Pengertian Gereja dibagi dua yakni fisik dan spiritual. Gereja dalam artian fisik ialah bangunan di mana kita sekurang-kurangnya berkumpul di sana sekali seminggu. Sementara Gereja dalam artian spiritual adalah kumpulan orang-orang beriman yang percaya kepada Tuhan. Dalam persekutuan itu umat beriman merayakan imannya dengan liturgi, doa, dan kidung pujian. Jemaat yang berkumpul itu dipersatukan dalam iman, harap dan kasih dan Kristuslah sebagai kepalanya (Kolose 1:18). Kita berharap bahwa perkembangan Gereja harus meliputi dua aspek yakni fisik dan rohani. Bertambahnya gedung-gedung Gereja dengan bentuk bangunan yang kokoh kuat harus dibarengi dengan perkembangan iman jemaatnya yang lebih matang. Atau dengan kata lain perkembangan kuantitas dan kualitas harus sejalan. TANTANGAN KEHIDUPAN MENGGEREJA SAAT INIPaus Yohanes Paulus II yang dinobatkan menjadi santo pada tanggal 27 April 2014 pernah mengatakan bahwa tantangan yang dialami oleh Gereja sepanjang segala masa ialah Ateisme, hedonisme dan konsumerisme. Ketiga hal ini mampu mengakibatkan erosi iman bagi umat beriman. Ia memaparkan bahwa di belahan bumi Eropa dan Amerika, penganut Ateis ini berkembang pesat khususnya di kalangan kaum muda. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Gereja. Ateisme yang sama sekali tidak mengakui adanya Tuhan bisa mempengaruhi eksistensi iman umat beriman khususnya kaum muda yang stabilitas kepribadian dan imannya masih labil. Walaupun di negara kita komunitas Atheis tidak begitu besar namun tidak mustahil apa yang terjadi di Amerika dan Eropa bisa juga berkembang di sini kalau Gereja tidak membentengi diri dengan baik. Tantangan kedua ialah Hedonisme. Hedonisme adalah suatu paham yang meyakini bahwa sumber kebahagiaan dan masa depan ialah materi. Hidup adalah untuk mengumpulkan harta. Karena itu fokus utama mereka ialah materi (harta, uang, hal jasmani dan yang lain). Untuk mereka ini Gereja bukanlah sarana atau jalan untuk mencapai kebahagiaan dan kesenangan melainkan materi tadi. Maka gaya hidup orang yang sudah dirasuki paham hedonisme ini ialah hidup mewah, foya-foya dan pesta pora. Mereka meyakini bahwa sorga itu sebenarnya ada di dunia ini maka pikirkanlah hanya apa yang ada di dunia ini. Masa depan ada di sini dan bukan nanti.Mengapa ini menjadi tantangan bagi Gereja? Karena bisa saja model dan gaya hedonisme ini merasuki umat sehingga mereka tidak lagi menemukan nilai lebih dalam Gereja. Bisa saja umat merasa ke Gereja itu adalah buang-buang waktu dan sia-sia apalagi doa dan harapan mereka belum terkabul. Yesus sendiri mengatakan, "Di mana hartamu, di situ juga hatimu berada" (Mateus 6:21)Tantangan ketiga ialah konsumerisme. Konsumerisme agak mirip dengan hedonisme. Konsumerisme adalah sebuah paham yang dijadikan sebagai gaya hidup yang menganggap barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan pemuasan diri sendiri. Budaya konsumerisme ini bisa dikatakan sebagai contoh gaya hidup yang tidak hemat dan adanya keinginan memiliki barang-barang mewah walau tidak dibutuhkan. Jika budaya konsumerisme ini menjadi gaya hidup, maka akan menimbulkan suatu kebutuhan yang tidak pernah bisa dipuaskan oleh apa yang dikonsumsi dan membuat orang terus mengkonsumsi. Saat ini banyak dari beberapa bahkan semua lapisan masyarakat belum bisa memprioritaskan antara barang yang harus dipenuhi dengan keinginan belaka. Ringkasnya, aspek negatif yang bisa ditimbulkan oleh hedonisme ini ialah; persaingan tidak sehat, gengsi atau tidak tampil apa adanya. Mereka malu menunjukkan diri yang sebenarnya. Mengapa ini menjadi tantangan bagi Gereja? Lihatlah dampak dari barang-barang canggih itu mulai dari kendaraan, komputer, televisi dan khususnya media komunikasi seperti Hand Phone. Ekstrim saya katakan, pada hari Minggu barangkali lebih banyak jumlah hand phone di Gereja daripada jumlah umat sendiri karena ada umat yang memiliki lebih dari dua HP. Masalah utama bukan di situ tetapi penggunaan hand phone itu yang kelewat batas. Umat beriman tidak lagi fokus dalam perayaan dalam kesatuan dengan jemaat lain namun fokus dan asyik dengan diri sendiri ditemani alat-alat cangghih itu.Siapkah kita berhadapan dengan tantangan itu.PERAN PIMPINAN GEREJAPimpinan Gereja harus mampu dan jeli membaca situasi jaman. Karena itu memberdayakan organisasi yang ada di Gereja seperti organisasi kaum muda, ibu, bapa, dan juga kerjasama dengan pihak agama dan Gereja lain harus semakin dimantapkan. Pimpinan harus mengembangkan gaya pelayanan yang berbasiskan ke-umatan, artinya terjun atau istilah krennya blusukan. Pimpinan Gereja harus menciptakan program yang terarah dan terpadu bagi pelayanan umat beriman khususnya kaum muda. Selain itu program katekese atau pengajaran umat harus semakin digalakkan karena lewat cara ini umat diajak untuk semakin berpikir kritis akan kemajuan jaman. Lewat katekese jemaat mampu menyerap banyak informasi dan dengan itu juga mampu membangun komunikasi antar mereka. PERAN KELUARGADalam anjuran apostolic Familiaris Concortio (22 November 1981) tentang persekutuan keluarga, Paus Yohanes Paulus II menekankan arti dan peran Keluarga dalam dunia modern. Keluarga Kristiani ikut menghayati kehidupan dan misi Gereja, yang mendengarkan sabda Allah dengan khidmat serta mewartakannya dengan penuh kepercayaan. Begitulah keluarga Kristiani menjalankan peranan kenabiannya dengan menyambut setulus hati serta menyiarkan sabda Allah. Keluarga dari hari ke hari makin berkembang sebagai persekutuan yang beriman dan mewartakan Injil.Karena itu para orang tua harus ikut menciptakan ruang dalam rangka pengembangan iman di tengah keluarganya khususnya mendidik dan mengarahkan anak-anak mereka. Pendidikan iman usia dini diyakini mampu membentuk anak menjadi pribadi yang tangguh setelah mereka menjadi dewasa dan kemanapun mereka mengarungi kehidupan ini. Keluarga sebagai gereja kecil harus menjadi sarana subur bagi pertumbuhan iman dan ajaran Tuhan sehingga dengan demikian keluarga itu sendiri mampu menggarami Gereja. Kita tidak perlu takut berlebihan dengan tantangan yang dihadapi Gereja saat ini namun kita harus menyikapinya dengan serius. (d)