Perenungan Kisah Sengsara dan Wafat Yesus Kristus

Politik Konspirasi ke Politik Hati Nurani

* Oleh: Pastor Yosafat Ivo OFMCap
- Minggu, 05 April 2015 17:41 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/04/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Seluruh umat Kristiani di seluruh dunia merayakan wafatnya Yesus Kristus Jumat (3/4). Walau perayaan peringatan ini dirayakan setiap tahun namun selalu menyiratkan kesedihan karena rasanya tidak pantas Yesus menderita sengsara dan wafat di salib. Ia tidak bersalah namun harus merasakan siksaan para algojo yang keji. Telinga-Nya yang biasa mendengar keluhan umat-Nya kali ini ia harus mendengar cibiran, olokan-olokan dan penghinaan. Tetapi semua umat Kristiani diminta supaya tidak larut dengan kesedihan karena Ia yang disalibkan itu menerima semuanya dengan ikhlas. Itulah makna sebuah pengorbanan sejati sebagaimana dikatakan, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang telah menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13). Itulah bukti kasih Allah yang telah mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan dunia. (Yohanes 3:16). Yesus dan Konspirasi PolitikApa itu konspirasi? Konspirasi sendiri adalah perkoncoan atau persekongkolan yang terdiri dari dua orang atau lebih guna melakukan tindakan kejahatan yang direncanakan. Gerakan sistematik dan massive ini dialami oleh Yesus menjelang sengsara dan wafat-Nya. Para orang Yahudi dan penguasa mencari cara dan alasan untuk menjerat Yesus. Mulai dari tingkat sosial sampai pada level teologi. Dalam tataran sosial mereka sering menjebak-Nya sehingga mereka punya alasan memakzulkanNya dari pemimpin (raja) bahkan sampai membunuh-Nya.Misalnya ketika kepada-Nya dibawa serorang wanita yang kedapatan berzinah. Motivasi licik mereka ialah mau menjerat Yesus kalau-kalau keputusan dan kebijakan-Nya menyalahi hukum atau aturan. Namun Yesus mengetahui kelicikan mereka. Yesus Menantang mereka dengan mengatakan, "Siapa di antara kamu yang tidak berdosa, dialah yang pertama melemparkan batu atas wanita ini." (Yohanes 8:7). Yesus membawa kasus itu dari ranah hukum ke moral bahwa setiap orang punya kesalahan dan dosa karena itu harus diberi kesempatan untuk bertobat dan memperbaharui diri. Maka tindakan membebaskan lebih mulia daripada menghukum, menyelamatkan lebih agung daripada menindas.Hal lain ialah bahwaYesus dituduh menghujat Allah. Yesus mengatakan, "Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan itu sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang mati dan menghidupkannya, demikian juga anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya." (Yohanes 5:20-21). Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Ia ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Dia yang bagi mereka Yesus mau menyamakan diri dengan Allah. (Yohanes 5:17-18). Orang Yahudi sama sekali tidak bisa menerima Yesus menyamakan diri dengan Allah karena bagi mereka Ia adalah manusia biasa sama seperti mereka yang mempunyai kelemahan, kekurangan dan dosa. (Yohanes 10:33). Konspirasi rencana membunuh Yesus ini nampak juga dalam proses hukum sampai pada keputusan menjatuhkan hukuman mati untuk-Nya. Desakan dan hasutan massa lebih berpengaruh daripada hati nurani dan mencari jalan aman lebih mudah daripada menegakkan hukum dan kebenaran. Ia kembali dituduh menghujat Allah ketika Yesus menjawab pertanyaan imam besar, "Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?" dan Yesus menjawab: "Engkau telah mengatakannya. Akulah Dia. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?" Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan dan berkata: "Ia harus dihukum mati!" (Matius 26:62-66; Markus 14:60-64).Pilatus sendiri sama sekali tidak menemukan kesalahan apapun dari Yesus (Yohanes 18:38b) namun karena ketakutan akan ancaman orang banyak maka Pilatus membebaskan Barabas dan memberi hukuman mati untuk Yesus. Ketika Pilatus  melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri" (Matius 27:24). Pilatus mencari jalan aman agar baik secara moral maupun hukum, peristiwa ini tidak ada kaitan dengan dirinya seandainya ada masalah di kemudian hari.Penutup: Pesan PermenunganYesus datang untuk mewartakan kabar gembira dengan mengajar, berkotbah, menyembuhkan, mengampuni, mengunjungi yang sakit dan membangkitkan orang mati. Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa yang Kuperlihatkan kepadamu, pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari (menghukum) Aku ? (Yohanes 10:32). Pertanyaan ini diarahkan kepada kita semua saat ini.Ketika kita asyik dalam gerakan menggossip yang mau menggerogoti orang lain, kita telah jatuh dalam konspirasi politik kecil-kecilan. Saat kita mau menjatuhkan sesama dengan segala cara yang bertujuan demi kepentingan pribadi kita telah terlibat dalam persekongkolan menghancurkan reputasi orang lain. Bisa saja kita terlibat dalam konspirasi berbau politik, moral dan sosial. Ketika ini terjadi maka kita telah menambah beban salib Yesus karena Yesus mengatakan, "Apa yang kamu perbuat bagi salah satu saudara-Ku (yang laing hina ini), itu juga kamu perbuat untuk Aku (Mateus 25:40).Arah dari permenungan ini pertama bagi kita jemaat Kristiani; Mari kita menjauhi mental ikut-ikutan tanpa berpikir kritis dalam relasi bersama dengan sesama. Kita harus membentengi diri dari taring-taring konpsirasi yang jelas melanggar hukum kasih Kristiani. Kedua, bagi orang Kristen yang duduk di lembaga pemerintahan baik di legislatif maupun dewan, hendaknya mengedepankan politik hari nurani yang berbasiskan bonum commune, demi kepentingan umum. Selamat merayakan Kisah Sengsara Yesus Kristus. (r)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS