Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 10: 32)
"Kristen". Itulah jawaban tegas Listyo Sigit Prabowo ketika Presiden Joko Widodo menanyakan agamanya pada pelantikan dirinya sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia. "Saudara Komisaris Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, apakah saudara beragama Kristen? Apakah saudara bersedia saya ambil sumpah menurut agama Kristen?" tanya Presiden Joko Widodo yang kemudian dijawab oleh Listyo "Bersedia".
Sebuah pernyataan dan juga pengakuan iman di hadapan Presiden RI, disaksikan Wakil Presiden KH Maaruf Amin, para pejabat Negara serta jutaan pasang mata penonton televisi maupun media sosial lainnya. Dan dengan janji jabatan yang dinyatakan di atas Alkitab itulah, Listyo Sigit ditetapkan sebagai Kapolri. Itulah peristiwa istimewa dalam jajaran Kepolisian Republik Indonesia selain masa Jenderal Widodo Budidarmo yang beragama Kristen pada periode tahun 70-an.
Sejarah memang selalu mengagetkan. Jika peristiwa pengakuan iman Listyo Sigit Prabowo dilihat dari perspektif jemaat mula-mula, tentulah akan ada atau mungkin banyak orang meneteskan air mata keharuan. Sebab sejarah telah mewariskan catatan perjalanan iman jemaat mula-mula dengan tinta darah penderitaan. Dan dengan itulah setiap generasi gereja sepanjang masa membangun keyakinan imannya pada Yesus Kristus untuk menghadapi tantangan realitas berpijaknya.
Adalah kaisar Nero selain kaisar Roma lainya yang kejam seperti Kaisar Demitian dan Kaisar Adrian yang menjadi penggerak utama penganiayaan orang Kristen. Dengan nada menghina, para kaisar bengis itu mengintimidasi orang-orang Kristen di colossium, tempat berkumpul para petinggi raja untuk menikmati kekuasaan, lengkap dengan arena pertarungan para gladiator menghadapi singa buas.
"Apakah saudara beragama Kristen? apakah saudara percaya kepada Yesus?" Jika setiap orang mengaku dirinya sebagai "Kristen", maka kematian alamatnya. Tubuhnya menjadi lahapan singa-singa buas yang ditonton oleh Kaisar Nero dan para pejabat istana. Darah bercucuran membasahi colosseum seiring dengan tegukan anggur merah kenikmatan oleh para pejabat Roma.
Itulah cara-cara intimidatif guna memuaskan syahwat kekuasaan. Suatu tindakan daimonik untuk dapat terus mereguk nikmatnya kekuasaan destruktif. Sebuah lakon barbaric, demi memuaskan amarah, kebencian karena perbedaan agama. Semuanya dilakukan dengan rasa tidak bersalah tetapi menjadi sebuah kebanggan. Semakin kuat suara rintihan kesakitan orang Kristen semakin membara nafsu kebinatangan para eksekutor kaisar. Dan itu berlangsung selama lebih dari tiga abad sebagaimana dicatat dalam sejarah para martir.
Tetapi, rasa takjub, takut dan kagum pada Tuhan, sebuah rasa tremendum et fascinan sebagaimana terminology Rudolf Otto itulah yang benteng iman sehingga tidak menyurutkan gelora pekabaran Injil. Semakin dibabat semakin merambat, darah para martir menjadi darah pertumbuhan gereja. Keyakinan demikian bukan dimaknai secara ilusif tetapi diwujudkan dalam cara-cara kreatif dengan sebuah keyakinan akan janji penyertaan Tuhan ketika mengutus murid-murid-Nya sebagaimana dalam Matius 28. Itu sebabnya gereja-gereja di kemudian hari mengenal katakombe, sebuah ruang bawah tanah tempat berkumpul orang-orang beriman pada Yesus. Di sanalah orang-orang Kristen perdana menyemangati diri dan melakukan upaya kreatif menghadapi tantangan dalam harapan berkemenangan.
Sejarah juga mencatat upaya kreatif para tokoh gereja dengan karunia sebagai pemikir dan penulis. Sebuah upaya konstruktif kreatif guna menyadarkan kebengisan para kaisar bengis Roma. Sebuah pemaknaan dari tradisi iman yang diajarkan Yesus untuk melawan kekerasan tanpa kekerasan. Sebab dalam setiap keyakinan demikian, kuasa Roh Kudus bekerja dan menjadikan gereja tetap abadi sepanjang peradaban yang penuh dengan kegelapan. Dan perjuangan kreatif demikianlah membuat sejarah gereja dicatat dalam keberhasilan misi Kristen melalui penetapan Kaisar Konstantin dalam menghargai ajaran Kristen dalam kerajaan Roma.
Tentu saja, sebagai orang beriman, kita tidak memaknai jabatan yang diemban oleh Jenderal Listyo Sigit Prabowo adalah sesuatu yang jatuh dari langit. Sebab, dalam sejarah perjalanan hidupnya, justru keyakinan pada Yesus Kristus sebagai juruselamatnya, nilai itulah yang mendorong dia untuk melakukan tindakan, upaya-upaya kreatif, responsive dan bertanggungjawab sebagai kandungan makna Presisi yang digagasnya. Justru adanya tantangan berupa penolakan terhadapnya, membuat pria kelahiran 1969 ini melakukan ajaran-ajaran Yesus yaitu berdoa dan mengasihi orang yang membenci dirimu.
Komitmen iman itulah yang menjadikannya untuk bekerja keras menghadapi realitas Indonesia yang sedang dipengaruhi jiwa sectarian, roh kebencian perbedaan agama, suku. Upaya-upaya kreatif dan kerja keras, responsive dan bertanggungjawab itulah yang selalu dilakukan oleh mantan Kabareskrim Polri ini. Sebuah perjuangan panjang dan melelahkan yang memberi sebuah keyakinan kepada Joko Widodo sebagai seorang Walikota Solo dan sebagai Presiden Republik Indonesia.
Bagaimanapun juga, bukan hanya Diana Listyo sebagai isteri tercintanya yang bersukacita atas berkat tanggungjawab ini. Pada saat yang sama, pengalaman mempertahankan pengakuan iman Listyo Sigit juga menjadi motivasi, contoh bagi jemaat-jemaat Kristen dalam mengakui imannya. Sehingga dengan adanya etos hidup sebagai buah iman Kristen akan dapat mentransformasi kehidupan berbangsa. Itulah makna kehadiran orang-orang Kristen dalam realitas berpijak Indonesia sebagai perwujudan panggilan aksiomatif Yesus bagi orang Kristen sebagai garam dan terang dunia.
Dan pada saat yang sama, besarnya harapan Diana Listyo agar Kapolri baru dapat mewujudkan konsep Presisi (prediktif, responsibilitas, transparansi, berkeadilan) demikian juga harapan rakyat Indonesia. Bukan hanya gereja yang berharap pada Jenderal Listyo Sigit Prabowo agar mampu mengemban tanggung-jawab janji imannya tetapi juga oleh seluruh bangsa Indonesia. Justru dalam mewujudkan janji jabatan dengan pengakuan imannya sebagai orang Kristen itulah kita seluruh elemen bangsa mendukung, mendoakan Listyo Sigit.
Tetapi bagaimanapun juga, dia adalah manusia biasa dengan segala kelemahannya. Sadar akan hal itulah Jenderal kelahiran Ambon ini memohonkan adanya pengakuan Bapa di Sorga untuk menyertainya dalam kehidupan kini dan nanti. Itulah sebabnya dia memohonkan, sebagaimana diungkapnya pada akhir janji jabatannya,"Kiranya Tuhan menolong saya". (d)