Gunung Sinabung adalah sebuah gunung di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo memiliki ketinggian 2.460 meter. Sinabung dan Sibayak adalah dua gunung berapi aktif yang berdekatan di Sumatera Utara. Peristiwa letusan pertama Sinabung tanggal 27 Agustus 2010, gunung ini mengeluarkan asap dan abu vulkanis. Pada tanggal 29 Agustus 2010 dini hari sekitar pukul 00.15 WIB gunung Sinabung mengeluarkan lava. Status gunung ini dinaikkan menjadi "Awas" Dua puluh delapan ribu warga di sekitarnya dari 29 desa dievakuasi dan ditampung di tempat yang lebih aman dan masyarakat mengungsi di rumah-rumah ibadah dan balai pertemuan adat ( jambur) lebih kurang selama satu bulan.Pada tanggal 15 September 2013 Gunung Sinabung kembali meletus. Pada saat itu ASIGANA (Pemuda GBKP Siaga Bencana) sedang melakukan kegiatan di Retreat Center GBKP Sukamakmur yang dihadiri 52 orang. Mendengar informasi, saat itu juga 26 orang ASIGANA berangkat menuju Kabanjahe dan segera mendirikan tenda, menghubungi beberapa pendeta untuk membuka tempat penampungan pengungsi di gereja-gereja, dan membuat dapur umum. Logistik untuk menyiapkan sarapan pengungsi diperoleh dari Panti Penyandang Cacat GBKP di Kabanjahe. Sejak pukul 04.00 wib pengungsi sudah berdatangan dari beberapa desa dan langsung diarahkan ke tempat-tempat yang sudah disiapkan GBKP antara lain : Kantor Klasis Kabanjahe GBKP, Gedung Alpha Omega, Gedung Serbaguna dan KAKR GBKP Kabanjahe kota, GBKP Asrama Kodim, GBKP Jl. Kotacane, GBKP Simpang VI, GBKP Katepul, Zentrum/PPWG GBKP, KWK Berastagi dan Kantor Klasis Berastagi. Di tempat yang lain : Dalan Jahe desa Kutarayat dan Balai desa Payung bersama dengan pemerintah setempat (Camat Payung), Pengurus Klasis (Pdt. Sentosa Gurusinga) bersama dengan ASIGANA yang ada di kecamatan Payung membuka posko di Balai Desa Payung yang pada awalnya ditempati oleh pengungsi dari Desa Gurukunayan dan Sukameriah. Jumlah pengungsi yang langsung dilayani GBKP berjumlah 8.000 jiwa mengutamakan anak-anak dan orangtua lanjut usia ditempatkan dalam gedung-gedung. Sedangkan pengungsi lain yang jumlahnya lebih banyak ditampung pemerintah dan ditempatkan di jambur (tempat pertemuan/pesta) masyarakat Karo yang selama ini sudah tersedia.Posko pelayanan pengungsi GBKP yang belum punya pengalaman dalam menghadapi ribuan pengungsi di beberapa pos pelayanan, sungguh merasakan bagaimana Tuhan memampukan gereja menjalankan tugas panggilan pelayanannya dengan menggerakkan hati orang-orang yang peduli untuk memenuhi kebutuhan pengungsi. Dari hari ke hari, minggu ke minggu Tuhan mencukupkannya.Tuhan menggerakkan hati setiap orang yang dipakai untuk saluran berkat, melalui jemaat, Gereja-gereja, masyarakat lintas agama, dan pemerintah untuk memberi kecukupan bagi pengungsi. Dari setiap dukungan yang diberikan, sekecil apapun yang disediakan dengan hati, menjadi penghiburan , penguatan dan pengharapan bagi para pengungsi untuk melanjutkan kehidupannya. Sejak peristiwa meletusnya gunung Sinabung tahun 2010, GBKP memberikan perhatian khusus kepada pelayanan pengungsi. Berbagai bantuan yang diterima, dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pengungsi sewaktu-waktu bila terjadi peristiwa alam yang berulang. Dalam kurun waktu tiga tahun , masyarakat di sekitar gunung Sinabung sudah menjalankan kehidupan sehari- harinya, GBKP terus mendampingi masyarakat, mempersiapkan para pemuda membentuk ASIGANA (Anak Singuda Siaga Bencana) untuk tanggap bencana dan mengajak masyarakat untuk menyiapkan diri hidup bersama dengan keberadaan gunung sinabung.Posko GBKP sudah mendata jumlah mahasiswa yang orangtuanya mengungsi, ada 459 mahasiswa yang sedang studi di berbagai perguruan tinggi. Posko GBKP sudah 5 kali menyalurkan bantuan untuk biaya bulanan mereka (memenuhi : uang kost, biaya makan dan transport) . Hal ini dilakukan karena orangtua yang sedang mengungsi tidak mampu lagi mengirim biaya bulanan mereka. Harapan dari aksi ini adalah menggugah pihak-pihak terkait penanggulangan bencana Sinabung untuk menyediakan dana bantuan kepada mahasiswa.Erupsi gunung sinabung belum berakhir, masyarakat desa terdampak yang tidak bisa pulang ke desanya, hidup terpencar di rumah-rumah kontrakan dan mencari pekerjaan di daerah lain yang memungkinkan untuk berusaha dengan menyewa lahan pertanian atau menjadi buruh tani. Keadaan jemaat GBKP di sekitar Gunung Sinabung juga mengalami hal yang sama yaitu keluarga-keluarga anggota jemaat hidup terpencar. Keadaan ini masih berlangsung hingga sekarang dimana masyarakat diperhadapkan kepada situasi yang semakin rentan dengan kemiskinan.Melihat situasi ini Moderamen GBKP dengan Direktur Pusat Pembinaan Warga Gereja GBKP Pdt.Prananta Jaya G. Manik STh,MM pada tanggal 17-18 Maret 2015 mengundang Majelis jemaat GBKP yang berada di desa-desa terdampak erupsi Gunung Sinabung untuk bersama-sama menetapkan program strategis pelayanan bagi masyarakat terkena dampak erupsi. Kegiatan ini berupa workshop dimana setiap peserta secara partisipatif memberikan kontribusi pemikiran , dan dalam semangat kebersamaan untuk dapat bertolong-tolongan melahirkan beberapa komitmen untuk ditindaklanjuti. Bagian penting dari pertemuan ini seluruh Majelis Jemaat sudah membuat surat kepada Presiden Republik Indonesia Bapak Ir. Joko Widodo dan Kementerian Sosial Republik Indonesia yang isinya:Untuk desa yang direkolasi (Bekerah, Simacem dan Sukameriah) agar mempercepat relokasi, penyediaan lahan pertanian sesegera mungkin ditempat relokasi, jaminan hidup (jadup), biaya transportasi untuk anak sekolah dari tempat relokasi ke sekolah anak-anak, penyediaan rumah ibadah, sekolah dan rumah sakit/balai pengobatan. Pemerintah sesegera mungkin merealisasikan Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, kartu sejahtera, penyediaan modal usaha, program pelayanan untuk orangtua lanjut usia, bantuan bibit dan peternakan. Dalam pembangunan rumah ditempat relokasi agar pemerintah dapat membangun rumah berdasarkan jumlah kepala keluarga.Untuk desa yang masyarakatnya tidak bisa kembali ke desanya (Gurukinayan, Berastepu, Gamber, Kuta Tonggal dan Dusun Sibintun) agar tetap diberikan jaminan hidup, biaya sewa rumah sampai ada rumah yang bisa didiami dengan menetap, biaya sewa lahan pertanian, biaya anak sekolah dan kuliah, biaya transportasi untuk anak sekolah, biaya pendidikan untuk anak-anak, pemberian modal usaha, merealisasikan Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, kartu sejahtera, program pelayanan untuk orangtua lanjut usia, dana hibah dan pinjaman lunak untuk tambahan modal usaha.Untuk desa yang terdampak erupsi gunung Sinabung (Mardinding, Kutambaru, Sukatendel, Perbaji, Selandi, Payung, Susuk, Batukarang, Rimokayu, Tiganderket, Tanjung Morawa, Temburun, Jandimeriah, Ujung Payung, Cimbang, Tigapancur, Kuta Tengah, Kuta Tonggal, Sukandebi, Jeraya, Pintumbesi, Kutambelin, Sukatepu, Naman, Ndeskati, Gung Pinto, Kuta Rayat, Sukanalu, Sigarang-Garang, Kuta Gugung, Dusun Lau Kawar dan Kebayaken) agar segera merealisasikan Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, kartu sejahtera, pelatihan untuk ekonomi kreatif untuk menambah pemasukan (income) masyarakat, sarana air bersih, perbaikan jalan (infrastruktur), perbaikan dan penambahan jalur evakuasi, perbaikan jalur laharan, pinjaman lunak untuk tambahan modal usaha dan dana hibah.GBKP dalam memfasilitasi kegiatan ini memberikan ruang bagi masyarakat Sinabung untuk membangun inspirasi dan semangat solidaritas dalam rangka mengasihi sesama didalam mengatasi penderitaan yang berkepanjangan. Oleh karenanya lahir gagasan-gagasan dan harapan untuk : melakukan pendampingan dan pembinaan spritual dan mental warga yang terkena dampak erupsi Sinabung, pendampingan dan pembinaan anak-anak Sinabung, pengembangan pelayanan kesehatan, pelayanan pelatihan dan pemberdayaan usaha : pertanian, peternakan, kerajinan, menampung dan memasarkan hasil produksi masyarakat Sinabung, mencari orangtua asuh untuk anak-anak sekolah dan mengembalikan semangat kebersamaan /gotong royong dalam perspektif budaya.Menyatakan Kasih Kristus di sekeliling Sinabung adalah panggilan bersama untuk memberi hati yang ditujukan kepada setiap orang dalam meringankan beban saudara-saudara kita yang menderita. Panggilan ini mengingatkan kita kepada apa yang dikatakan oleh Yesus : â€Mari hai kamu yang diberkati Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku dalam penjara, kamu mengunjungi Akuâ€. (Matius 25 :34b-36). Kiranya panggilan ini menggugah iman kita untuk bersama-sama menyatakan Kasih Kristus. Tuhan memberkati. (c)