhan