Medan (SIB)- Keluarga besar Gereja Orthodox Indonesia khususnya Paroki Agios Demetrios Medan memeringati Paskah. Perayaan kematian Sang Penebus Dunia dipusatkan di areal halaman gereja yang bersisian dengan kampus Sekolah Tinggi Theologia (STT) Paulus Jl Kapt Pala Bangun Simalingkar tersebut merupakan klimaks dari rangkaian peringatan Jumat Agung sampai Paskah. “Sebelumnya, rombongan besar dari Paroki Agios Demetrios Medan melakukan safari suci ke sejumlah Gereja Orthodox di antaranya di Taput dan Dairi,†ujar pimpinan Gereja Orthodox Indonesia Wilayah Barat Indonesia Pater Dr Chrysotomos P Manalu MMin, Rabu (22/4).Dalam uraiannya, pimpinan kegiatan mengupas 2 Korintus 4: 1 - 6. Pater Chrysotomos Manalu menegaskan dalam kematian Yesus Kristus sebagai putra Allah yang kekal telah terbukti bahwa dari dalam gelap terbitlah terang. “Terang alkitabiah adalah abadi yakni terang membawa yang percaya ke surga,†tandasnya.Pada peringatan di Medan diisi dengan melodrama Jalan Salib dan ‘penyaliban’ Yesus Kristus yang diperankan Octo Sihotang. Selayaknya jalan Via Dolorosa, proses Jalan Salib melalui penghentian demi penghentian plus kesaksian pada murid dan orangtua Yesus, Maria (diperankan Fitri Irda Natalia Gulo). Jemaat jadi ikut haru bahkan menitikkan air mata ketika Mahkamah Agama (dilakonkan Indra Putra Simbolon) memvonis mati Yesus Kristus tapi sang pemvonis menyesali perbuatannya. Yang beda dari biasanya, algojo di prosesi ‘penyaliban’ terdapat sejumlah perempuan yakni Efri Waruhu, Risdawati, Yusnidar Nainggolan, Gebriella Barus dan lainnya. “Penyertaan perempuan dalam prosesi algojo dan masyarakat biasa yang ikut merajam Yesus Kristus, disesuaikan dengan era saat ini yakni semangat emansipasi wanita. Kebetulan masih semangat Hari Kartini,†tandas penasihat dan penyelia kegiatan Dr Adolfina Elisabeth Koamesakh MHum.Meski menjadi pengarah acara dan ikut menyusun konsep melodrama, satu dari sedikit perempuan cendikiawan Kristen di Indonesia itu menitikkan air mata. Bahkan, pemeran algojo yang menyiksa Yesus Kristus pun ikut menangis. “Ya, menangis itu hakiki sekali. Siapa sih manusia tidak menangis menyaksikan tuhannya dirajam sampai mati,†ujar Adolfina Koamesakh, usai kegiatan.Selain lakon Jalan Salib dan ‘penyaliban’ tablo tersebut pun mengangkat sejumlah kisah suci Yesus Kristus mulai dari karya sebagai penebar kabar suka hingga mujizat terakhir bangkit dari kubur. Kegiatan yang dilakonkan cendikiawan kampus STT Paulus itu antara lain dilakonkan Cicin Hutabarat, Christina Telaumbanua, Sidi Khairani Gulo, Fudirman Zebua, Markus Simbolon, Paulus Pangur dan Mei Sri Ariska. (r9/q)