Renungan

Sudahkah Anda Menikmati Roti Sorga ? (Keluaran 16:15)

*Oleh : Pdt Sunggul Pasaribu, MPAK
- Minggu, 02 Agustus 2015 13:36 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/08/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Saya tengah mengamati seekor elang ketika tiba-tiba elang itu berputar-putar dan melesat ke atas. Dengan sayapnya yang kuat, burung besar itu membubung semakin tinggi, menjadi sebuah titik kecil, kemudian menghilang.  Elang yang terbang itu mengingatkan saya akan pujian yang dinaikkan Yesaya: "Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya" (Yesaya 40:330,31). Luka hati dan tragedi dalam hidup dapat menghilangkan sukacita, daya tahan, kesabaran, dan kekuatan kita, serta membuat kita bertekuk lutut. Namun, jika kita menaruh pengharapan kita dalam Tuhan dan percaya kepada-Nya, Dia akan memperbarui kekuatan kita. Kunci ketahanan kita terletak pada pertukaran daya kita yang terbatas dengan kekuatan Allah yang tak terbatas. Dan kita wajib memintanya. Dengan kekuatan Allah kita dapat "berlari dan tidak menjadi lelah", meskipun hari-hari kita dipenuhi oleh berbagai kesibukan dan tuntutan. Dengan kekuatan-Nya kita dapat terus "berjalan dan tidak menjadi lelah", meskipun rutinitas yang menjemukan dan melelahkan membuat hidup kita terasa kering dan membosankan. Di tengah-tengah ziarah yang melelahkan dan penuh air mata pemazmur berseru, "Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau" (Mazmur 84:6).Umat Tuhan, bangsa Israel yang baru meninggalkan perbudakan di Mesir dengan cara keajaiban Tuhan melalui tindakan mujizatNya hingga sepuluh kali. Namun ketika mereka memasuki dan melintasi Padang Gurun Sinai, di sana mereka merasa seperti tersiksa, seolah mereka kembali dijajah. Di tempat inilah (Gunung Sinai) mereka dicobai kesetiaan imannya kepada Allah pemelihara, penuntun, dan penyelamat. Akan tetapi apa yang terjadi? Mereka justru bersungut-sungut kepada Musa sebagai pemimpin mereka (Keluaran 16:15).Oleh karena mereka bersungutsungut kepada Tuhan maka Tuhan pun mendengarkan mereka. Sikap Tuhan Allah dalam ceritera di kitab Keluaran ini untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah kehabisan makanan. Allah sungguh baik, Allah penuh kasih, Allah panjang sabar, Allah mengasihi umat kesayanganNya. Maka, Allah memberikan dan menyediakan burung puyuh dan roti manna.Dalam ceritera mengenai manna dan burung puyuh ini terpelihara beberapa unsur dari tradisi Yahwista, walaupun ceritera ini secara menyeluruh berasal dari tradisi Para Imam ini terasa dalam peraturan ketat mengenai pemungutan manna yang harus sesuai dengan hukum hari Sabat. Kenyataan bahwa manna dan burung puyuh dalam ceritera ini dibicarakan bersama-sama menimbulkan persoalan. Sebab manna dihasilkan oleh sejenis serangga yang hidup atas sejenis semak tamaris dan yang hanya terdapat di daerah tengah Semenanjung Sinai. Manna itu dikumpulkan selama bulan-bulan Mei-Juni. Sebaliknya di sekitar bulan September burung puyuh yang terbawa oleh angin dari sebelah barat dan kecapaian karena perjalanannya kembali dari Eropa melalui Laut Tengah dalam jumlah besar mendarat di daerah pantai, jadi di sebelah utara Semenanjung Sinai, (Bilangan 11:31, Kisah 16). Ini barangkali menggabungkan tradisi-tradisi yang masing-masing berasal dari dua kelompok orang Israel yang meninggalkan negeri Mesir pada waktu yang berbeda dan yang menempuh jalan yang berbeda pula (Keluaran 7:14, 11:1). Kedua peristiwa alamiah (manna, burung puyuh) yang menarik perhatian itu oleh tradisi dimanfaatkan untuk memperhatikannya perlindungan istimewa dari pihak Tuhan bagi umatNya. Makanan manna yang ajaib itu diluhurkan oleh Kitab Suci (Mazmur 78:18-19, 105:40, 106:13-15) dan kitab Kebijaksanaan Salomo (Amsal 16:20-29), dan dalam tradisi Kristen (Yohannes 6:26-38). Dalam tradisi manna itu menjadi lambang Ekaristi, santapan rohani bagi Gereja, ialah Israel sejati yang sedang menempuh keluarannya di bumi ini.Dapatlah kita mengatakan bahwa makanan yang kita cari di dunia ini adalah roti dan daging sebagai kebutuhan pokok, yaitu ; untuk mempertahankan daya tahan tubuh, untuk kesehatan, untuk kelimpahan dan kekuatan fisik kita. Sedangkan makanan untuk kebutuhan rohani kita berbentuk dari roti sorgawi, ini hanya bersumber dari Allah Bapa di Sorga, dan Dia berikan hanya kepada mereka yang percaya, mereka yang meminta, mereka yang berharap hanya kepada Tuhan saja.Kini makanan sorgawi itu ada dalam diri Yesus, ada dalam Firman Tuhan. Siapa yang percaya kepada Yesus maka dia akan selamat, siapa yang percaya dan hidup oleh FirmanNya maka kehidupan kekal akan menjadi miliknya. Selamat menikmati roti sorga. Amin.! (c)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS