Medan (SIB)- Jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Agung Sei Rotan beri penghargaan kepada lima orang pendamping gereja (donator) yang selalu terlibat dalam pembangunan fisik gereja sampai berdiri permanen. Kelima tokoh tersebut adalah warga Gereja HKBP terdiri dari Ir Wasinton Pane, MSc/br Malau, PDE Pasaribu, SH, MH/br Silalahi, Ir JP Hutagalung/Inggried Lina Hutabarat, Ir P Sihombing/S br Simamora, dan Ir Hanok Sihombing.Majelis Jemaat/Ketua Pembangunan GKJ Agung Sei Rotan Kecamatan Batang Kuis Kabupaten Deli Serdang Kartiko menyebut mereka sebagai Pandawa Lima di GKJ Sei Rotan. Kalau dalam perwayangan Pandawa Lima memperjuangkan tahtanya atas kerajaan Hastinapura yang dikuasai Kurawa. Tapi “Pandawa Lima†HKBP ini adalah pejuang bagi GKJ Agung Sei Rotan, suka menolong dan membantu sehingga pembangunan fisik dan pengembangan iman jemaat dapat dicapai.Ucapan tulus itu disampaikan Kartiko pada pelepasan Pendeta GKJ Agung Sei Rotan, Pdt Rumondang Sitorus STh, yang pindah tugas menjadi Pendeta HKBP Resort Pardamean dan menyambut pemimpin baru Pdt Mince Laura br Hutagalung STh, Minggu (19/7) di GKJ Agung Sei Rotan, Kecamatan Batang Kuis, Deli Serdang. Pemberangkatan dan pentahbisan dipimpin Kadep Marturia HKBP Distrik X Medan-Aceh Pdt TP Nababan STh. Perlu diketahui bahwa GKJ Sei Rotan sudah 46 tahun di bawah Zending HKBP Sidorame Resort Medan Timur.Pelepasan Pdt Rumondang Sitorus diwarnai isak tangis oleh jemaat berjumlah 40 KK yang mayoritas suku Jawa tersebut. Karena selama 4,5 tahun jadi memimpin dia sangat dekat dengan jemaat dan bekerja keras sampai terbangun gereja yang permanen lengkap dengan fasilitasnya. Mereka berharap Pdt Mince Laura Hutagalung bisa meneruskan kepemimpinan tersebut dan lebih menumbuhkan kualitas iman dan kuantitas jemaat.Pdt TP Nababan dalam khotbahnya mengatakan, warga Kristen jangan hanya mengkhotbahi dan menasehati tapi harus ikut menolong. Seperti Tuhan Yesus memberitakan Injil, mengajarkan banyak hal sehingga orang tertarik dengan Kerajaan Sorga. Setelah berkhotbah di hadapan 5000 orang, Yesus juga memberi makan dengan mengumpulkan lima roti dan dua ikan, setelah didoakan yang sedikit itu pun cukup bahkan sisa 12 bakul.Missionaris Nommensen juga ketika menginjili di Tanah Batak tidak hanya berkhotbah, tapi memberi pengajaran ilmu pengetahuan dan kesehatan. Maka tidak heran kalau tahun 50-an setiap gereja HKBP memiliki sekolah dan balai pengobatan, sehingga pada tahun itu orang Batak dinyatakan bebas buta huruf. “Untuk itu lanjutkanlah generasi baru di tengah-tengah Tuhan lewat pengajaran di GKJ Agung Sei Rotan ini, jangan tinggalkan jemaat Kristen Jawa ini sehingga suku-suku makin bertumbuh,†terangnya.(A12/d)