Pematangsiantar (SIB)
Memasuki usia 160 tahun pada tahun 2021 dan pelaksanaan Sinode Godang (SG) HKBP ke-65 yang direncanakan Desember 2020, hendaknya dijadikan menjadi momentum kebangkitan HKBP lebih maju lagi untuk menyalakan api reformasi termasuk pelayanan masyarakat. Untuk mencapainya, maka pucuk pimpinan HKBP mendatang harus berjiwa reformis.
Para pelayan diharapkan menyadari kembali gerakan Martin Luther, karena selama empat dekade terakhir berbagai permasalahan muncul termasuk konflik kepentingan antar pribadi, pengultusan jabatan di HKBP, urai Pdt Bernard TP Siagian, Selasa (24/11).
Untuk menuntun gerakan pencerahan di masa mendatang, katanya, dibutuhkan pemimpin dengan sosok berjiwa reformis, bukan orang dengan sikap kompromi menggunakan rasionalitas dan pertimbangan akal pikiran manusia tetapi justru kembali kepada amanah Alkitab.
Dikatakan, banyak gereja Protestan terkesan “dilumpuhkan†karena telah meninggalkan azas teologia reformasi, sehingga tanpa disadari berada dalam pergumulan sikap kompromistis dan dikuasai oleh roh zaman. Akibatnya, cahaya reformasi semakin redup karena meninggalkan dan melupakan kebenaran â€" kebenaran standar, sentral serta absolut dari Alkitab.
Sebagai salah seorang mahasiswa pertama pada saat perkuliahan di STT Nommensen Pematangsiantar sekitar tahun 1979, dia berpendapat bahwa di antara calon Ephorus pada SG HKBP ke â€" 65 nanti, Pdt Dr Robinson Butarbutar dikenalnya orang yang mempunyai komitmen yang baik dan jujur. Dia juga masih memiliki semangat reformasi, sehingga pantas didukung menjadi Ephorus membawa HKBP lebih baik ke depan. (BR4/c)