Memahami Ke-Allahan Yesus Kristus Dalam Konteks Keyakinan

* Oleh: Pdt. Suardin Gaurifa, M.Th
- Minggu, 06 September 2015 11:13 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/09/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Yesus adalah pribadi unik yang mewarnai sejarah kepercayaan di dunia ini. Keunikan yang terletak pada keinsanian dan keilahian-Nya menarik perhatian insan manusia dari berbagai suku, bangsa serta kepercayaan untuk menyampaikan persepsi tentang keberadaan-Nya.Salah satu perdebatan teologi yang mendunia dalam kehidupan keagamaan adalah soal Ke-Allahan Yesus. Banyak pemahaman-pemahaman yang salah ketika melihat KeTuhanan Yesus dalam konteks kekinian. Kesalahpahaman tersebut sering menjadi tembok penghalang yang tebal untuk menancapkan iman secara kokoh di dalam Kristus. Bahkan penolakan keras terhadap pribadi Yesus oleh karena mis konsepsi kristologi tak terhindarkan pada zaman ini. Berbagai pandangan dipublikasikan oleh pecinta teologi dalam wujud yang beraneka ragam dan masing-masing meyakinkan orang lain dengan landasan berpikir yang diyakini kuat. Mulai dari cara pandang, tafsiran serta ideologi menjadi alasan terciptanya ruang perdebatan antara seorang dengan yang lain ketika mencermati kepribadian Yesus dan KeAllahan –Nya. Kesalingcurigaan dan penghakiman pun harus menjadi warna yang menyedihkan dalam ruang lingkup berteologi masa kini. Oleh karenanya, keputusan untuk memahami siapa Yesus yang sesungguhnya dari perspektif yang benar yang berimplikasi pada konteks masa kini adalah salah satu jalan keluar yang terbaik untuk meyakini keberadaan Yesus yang sesungguhnya. Sehingga bagi pengikut Yesus melalui iman dalam Yesus Kristus semakin diperteguh dan bagi orang yang tertarik untuk menemukan identitas Yesus yang sesungguhnya, tulisan ini menjadi jembatan untuk memperkaya wacana akan keunikan aneka kepercayaan di dunia ini.Praduga Dini  berujung KesalahpahamanSekian banyak kesalahpahaman yang mengarah kepada ketidaksetujuan akan Ke-Allahan Yesus Kristus harus mengukir muatan media berwujud buku-buku, artikel-artikel, majalah-majalah, dialog-dialog, bahkan dunia maya yang secara luar biasa menampilkan aspek keimanan kristen ini. Mulai dari kesalahpahaman rumusan iman Kristen yang menduga bahwa kekristenan “menjadikan manusia sebagai Tuhan” atau “Menuhankan Manusia” (seolah Orang Kristen terjebak pada jenis Iman yang ketika melihat keajaiban-keajaiban dalam hidup Yesus lalu mengangkat derajat Yesus sebagai Tuhan oleh karena kemampuan-kemampuan supranatural tersebut). Kemudian pernyataan bahwa Yesus adalah pribadi yang “diciptakan”. Kesalahpahaman terhadap gelar Yesus sebagai “Anak Allah” dalam Teologi Kristen (seolah Yesus adalah keturunan Allah secara biologis, yang melahirkan pertanyaan berikut “apakah Allah punya istri? Sehingga Allah punya anak yang namanya “Yesus”? Berikut anggapan negatif terhadap kematian Yesus di atas Kayu salib sebagai bukti bahwa Yesus bukanlah Allah (mana ada Allah yang bisa mati. Bukankah ketika seseorang mati itu menunjukkan bahwa dia bukan Allah?). Kemudian pernyataan bahwa adalah sesuatu yang tidak mungkin Allah mengambil rupa manusia. Sampai pada pendapat miring bahwa Yesus menjadi Tuhan dimulai sejak tahun 325 M dalam sebuah konsili yang namanya Konsili Nikea (jadi pendapat ini menuduh bahwa sebelum tahun 325 M orang Kristen belum meyakini bahwa Yesus adalah Allah, namun sejak tahun konsili tersebut barulah Ke-Allahan Yesus dimulai). Pandangan-pandangan prematur tersebut terjadi oleh karena menggunakan instrumen iman sendiri untuk menilai iman orang lain.  Ujung dari kesemuanya itu adalah kesalahpahaman dalam menterjemahkan iman KristenKaca Mata Yang benar Menghasilkan Penglihatan yang BenarUntuk menemukan kebenaran Ke-Allahan Yesus Kristus haruslah menggunakan instrumen yang benar. Yesus Kristus adalah Allah dalam iman Kristen dapat dipahami dengan rumusan teologis berikut:Pertama, bahwa iman Kristen tidak pernah menjadikan manusia sebagai Tuhan atau menuhankan manusia.  Rumusan iman Kristen yang benar adalah bahwa “Allah yang menjadi manusia” Perbedaan terhadap praduga sebelumnya jelas bahwa Allah yang mengambil rupa manusia. Sebagaimana dituliskan dalam Kitab Suci bahwa: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”(Yoh.1:1,14) Pada bagian lain Kitab suci menjelaskan bahwa : “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Fil.2:5-7).Alasan kuat mengapa Allah harus jadi manusia adalah; karena manusia yang berdosa.Oleh karenanya maka manusia yang harus menebus dosa itu. Akan tetapi kenyataan bahwa di dunia ini tidak ditemukan satu orang pun yang sempurna dan suci untuk layak menggantikan manusia. Dengan demikian manusia akan dibinasakan, akan tetapi karena kasih Allah akan dunia ini, Ia rela mengorbankan dirinya mengambil rupa manusia yang dalam teks asli Alkitab ditulis “ho logos sark egeneto”. Firman mengambil wujud daging/manusia atau Roh Allah masuk ke dalam daging. supaya penebusan itu dapat terjadi.Kedua, gelar “Anak Allah” bagi Yesus bukanlah berarti bahwa Yesus adalah keturunan Allah secara biologis, atau Anak Allah secara biologis. Harus diingat bahwa catatan Kitab Suci soal gelar Yesus sebagai “Anak Allah” dalam konteks pemikiran orang Yahudi tidaklah berbicara soal “keturunan biologis” tetapi bicara soal asal Yesus yang adalah dari Allah. Dalam Pemahaman orang Yahudi ketika Yesus menyebut diri sebagai Anak Allah maka itu dipahami sebagai Allah sendiri. Hal ini dapat dimengerti dalam Yohanes 10: 22-39. Pemahaman ini dapat dilihat dari perbandingan ayat 29-30 dan ayat 33. Disana Yesus menyebut diri sebagai Anak tetapi dalam ayat 33 orang Yahudi memahami sebagai pernyataan “Ke-Allahan Yesus.” Kemudian harus dicermati bahwa istilah “Anak” tidaklah selalu berbicara perihal keturunan biologis. Sebagai contoh “Anak Tangga” bukanlah berarti si Tangga punya anak dan istri tetapi “Anak Tangga” ya “Tangga itu sendiri”, “Anak Medan” bukan berarti Medan punya istri dan punya anak. Frase itu sesungguhnya sedang menjelaskan bahwa si Anak itu berasal dari Medan. Jadi sebutan “Anak Allah” bagi Yesus adalah istilah yang dipakai oleh karena menjelaskan tentang kelahiran-Nya sebagai manusia. Roh Allah yang masuk dalam daging dan dilahirkan bukan diciptakan. Selain itu “Anak Allah” adalah gelar Keilahian dan pernyataan ikrar secara langsung dari Yesus bahwa “Dia adalah Allah”, “Anak Allah” ya Allah itu sendiri dalam pengertian yang benar.Ketiga, Kematian Yesus di kayu salib adalah kematian unsur kemanusiaanNya. Dalam kitab suci dituturkan bahwa : “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh (1 Pet.3:18). Jadi kematian yang dialami Yesus bukanlah kematian Ke-Allahan Nya, tetapi kematian dari tubuh manusiaNya. Jadi unsur Allah dalam diri Yesus tidak pernah mati, sebab yang mati itu adalah tubuh manusiaNya.Kematian Yesus bukanlah berarti “kematian Allah”.Keempat, Konsili Nikea tahun 325 Masehi bukanlah pertemuan untuk meneguhkan atau mentahbiskan KeTuhanan Yesus. Tuduhan yang menyebutkan bahwa dalam Konsili Nikea itulah Yesus dijadikan Allah adalah tidak benar. Sebab tujuan Konsili Nikea yang digagas oleh Konstantin pada saat itu adalah  berhubungan dengan pertentangan teologis antara Alexander (Pemimpin Gereja waktu itu yang punya suksesi rasuliyah dari Markus) dengan Arius (imam biasa). Oleh karena khotbah-khotbah Arius yang menyesatkan dengan berkata bahwa “ada waktu dimana Firman belum ada” dengan demikian seolah memberi pengertian bahwa Yesus yang adalah Firman tidak kekal. Keadaan inilah yang membuat Kaisar Konstantin mengadakan sebuah pertemuan Gereja secara besar-besaran untuk memastikan kesesatan ajaran Arius soal “Firman”. Jadi Konsili Nikea sama sekali tidak memproklamasikan awal Ke-Allahan Kristus, tetapi muatan konsili Nikea adalah mengutuk ajaran Arius yang sesat itu.KesimpulanKetika melihat kisah hidup dalam Kitab Suci yang memunculkan peran kemanusiaan-Nya janganlah menjadi kaget, oleh karena Allah ketika menjadi manusia Dia tidak menjadi setengah manusia, tetapi manusia sepenuhnya. Yesus harus dilihat sebagai pibadi yang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Dalam Kitab suci kehidupan Yesus dituturkan bukan hanya unsur manusia Nya saja, tetapi juga unsur keilahian-Nya jelas bahwa Ia menciptakan (Yoh. 1:3; Kol.1:15-16), mengampuni dosa, kekal (Yoh.1:1; Mi.5:2, Yoh.8:58), maha hadir (Yoh.1:48), maha tahu (Yoh.6:64), maha kuasa (Mat.8:26-27), mengalahkan maut (bangkit dari kematian), dan lain-lain. Semuanya membuktikan Ke-Allahan Yesus Kristus.Meskipun banyak kesalahpahaman yang berujung pada pelemahan iman Kristen, secara khusus tentang Ke-Allahan Yesus yang adalah inti iman Kristen, tetapi harapannya adalah setiap orang dapat memahami siapa Yesus dalam kaca mata yang benar supaya membuka hidup untuk Yesus yang adalah Allah. (Penulis: Dosen STT Pelita Kebenaran Medan)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS