Rantauprapat (SIB)- Ratusan anggota jemaat sektor VII Gereja Methodist Indonesia Makedonia (GMI Makedonia) Jalan Ahmad Yani Rantauprapat melaksanakan ibadah kebaktian Padang di tengah hutan lindung (Register) di Desa Tebing Linggahara Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhanbatu, Minggu (19/4) sore. Kebaktian Padang yang merupakan agenda tahunan sektor VII GMI Makedonia mengikutsertakan anak-anak sekolah Minggu, kalangan remaja, para orang tua dan para lansia.Jemaat diberangkatkan dengan doa dari titik kumpul komplek gereja GMI Makedonia mengendarai 2 bus angkutan umum dan sejumlah mobil pribadi dengan menempuh perjalanan hampir 1 jam lebih . Di tengah-tengah hutan lindung yang ditumbuhi semak belukar dan pepohonan besar itu, para jemaat terlebih dahulu merintis dan membersihkan lokasi untuk tempat berkebaktian.Kebaktian dimulai Pukul 15.00 Wib diawali dengan saat teduh, menyanyikan lagu pujian, dan berdoa mengucapkan syukur kepada Tuhan atas berkat dan karunianya yang sungguh luar biasa menciptakan alam semesta untuk melengkapi dan menyempurnakan kehidupan manusia dimuka bumi. Sangat luar biasa kebaikan Tuhan itu kepada umat manusia. Umat manusia diciptakannya di tengah-tengah alam semesta yang sudah serba lengkap. Difasilitasi dan kita tinggal hanya menikmati nya. Berbahagia dan bersuka-citalah kita bisa menikmati alam yang indah seperti ini karena mungkin ada orang lain yang tidak bisa lagi menikmati alamnya karena sudah rusak. Untuk itu, apa yang Tuhan berikan untuk kita nikmati lewat keindahan alam ini marilah kita syukuri dan kita rawat demi kemuliaan nama Tuhan, demikian inti khotbah Pdt. S. Br Nainggolan STh yang dikutip dari Mazmur 104;31 dihadapan ratusan jemaat dengan dibantu para pelayan Gereja GMI Makedonia Rantauprapat diantaranya LS Martahan Manalu SPD, LS K. Br. Siahaan SPd, LS Avenazara SPd dan mewakili majelis Gereja RTB Siahaan.Usai kebaktian singkat dilanjutkan dengan acara makan bersama dengan mencicipi menu masing-masing. Sukacita yang luar biasa dan praktek kasih kelihatan nyata dalam acara makan bersama itu. Tidak ada perbedaan kaya atau miskin. Sesama Jemaat saling mencicipi makanan. Yang kaya memberikan makanannya kepada orang susah dan sebaliknya yang kaya tidak segan-segan mencicipi menu orang susah, dan yang tidak membawa makanan dari rumahnya disuguhkan makanan. Praktek kasih dan saling memberi kelihatan dengan penuh sukacita, demikian pantauan SIB. Seterusnya dilanjutkan dengan acara refreshing (penyegaran jasmani) dengan menikmati sejuknya air terjun Linggahara yang kondisi airnya saat ini sudah semakin krisis karena debit airnya yang semakin berkurang. (D3/c)