Tajuk- Rencana media ini, Selasa, 21 Oktober 2014, dengan tema, "Mentalitas Kerja", dimaknai sebagai catatan afirmatif atas Pidato Presiden Joko Widodo, pada pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia di hadapan Rapat Paripurna MPR, Senin 20 Oktober 2014.Afirmasi demikian lahir dari sebuah harapan agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Sebagaimana dicatat oleh media ini bahwa….."perlu diingat pesan yang terus menerus disampaikan oleh Presiden Jokowi kepada seluruh warga masyarakat, untuk hendaknya bekerja, bekerja dan bekerja…. maka Presiden Jokowi mengajak kita bekerja karena kita berani bermimpi untuk menjadi bangsa yang besar dan makmur. Mari kita menjadi bangsa yang bermental kerja demi masa depan Indonesia."Sesungguhnya, jika kita mengamati pidato Presiden Joko Widodo, maka faktor penting yang melatari komitmen terhadap etos kerja, harus dihubungkan dengan kesadaran Joko Widodo terhadap makna sumpah jabatan Presiden. Sebab, bagi Joko Widodo, sumpah berkaitan dengan hal spiritual dan berimplikasi pada komitmen kerja. Di awal pidatonya dia mengatakan,…"Baru saja kami mengucapkan sumpah, sumpah itu memiliki makna spiritual yang dalam, yang menegaskan komitmen untuk bekerja keras mencapai kehendak kita bersama sebagai bangsa yang besar."Dengan demikian, etos kerja, mentalitas bekerja dengan daya ekspektasi yang tinggi, berkaitan dengan nilai-nilai spiritual, spirit keagamaan. Sebuah keyakinan hidup atas seruan keagamaan sebagaimana temuan Max Weber dalam tesisnya bahwa etos kerja orang Kristen ternyata mampu mendorong peradaban Eropa ke dalam etos kerja dan perekonomian yang baik.Etos KekristenanBerita Injil mengingatkan kita sebagai orang yang percaya pada Yesus, bahwa orang Kristen (gereja) diutus bagi dunia. Imperatif mission Allah tersebut berimplikasi pada makna atau keberadaan orang Kristen di dalam dunia untuk bekerja. "Selagi hari masih siang marilah kita mengerjakan pekerjaan Allah (Yohanes 9) dan menghasilkan buah yang lebat". Pada keyakinan teologis demikian, di dalam diri orang Kristen selalu terjadi dinamika sinergis antara nilai-nilai kerajaan Allah dengan kesadaran diri sebagai alat Tuhan yang diutus sebagai garam dan terang dunia. Eksistensi dinamika diri demikian menjadi pijakan nilai fundamental kekristenan dalam realitas sosialnya. Keyakinan nilai demikian menjadi sebuah kunci keberhasilan hidup. Dan nilai demikian adalah etos kekeristenan yang sudah terbukti dalam pengalaman hidup orang beriman sebagaiman penelitian Max Weber dalam karya monumentalnya: The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Menurut Weber, etos kekristenan memengaruhi sikap, cara hidup orang Kristen sehingga mampu menggerakkan nilai ekonomi, nilai moral, etika hidup masyarakat Eropa.Pada faktanya, etos kekristenan telah menempatkan Eropa pada keberhasilan ekonomi. Tetapi, harus diingatkan bahwa keberhasilan ekonomi, kekayaan, investasi besar tidak bermuatan sebagai modal keserakahan. Etos kekristenan atas temuan Weber, berimplikasi praktis pada kemauan orang Kristen untuk menjadikan kekayaan sebagai alat memberantas kemiskinan. Dan itu berarti kekayaan menjadi alat moral.Makna Kerja Sebagai IbadahImplikasi pengakuan adanya nilai-nilai spiritual yang memengaruhi nilai kerja akan menempatkan orang beriman pada makna ibadah, dari kata abodah, ebed, hamba yang dipekerjakan oleh Allah. Istilah hamba (ebed), sangat kuat diserukan pada tradisi teologi Perjanjian Lama bagi pelayan ibadah di bait suci. Jadi, inisiatornya adalah Allah sendiri. Dan nilai telogis demikian diadopsi Martin Luther guna menghayati kehadiran seorang ebed Yahwe, hamba Tuhan dalam realitas dunia berpijaknya. Bagi Luther, seorang hamba Tuhan harus menerjemahkan nilai teologis tersebut sebagai sebuah panggilan (beruf; berufung) dalam dunia kerja. Sehingga, kesadaran akan berufung dimaknai sebagai tugas orang percaya untuk menghayati pekerjaannya sebagai hal yang kudus atas pemberian Tuhan.Imperatif keyakinan demikian, akan mendorong setiap orang percaya untuk bertekun dan bersungguh-sungguh dalam bekerja untuk menghasilkan buah berkualitas yang objektif dan dapat dibenarkan secara moral. Keyakinan iman akan menempatkan orang percaya pada pribadi yang etos kerja bertanggungjawab. Itulah manifestasi dari keyakinan bahwa bekerja adalah ibadah. Etos Kekristenan dan IndonesiaJika Presiden Joko Widodo telah mendorong masyarakat Indonesia pada sebuah komitmen kerja dan kerja atau menumbuhkembangkan mentalitas bekerja sebagaimana afirmasi Tajuk Rencana media ini, maka seruan demikian harus dilihat sebagai bagian dari makna etos kekristenan.Pada seruan demikian, kita disadarkan pada keberadaan dan fungsi garam sebagaimana ditetapkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya. "Kamu adalah garam dunia". Dalam keberadaanya, garam sesungguhnya selalu dalam kuantitas yang sedikit. Pada aspek minoritas tersebutlah garam berfungsi memberi nilai obejktif sehingga tatanan sosial bangsa Indonesia semakin baik dan menjadi syarat menjadi "bangsa yang besar" sebagaimana harapan Presiden Joko Widodo. Etos kekristenan demikian menjadi salah satu variabel guna mewujudkan cita-cita konstitusional bangsa. Maka, pada afirmasi praksis teologi demikian, dunia kerja di Indonesia menjadi sebuah ibadah dan memuliakan Allah. Selamat melayani, pak Jokowi dan Yusuf Kalla!