Saudara-saudari terkasih, dalam Injil dikemukakan bahwa Yesus menghardik orang-orang yang ada di Bait Allah. "Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan", kata Yesus. Penyebabnya ialah karena Yesus mendapati pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di Bait Allah. Para pedagang itu sedang asyik bertransaksi dengan orang yang membeli barang dagangan mereka untuk dijadikan kurban persembahan di Bait Allah. Mendalami Injil hari ini kita diajak untuk melihat kualitas peribadatan kita. Para imam di Bait Allah membuat aturan-aturan sedemikian rupa mengenai kurban persembahan. Aturan itu mengikat. Orang merasa wajib mempersembahkan kurban di Bait Allah. Dan di Bait Allah diperdagangkan bahan-bahan untuk persembahan itu. Dalam situasi seperti itu bisa saja ada orang yang pamer kemampuan. Orang menunjukkan kehebatannya dengan cara mempersembahkan yang lebih tinggi nilai ekonominya dari yang lain. Sementara itu ada orang miskin yang tidak mampu mempersembahkan apa-apa, atau mungkin bisa mempersembahkan sesuatu tetapi nilai ekonominya di bawah persembahan orang kaya. Pada kesempatan lain kita tahu bagaimana Yesus memberi penilaian terhadap setiap persembahan yang diberikan di Bait Allah. Yesus memuji persembahan si janda walaupun nilai ekonominya lebih kecil daripada persembahan orang lainnya. Yesus memiliki cara pandang yang berbeda dengan publik. Nilai persembahan tidak hanya terletak pada kuantitas, tetapi nilai yang ingin ditampilkan ialah bahwa dengan persembahan orang mengungkapkan dirinya di hadapan Allah. Dalam persembahan itu ditunjukkan totalitas manusia berhadapan dengan Allah. Persembahan adalah sarana manusia berkontak dengan Allah. Dengan latar belakang pemikiran seperti itu, kita semakin mudah memahami sikap Yesus yang memuji persembahan si janda karena si janda memberikan apa yang ada padanya.Yesus menghardik praktek peribadatan di Bait Allah yang jatuh pada praktek peribadatan yang semu. Peribadatan yang semu tampak ketika orang pergi ke Bait Allah hanya untuk memenuhi aturan dan kewajiban. Orang tidak sampai pada pemahaman yang sesungguhnya, yakni pada nilai panggilan dan perutusan Allah. Inilah yang mau ditegaskan oleh Yesus dengan menghardik orang-orang yang ada di Bait Allah.Hardikan Yesus di Bait Allah sangat relevan kepada kita umat beriman yang hidup pada zaman sekarang. Yesus tidak menghendaki agar bangunan Bait Allah, yakni diri-Nya sendiri tidak kabur berdiri pada zaman ini. Orang beriman diundang untuk menghadirkan Bait Allah pada zaman sekarang. Bait Allah yang didirikan oleh Yesus Kristus sendiri tidak dikehendaki menjadi kotor, terhina dan menjadi bangunan yang kabur atau samar-samar berdiri di zaman ini. Kita sangat memuji upaya umat beriman yang sangat militan dalam membangun tempat peribadatan. Namun, kiranya perhatian kita tidak hanya tertuju pada pembangunan fisik tempat beribadat, tetapi juga bangunan rohani, yakni pembangunan umat beriman. Pembangunan hidup rohani bertujuan agar umat beriman tidak jatuh pada kesalehan-kesalehan semu, ibadat yang jatuh pada rutinitas. Apa wujud kesalehan-kesalehan semu yang bisa menggurita di tengah-tengah umat beriman pada zaman sekarang?Kesalehan semu bisa menjadi penyakit umat beriman yang menggurita pada zaman ini bilamana peribadatan dipandang dengan perhitungan untung dan rugi. Perhitungan untung dan rugi berarti menyuburkan persaingan yang sehat karena memandang orang lain sebagai lawan dan bukan kawan. Bahkan, Bait Allah semakin dilecehkan jika dalam karya-karya yang berkaitan dengan keagamaan atau religius justru menjadi ajang korupsi. Bait Allah bisa juga kabur kelihatan manakala gereja tidak lagi tanda kenabian di tengah zaman sekarang. Bait Allah bisa menjadi kabur tampilannya kalau tak berdaya memberikan kesaksian di tengah-tengah dunia.Yesus berkata: "Rombak Bait Allah ini, dan tiga hari Aku akan mendirikannya kembali". Ungkapan tiga hari mau menunjuk pada kisah sengsara Yesus Kristus dan kebangkitan-Nya. Jalan menuju kebangkitan adalah derita dan salib. Membangun Bait Allah, yakni menghadirkan Yesus Kristus di zaman sekarang ini berarti siap menanggung salib dan derita. Tetapi, tiada salib yang sia-sia dalam terang iman akan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Perjuangan umat beriman adalah mewujudkan Bait Allah yang sejati pada zaman ini. Agar Bait Allah yang dikehendaki oleh Yesus Kristus tetap berdiri megah pada zaman ini, umat beriman harus berani menjauhkan diri dari persekongkolan jahat yang bisa mengotori Bait Allah. Jika umat beriman tidak mampu menunjukkan identitasnya dengan ikut serta berkorban dalam kehidupan dunia sekitarnya, Bait Allah yang tampil di dunia hanyalah bangunan yang samar-samar dan bahkan pelan-pelan akan nyaris tak kelihatan lagi. Peribadatan tak akan lebih daripada rutinitas belaka jika pengorbanan dan kebangkitan Kristus tidak menjiwai hidup orang beriman. Semoga umat beriman pada zaman ini semakin bersekutu untuk membangun Bait Allah yang megah lewat sikap berkorban di dalam kehidupan sehari-hari. Amin! (d)