RENUNGAN

Menjadi Pemimpin yang Tulus dan Melayani

(Yak.4:1-10; Mrk. 9:30-37)
Redaksi - Minggu, 27 September 2020 11:46 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/09/_4329_Menjadi-Pemimpin-yang-Tulus-dan-Melayani.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Foto Dok
Pastor Masro Situmorang OFMCap

Saudara-saudari yang dikasih Tuhan. Nietzche, seorang filsuf ateis pernah mengatakan bahwa "salah satu penggerak hidup manusia adalah keinginan untuk berkuasa". Menurut Nietzche, dalam diri setiap orang terdapat keinginan untuk menjadi orang besar dan terpandang, mempunyai posisi dan kedudukan yang tinggi, disegani, diperhitungkan, dihargai dan dihormati.Pada hakekatnya, ambisi ini tidak salah, karena setiap orang berhak untuk menjadikan dirinya terpandang dan dihormati. Yang menjadi masalah adalah apabila kuasa itu disalah gunakan untuk menunjukkan otoritas diri, memperkaya diri dan untuk menindas orang lain.

Fakta yang terjadi dalam kehidupan kita sekarang ini adalah bahwa kuasa itu sering digunakan sebagai kekuatan untuk menunjukkan kebebasan dan otoritas diri. Karena itu, banyak orang berambisi tinggi untuk mendapatkannya dengan menghalalkan berbagai cara sehingga menimbulkan persaingan yang kerap menjadi ajang pertarungan yang tidak sehat. Oleh karena itu, manusia saling menyingkirkan dan menganggap orang lain sebagai musuh dan saingan yang harusditumbangkan. Demi ambisi untuk berkuasa, manusia saling menyikut dan saling menyudutkan untuk mendapat posisi dan kedudukan.Ambisi negatif inilah yang sering terjadi dalam dunia perpolitikan kita sekarang ini, sehingga sulit dimengerti apa tujuan, cita-cita dan harapannya.

Saudara-saudari yg dikasihi Tuhan, ambisi untuk mencari kekuasaan sering membuat seseorang menjadi sombong, angkuh dan kurang bermoral. Kesombongan dan keangkuhan itu kerap kali membuat seseorang jatuh dalam dosa. Dan, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, kuasa cinta kasih akan dikalahkan oleh kehausan akan kuasa, persaingan yang tidak sehat, kecemburuan dan menganggap orang lain sebagai saingan yang harus ditundukkan. Maka, manusia akan melihat orang lain sebagai serigala yang mengancam, Homo homini lupus, seperti yang dikemukakan oleh Thomas Hobbes. Inilah perilaku yang memicu kemalangan dan kehancuran dalam kehidupan sosial. Dalam Surat Yakobus dikatakan: "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh. Kamu iri hati, lalu kamu bertengkar dan berkelahi."Apa yang dikatakan oleh surat Yakobus ini adalah suatu kebenaran nyata yang telah merusak kehidupan manusia karena hawa nafsu dan ambisi yang tak pernah dapat dipuaskan. Karena nafsu dan ambisi untuk berkuasa, manusia sering menunjukkan perilaku yang kurang manusiawi. Maka, wejangan dalam surat Yakobus ini, menjadi ajakan untuk semua orang agar tetap bersikap rendah hati dan takut akan Allah dalam mencari dan menjalankan kekuasaan. Kerendahan hati harus menjadi dasar dalam menjalankan suatu kuasa yang dipercayakan. Dengan demikian, kekuasaan yang kita miliki harus senantiasa kita dasarkan pada spiritualitas pelayanan Kristus yang datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani.

Saudara-saudari yang dikasihiTuhan, kita tidak salah jika tergiur dengan pangkat, kuasa, kedudukan dan kehormatan. Namun cara dan tujuannya haruslah benar. Dalam Injil Markus 9:30-37, cara dan tujuan yang benar itu telah disampaikan Yesus kepada para murid-Nya. Ketika para murid berdebat tentang siapa diantara mereka yang terbesar dan akan menjadi pemimpin, Yesus justru mengambil seorang anak kecil dan meletakkannya ditengah murid-murid-Nya. Melalui cara ini, Yesus hendak mengatakan bahwa menjadi pemimpin (penguasa) harus mampu merendahkan dirinya dan mampu bersikap seperti anak kecil yang polos dan jujur, melayani orang-orang kecil dan miskin, membela hak azasi orang lain dan mampu menunjukkan totalitas pelayanan yang tulus.

Yesus juga menasihatkan bahwa menjadi pemimpin harus mampu menunjukkan cara hidup yang baik dan benar serta menjunjung tinggi nilai kejujuran dan bukan memberikan janji-janji palsu. Menjadi pemimpin berarti mampu mendengarkan, menghargai dan menghormati orang lain.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Negara kita telah merencanakan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Kita berharap agar semua calon yang telah mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah, memiliki motivasi yang baik dan bukan untuk mengejar kekuasaan belaka. Oleh karena itu, sebagai calon pemimpin hendaklah mereka mampu mengikuti pesta demokrasi ini secara sehat, jujur dan profesional. Kita juga berharap, semoga motivasi para calon pemimpin kita tidak bertentangan dengan apa yang diharapkan Bangsa Indonesia. Tetapi hendaknya mereka hadir sebagai sosok yang membawa inspirasi untuk orang lain, seperti Yesus yang hadir membawa damai dan kehidupan. Jika sikap ini telah terpatri dalam hati para calon pemimpin kita, maka negara kita akan memperoleh kebangkitan baru.

Kita juga berharap, bahwa siapapun yang terpilih nanti, hendaknya mampu menerima dan menjalankan tugas itu sebagai tugas mulia yang harus dijalankan dengan jujur dan tulus sehingga mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Agar harapan ini mampu terwujud, maka para pemimpin kita harus menjadi pemimpin yang mampu merealisasikan janjinya dengan suatu tindakan nyata. Oleh karena itu, setiap pemimpin harus meneladani sikap pelayanan Yesus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Melalui sikap ini, alhasil, para pemimpin kita akan bisa menjadi sahabat bagi seluruh rakyat yang membawa inspirasi dan semangat baru. Tuhan Memberkati. Amin! (a)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Kejari Tanjungbalai Canangkan Zona Integritas Menuju WBK Dan WBBM

Agama Kristen

Polsek Marbau Intensifkan Patroli Dialogis Jaga Kamtibmas

Agama Kristen

Warga Urus Administrasi Membludak, Kadis Dukcapil Nias Maksimalkan Pelayanan Cepat

Agama Kristen

26 Personel Polres Tanjungbalai Naik Pangkat Awal 2026

Agama Kristen

Dinkes Dairi Sampaikan 4 Komitmen Pencanangan ZI WBK dan WBBM

Agama Kristen

Yayasan Jangan Jemu Berbuat Baik Jamu Siswa SLB C Karya Tulus Namu Pencawir di HUT Ompu Ode Boru