Memaknai Thema SR XVI PGI di Nias: "Tuhan Mengangkat Kita dari Samudera Raya"

* Catatan : Ir Parluhutan Simarmata, Wakil I Pemimpin Redaksi SIB
- Minggu, 02 November 2014 19:12 WIB
Penentuan-  Kepulauan Nias, Sumatera Utara sebagai tempat pelaksanaan Sidang Raya XVI Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang akan berlangsung 11-17 November 2014 ini bukanlah secara kebetulan. Tetapi kita mengimani bahwa Roh Kudus turut bekerja menggerakkan hati para pengurus PGI maupun Sinode-sinode Gereja Anggota PGI menyepakati Kepulauan Nias sebagai tempat pelaksanaan sidang lima tahunan ini.Demikian halnya Thema SR XVI PGI Tahun 2014 yang sudah ditetapkan "Tuhan Mengangkat Kita dari Samudera Raya" (Mazmur 71:20b)  juga tidak terlepas dari gambaran kondisi gereja dan umat kristiani umumnya di Indonesia dan Nias khususnya yang letak geografisnya terletak dan menghadap lautan bebas di Samudera Hindia yang selalu merasakan goncangan iman tidak saja dari saudara-saudara yang tidak seiman, dan kurangnya pengayoman pemerintah bagi umat, maupun goncangan alam sebagaimana peristiwa tsunami serta gempa bumi yang sudah dan sering dirasakan saudara-saudara kita di kepulauan Nias.Hidup dalam goncangan tentu saja tidak menyenangkan bahkan ada kalanya mendatangkan duka yang dalam. Sebagaimana peristiwa tsunami tahun 2004 lalu yang meluluhlantakkan kehidupan sebagian saudara kita di Aceh dan Nias belum bisa kita lupakan. Tidak saja menimbulkan kerugian yang sangat besar secara materi tetapi juga menimbulkan duka yang sangat dalam dengan hilang dan tewasnya ratusan warga Nias. Secara psikologi masyarakat juga terguncang dan terluka. Secara manusiawi kitamenilai bahwa peristiwa itu sangat menyusahkan bagi masyarakat Nias umumnya, namun secara rohaniah kita harus menerimanya dan mengimani bahwa Tuhan justru bermaksud mengangkat masyarakat Nias dari Samudera Hindia sehingga menjadi perhatian tidak saja perhatian pemerintah dan masyarakat Indonesia tetapi juga perhatian internasional. Sehingga tidak selamanya malapetaka itu menjadi duka berkepanjangan tetapi malapetaka itu diijinkan Tuhan terjadi yang pada akhirnya berdampak indah bagi masyarakat.Sebelum peristiwa tsunami 2004, kepulauan Nias yang merupakan salah satu Kabupaten bagian dari Sumatera Utara sangat jauh dari perhatian pemerintah. Wajar-wajar saja, karena letak geografisnya di Samudera Hindia yang sulit terjangkau pada saat itu karena harus dilalui dengan melintasi laut kurang lebih 10 jam dengan kapal melalui pelabuhan Sibolga. Bagi masyarakat Sumut tentu saja menjangkau Nias tergolong sangat sulit karena harus melalui jalan darat dulu ke Sibolga dan dari Sibolga naik kapal lagi. Sehingga untuk mencapai kepulauan Nias dibutuhkan waktu berpuluh-puluh jam. Belum lagi infrastrukturnya, juga sangat menyedihkan karena kurang tersentuh pembangunan. Apalagi kepulauan Nias yang terletak di tengah lautan juga sering dilanda gempa sehingga kondisi tanahnya sangat labil. Akibatnya pembangunan infrastruktur yang sangat minim yang kurang didukung kondisi alam mengakibatkan pembangunan di Nias menjadi tertinggal dan sulit terjangkau. Hasil pertanian yang merupakan mata pencaharian utama menjadi kurang bernilai dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, pendidikan anak-anak Nias pun menjadi tertinggal dan Nias pun sepertinya menjadi terisolir dari Sumut.Namun setelah peristiwa malapetaka tsunami yang pada awalnya dirasakan sebagai dukacita itu secara perlahan justru merobah keadaan Nias ke arah yang lebih baik. Nias menjadi perhatian secara nasional maupun internasional. Bantuan pun mengalir deras, pembangunan infrastruktur  jalan di Gunung Sitoli dan jalan kabupaten mulai ditingkatkan. Apalagi dengan pembentukan BRR Aceh-Nias pasca tsunami, selain pembangunan jalan yang melaju dengan cepat pembangunan sarana dan prasarana pendukung lainnya juga meningkat seperti pembangunan fasilitas pelabuhan, Bandar udara Binaka, rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya, pembangunan sekolah dan lainnya membuat Nias tersentak dan merasakan sepertinya bantuan itu datang dari sorga membawa sukacita bagi masyarakat Nias yang belum dirasakan sebelum tsunami. Kini untuk menjangkau Nias sudah semakin mudah dengan lancarnya penerbangan ke Gunung Sitoli. Sedikitnya ada 5 kali penerbangan reguler setiap hari ke Nias. Luar biasa, perkembangan Nias yang dulunya seperti terisolir tetapi setelah tsunami kini menjadi terbuka dan lancar untuk dikunjungi. Tugas selanjutnya adalah merawat dan melanjutkan serta meningkatkan pembangunan lainnya sehingga bisa dirasakan seluruh masyarakat Nias hingga ke pelosok-pelosok.Selanjutnya Nias juga terus berkembang dan mekar. Sebelum tsunami 2004 Kepulauan Nias hanya dua kabupaten yaitu Kabupaten Nias dan Nias Selatan, tetapi seiring dengan pertumbuhan pembangunan dan penduduk maka kesadaran berdemokrasi juga terus meningkat. Sehingga pada tahun 2008 kepulauan Nias mekar lagi sehingga menjadi 4 kabupaten yaitu Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Barat, Nias Utara dan kotamadya Gunung Sitoli. Seiring dengan pemekaran itu, maka pembangunan dan aliran dana dari pusat juga terus bertambah dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nias.Ternyata sukacita itu bagi masyarakat Nias tidak pernah berhenti. Tuhan juga tidak pernah memalingkan wajahnya dari Nias. Hal lain yang patut disyukuri lagi adalah terpilihnya Nias sebagai tempat Sidang Raya PGI Tahun 2014 yang akan berlangsung mulai tanggal 5-17 November 2014 mendatang. Tidak tanggung-tanggung, Nias akan dikunjungi tokoh-tokoh gereja anggota PGI dari seluruh Indonesia dan tokoh gereja dunia yang keseluruhannya diperkirakan mencapai seribuan orang. Ini merupakan berkat luar biasa bagiNias dan diharapkan perhelatan ini menjadi ajang mempromosikan Nias yang kaya dengan lokasi wisata alam serta budaya. Masyarakat Nias juga diharapkan dapat melayani tamu-tamu itu dengan baik dan ramah sehingga selain mendoakan Nias para tamu-tamu seiman itu juga akan turut mempromosikan Nias di daerahnya hingga ke manca negara.Sebagai informasi, Sidang Raya PGI akan diawali dengan pra SR tanggal 5-8 November 2014 dengan Pertemuan Raya Pemuda Gereja di Sirombu Nias Barat dan Pertemuan Raya Perempuan Gereja di Teluk Dalam Nias Selatan serta Sidang MPL PGI 9-10 November di Dilimasai Nias Utara dan puncaknya  tanggal 11-17 November di Gunung Sitoli. Sehingga selain tokoh gereja, Nias juga akan dikunjungi tokoh-tokoh pemuda gereja dan tokoh-tokoh perempuan gereja dari seluruh Indonesia.Berkat Tuhan yang lebih luar biasa lagi juga dirasakan masyarakat Nias. Sidang Raya PGI di Nias belum dimulai, tetapi Tuhan telah mengangkat masyarakat Nias dari Samudera Raya. Tidak saja membuat Nias terkenal di dunia akibat peristiwa tsunami dan pesatnya pembangunan Nias tetapi untuk pertama kalinya putra Nias  diangkat Presiden Joko Widodo menjadi menteri di kabinet kerja yaitu Dr Yasonna Hamonangan Laoly SH M.Sc  sebagai Menteri Hukum dan HAM yang tidak diduga sebelumnya.Tokoh-tokoh masyarakat Nias di Medan juga mengungkapkan luapan kegembiraannya dengan meneteskan air mata sukacita saat Presiden Joko Widodo mengumumkan nama Dr Yasonna Hamonangan Laoly sebagai Menteri Hukum dan HAM, Minggu 26 Oktober 2014 lalu. "Luar biasa begitu baiknya Tuhan itu. Tiada yang mustahil bagi Tuhan,"ujar Penyabar Nakhe, mantan anggota DPRDSU yang juga panitia SR XVI PGI perwakilan Medan itu kepada SIB mengungkapkan kegembiraannya. Demikian halnya tokoh-tokoh Nias lainnya yang hadir menyaksikan pengumuman nama-nama menteri kabinet kerja Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla itu.Sukacita itu tentu saja bukan hanya bagi masyarakat Nias, tetapi juga bagi masyarakat Sumut umumnya."Oleh sebab itu patutlah kita bersyukur karena Tuhan masih mengingat kita melalui pak Joko Widodo,"ujar Penyabar tersenyum.Apa makna yang kita petik dari semua peristiwa ini, khususnya bagi masyarakat Nias  yang sudah diangkat Tuhan dari Samudera Raya dan  yang ditunjuk menjadi tuan rumah SR XVI PGI tahun 2014 ini? Baiklah semua masyarakat Nias merenungkan siang dan malam betapa baiknya Tuhan kita. Pujilah Tuhan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan jangan lupakan kebaikan-Nya (Mazmur 103:2) dan jangan permalukan Tuhan. Tidak semua orang yang berseru-seru memanggil nama-Nya yang kudus akan masuk dalam kerajaan sorga tetapi yang melakukan kehendak Bapa di sorga-lah yang masuk dalam kerajaan-Nya. Oleh sebab itu lakukanlah kehendak Bapa di Sorga yaitu mengasihi-Nya dan mengasihi sesama. Agungkanlah Tuhan dan muliakanlah Dia yang telah mengangkat kita dari Samudera Raya sehingga kita tidak lagi hidup dalam kegelapan dan ketertinggalan.Selanjutnya bekerja, bekerja, bekerja-lah.....(Amin !) (c)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Lapas Narkotika Pematangsiantar Peringati Isra Mi'raj

Agama Kristen

Thaipusam 2026 di Medan, Rico Waas Tegaskan Komitmen Jaga Harmoni Keberagaman

Agama Kristen

Musda Golkar Sumut Diwarnai Kericuhan, Massa Berkaus Kuning Lempar Batu dan Petasan ke Arah Hotel JW Marriott

Agama Kristen

Mensos Tegaskan Tak Ada Titipan dan Kongkalingkong Masuk Sekolah Rakyat

Agama Kristen

Gaza Kembali Dibombardir, 12 Tewas Jelang Pembukaan Perbatasan Rafah

Agama Kristen

BBPOM Medan Peroleh Juara Terbaik 1 Binaan UMKM Obat Bahan Alam