Ujian, Ujian Mengapa Harus Ada Ujian?

*Oleh: Pdt Dr Luhut P Hutajulu
- Minggu, 03 Mei 2015 17:12 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/05/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Lulus ujian, itu adalah karunia. Apa karunia itu tinggal kita terima atau kah kita harus mengupayakannya? Pintar matematika, pintar bahasa Inggris, pintar mengarang dan melukis adalah juga karunia. Apakah Allah yang memberikannya ataukah kita yang berusaha memperoleh kepintaran itu? Bagaimana pula dengan karunia-karunia seperti suka belajar, rajin belajar, suka memberi, suka menolong orangtua? Apakah kita menerimanya dari Allah ataukah kita mengupayakannya?Kata karunia ini berasal dari bahasa Yunani ‘kharisma’, merupakan pinjaman dari bahasa Yunani umum dan dipopulerkan dalam gereja perdana oleh Rasul Paulus. Dari 17 kali pemunculannya di dalam Perjanjian Baru, 14 kali terdapat dalam Surat Paulus kepada umat Roma dan Korintus. Dari arti katanya, jelas bahwa karunia bukan hasil usaha manusia, melainkan pemberian Allah. Tetapi di lain pihak, Paulus menyuruh umat Korintus agar berusaha memperoleh karunia. Tulisnya, ”Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama…”(1 Kor.12:31)’. Kalimat tersebut bisa membingungkan. Kalau memang karunia adalah pemberian, mengapa kita harus berusaha untuk memperolehnya? Perlu kita perhatikan  bahwa ayat ini merupakan penutup pasal 12 dan penghubung dengan pasal 13 serta 14. Ketiga pasal ini bernada teguran atau koreksi kepada umat Korintus. Dalam rangka koreksi itu, Paulus menasihati agar agar umat lebih baik ”berusaha  untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama”(12:31). Terjemahan harfiahnya adalah ”yang lebih utama”. Maksudnya, yang lebih berguna.Maksudnya, kasih perlu diupayakan, diwujudkan dan dijalankan.Dengan kata lain, sebuah karunia bukan hanya pemberian Allah yang tinggal kita terima secara pasif, melainkan perlu diusahakan secara aktif. Mahir matematika, mahir IPA, mahir musik, adalah karunia, namun orang yang bersangkutan perlu berusaha. Karunia tidak turun begitu saja dari langit. Pintar matematika harus banyak belajar, berlatih dan berjuang. Sejak dini ia sudah berkorban dan menderita untuk belajar.tumbuh dalam proses waktuKarunia tidak mendadak tetapi timbul dalam proses waktu. Hal itu tampak dalam kasus Timoteus. Ia berkarunia membina gereja. Ternyata dari masih kecil karunia sudah diletakkan fondasinya. Sejak kecil ia mendapat pendidikan yang kondusif dari ibu dan neneknya (lih. 2 Tim.1:5). Sejak kecil ia suka membaca sastra rabi yang pada waktu itu disebut tulisan suci. (lih.2 Tim 3:15). Sejak masa muda ia berminat dan berprakarsa mengikuti kegiatan gereja dan sejak muda ia mempunyai reputasi baik di kalangan umat (Kis.16:2).Kasus Timoteus dan banyak kasus lain menunjukkan bahwa karunia-karunia rohani bukan pemberian dadakan, melainkan pemberian-pemberian melalui pembibitan. Dictionary of the Apostolic Church (cetakan tahun  1926)menerangkan bahwa karunia rohani bukan diberikan secara adikodrati, melainkan tumbuh secara alamiah dari masa kecil. Tulisnya,”…not as a supernatural endowment suddenly or by miraculous means vouchsafed…it was special gift of God…to enble Timothy…but also an original gift, capable of being wakened into fresh life by his own initiative.”Karunia adalah lalu lintas dua arahAllah memberikan dan manusia mengupayakan. Manusia berperan serta dengan menyediakan lahan (sejak masa kecil) bagi pembibitan karunia, kemudian menyuburkan, mengembangkan, dan membuahkannya. Allah hanya menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri. Allah hanya memberi karunia kepada orang yang mau bekerja keras mengembangkan karunia. Karunia tanpa upaya adalah karunia yang terpendam. Apa gunanya biji mangga Arumanis yang terus terpendam dan tidak menjadi kecambah, tidak menjadi tanaman, tidak bertumbuh dan tidak berbuah? Mana bisa kita menikmati mangga itu?Tuhan memberikan karunia, Tuhan yang menentukan segala sesuatu, dan  kita manusia mempunyai kebebasan dan tanggung jawab.Manusia mempunyai ‘kehendak bebas’. Persoalan ini secara sederhana dapat kita rumuskan sebagai berikut. Kalau manusia itu dapat diibaratkan sebagai kertas, maka pada waktu kita lahir itu kertas seperti apa yang kita peroleh? Apakah kertas putih, polos, kosong, tidak ada coretan apa pun? Artinya, kita mempunyai kebebasan yang sepenuh-penuhnya untuk menulis atau menggambar apa saja di kertas tersebut sesuai dengan kehendak kita? Ataukah kertas yang kita peroleh itu adalah kertas yang sudah penuh, tidak bisa kita tulisi apa-apa lagi, isinya cuma perintah yang sudah tidak bisa dibantah: petunjuk jalan yang harus kita lalui, atau semacam daftar belanjaan, shopping list, apa yang harus kita beli? Kita hanya harus melaksanakan apa yang diperintahkan, tidak bisa mengubah perintah itu sendiri. Kedua-duanya salah. Bukan kertas yang semacam itu yang kita peroleh. Jadi kertas macam apa? Kertas itu kosong, tetapi tidak kosong sepenuhnya. Dia seperti kertas ujian.Isinya adalah pertanyaan-pertanyaan. Dan kitalah yang harus menulis sendiri di atas kertas itu apa jawaban kita atas pertanyaan itu. Bebas, anda menulis apa saja di atas kertas itu. Tetapi anda akan dinilai lulus atau tidak lulus berdasarkan jawaban apa yang anda tulis. Tetapi kalau anda mau lulus, apa yang anda tulis itu sudah ada arahnya yang ditentukan. Dan arah ini bukan anda yang menentukan, tetapi Tuhan. Misalnya: anda tidak boleh mengarang cerita pendek sendiri di atas kertas itu. Jawaban anda sudah ditentukan dan dibatasi oleh pertanyaan yang ada-kalau soalnya adalah matematika, bukan ilmu bumi atau IPS. Kemudian, kalaupun anda menjawab matematika, matematika itu sudah ada rumusnya. Rumus ini juga bukan anda yang menentukan. Kalau 2+2=4, anda tidak punya kebebasan untuk mengatakan 2+2=5, tetapi pasti akan dicoret. Anda  tidak akan lulus. Benar yang menentukan lulus atau tidak lulus itu adalah guru yang memeriksa pekerjaan kita. Tetapi guru itu akan menilai berdasarkan apa yang kita tulis itu. Kalau kita mau memperoleh hasil yang baik, kita harus mau bekerja keras, mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Lulus ujian itu adalah karunia, di dalam arti kita berserah kepada Tuhan di dalam doa.  Berserah kepada Tuhan itu artinya, betul-betul kita menyerahkan diri dan menerima dengan ikhlas apa yang ditetapkan oleh Tuhan di dalam wewenang-Nya, kedaulatan-Nya, kebebasan-Nya! Hormati apa yang menjadi hak dan bagian Tuhan! Tetapi anda, saya, harus mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, porsi kita, kewajiban kita. Itu artinya berserah; kita mengerjakan bagian kita, dan mempersilahkan Tuhan mengerjakan  apa ang menjadi bagian Tuhan! Apa bagian kita? Berusaha sebaik-baiknya, rajin belajar, rajin berdoa dan bekerja sekeras-kerasnya. Dan apa yang menjadi bagian Tuhan? Menilai, mengambil keputusan mengenai apa yang kita kerjakan itu !Kita, manusia hanya merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Man proposes, God disposes. (r)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS