Renungan

Melupakan Hak Istimewa

Kisah 4:5-12, Oleh : Pdt Sunggul Pasaribu
- Minggu, 26 April 2015 18:04 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/04/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Ketika kedua putra mendiang Lady Diana, Pangeran William dan Harry, telah beranjak dewasa mereka masuk ke sekolah militer dan dididik dengan cara militer yang keras serta disiplin. Seorang wartawan pernah bertanya, apakah kedua anak raja ini mendapat perlakuan khusus. Pihak sekolah menjawab tegas: Tidak! Keduanya diperlakukan sama seperti calon tentara lain supaya bisa merasa senasib sepenanggungan, juga agar mereka bisa belajar taat pada perintah. Jadi, status sebagai anak raja harus dilupakan di sekolah itu.Yesus pun mendisiplinkan diri-Nya untuk belajar taat selama hidup di bumi. Sekalipun status-Nya "Anak Allah" (Ibrani 5:8) dan meskipun Bapa-Nya sanggup menyelamatkan-Nya dari maut (ayat 7). Namun dalam mengemban karya keselamatan Kristus Dia harus lupakan diriNya sebagai Anak Allah, Dia melupakan hak istimewa itu, Dia menolak diperlakukan khusus. Dia bukannya menempuh jalan aman dan nyaman, Dia justru memilih jalan penderitaan, bahkan disalibkan. Meskipun hanya manusia terhina yang pernah menempuh jalan itu. Di jalan salib, Yesus mengalami begitu banyak rasa sakit, godaan dan pencobaan. Namun, setelah misi-Nya menyelamatkan manusia tercapai, Dia sendiri bisa menjadi Imam Besar yang berempati. Dia mengerti pergumulan kita (Ibrani 4:15) karena Dia pernah mengalami segala derita yang kita alami.Jalan penderitaan ternyata banyak gunanya. Melaluinya kita bisa belajar bersikap taat, menjadi lebih peka, dan mengerti pergumulan orang lain. Sebab itu, apabila kita harus menghadapi penderitaan, mari kita mohon kekuatan Allah untuk tidak menolaknya, menghindarinya, atau meminta perlakuan khusus. Imam Besar kita memerhatikan dan menemani kita untuk melaluinya.Demikian juga halnya dengan riwayat perjalanan rasul Petrus dan Yohannes pasca peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, di mana mereka kembali berhadapan dengan para kelompok agama Yahudi, yaitu ; Imam,  Ahli Taurat. Mereka yang mengadili dan menghukum rasul Petrus dan Yohannes merupakan kelompok yang sama ketika mengadili dan menghukum Yesus.  Adapun sebagai dasar tuduhan yang dialamatkan kepada kedua rasul ini ; atas dasar apakah mereka memberitakan Injil dan kuasa darimanakah mereka dapat melakukan perbuatan mujizat dalam hal ini menyembuhkan orang sakit sebagaimana dalam Kisah rasul 4:5-12. Sebab menurut anggapan mereka saat itu bahwa pemberitaan Injil dan kuasa penyembuhan sudah berakhir setelah peristiwa kematian Yesus. Sehingga ketika rasul Petrus dan Yohannes tampil menjadi saksi mata Kristus (Bhs. Yunani; Apostel, artinya, Rasul) dianggap sebagai pelanggaran dan penyelewengan terhadap kuasa Tuhan (sang Illahi). Menurut perkiraan para elit Yahudi, kaum Iman dan ahli Taurat, tidak ada lagi pemberitaan Kristus dan kuasa mujizat Allah.Dalam nats ini kedua rasul diperhadapkan dengan pilihan, ; bebas, aman, dan nyaman dari pengadilan dan hukuman Mahkamah Agama tetapi berkhianat kepada Yesus, Kristus, atau memilih taat kepada panggilan dan pengutusan Kristus untuk memberitakan Injil kebenaran demi keselamatan umat manusia di seantero dunia ini.?Ternyata kedua rasul justru dengan keras dan lantang melawan Mahkamah Agama yang lalim dengan jawaban mereka, katanya : "..Ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati - bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan - yaitu kamu sendiri - namun Ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Rasul 4:10-11).  Mereka nampaknya tidak berterima atas kuasa illahi yang ada para rasul Petrus dan Yohannes meski Roh Kudus yang memberi mandat kepada mereka. Lebih keras lagi statemen mereka kepada kelompok Mahkamah Agama, dikatakan : "silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah taat kepada kamu atau taat kepada Allah” (Kisah rasul 4:19).Akhirnya, mereka pun melepaskan kedua rasul ini, karena mereka tidak menemukan fakta hukum yang menjerat kesalahan perdata atau pidana atas pengadilan Mahkamah Agama Yahudi. Jika kita bekerja, bertindak, berkata-kata, dan melakukan kebajikan berdasarkan, di dalam, dan atas nama Kristus, tidak ada hukum duniawi yang akan menjerat kesalahan dan kelemahan kita di dunia ini. Jangan takut bersaksi tentang Kristus. Percayalah. Amin.! (c)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS