RENUNGAN

Hidup Benar di Tengah Ketidakbenaran

* Oleh: Pdm. Joel Nababan, STh
- Minggu, 06 September 2015 11:21 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/09/hariansib_Hidup-Benar-di-Tengah-Ketidakbenaran-.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Saudaraku, kita sekarang hidup di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kejahatan.  Kejahatan seumpama barang murah yang gampang ditemukan dimana saja, dan telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan manusia di berbagai lini.  Lihatlah pelaku-pelaku kejahatan jalanan alias Begal yang menghabisi korbannya demikian sadis. Belum lagi kejahatan sindikat narkoba, miras, seks bebas, pornografi yang telah menghancurkan jutaan generasi anak-anak bangsa, penipuan dengan berbagai modus operandi, kejahatan korupsi, pencucian uang, penyelewengan terhadap hukum, amoral, dll.Kekompleksitasan kejahatan yang demikianlah yang mengitari dan yang ada di sekitar orang-orang percaya (gereja). Dengan kata lain di tengah-tengah dunia yang tidak steril itulah orang percaya  hadir. Dan dalam situasi dunia yang demikian jahatnya itu,  tentunya bukanlah hal yang mudah  bagi orang percaya untuk mengimplementasikan imannya di tengah dunia yang kian runyam itu. Hidup benar di tengah ketidakbenaran,  kejahatan yang demikian kompleks itu tentunya bukanlah sesuatu yang gampang. Namun! Bukan berarti tidak bisa. Sebagai contoh kita dapat melihat kehidupan seorang anak manusia yang bernama Nuh. Alkitab mencatat dengan jelas bagaimana kebobrokan manusia pada waktu itu. Kejadian 6: 5 mengatakan "Kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata". Bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Ini menjelaskan bahwa manusia pada masa itu bukan hanya sikapnya yang jahat, tetapi juga dari hatinya memang cenderung untuk melawan Allah dan melakukan kejahatan terus menerus, dan  makin lama manusia semakin jahat. Kejahatan yang sudah demikian parah itu Allah respon dengan kalimat "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka (Kejadian 6:7). Di tengah-tengah dunia yang demikian bobrok itu dan respon Allah yang demikian marah terhadap bejatnya manusia pada waktu itu, seorang anak manusia tampil berbeda dengan manusia sezamannya. Alkitab mencatat bahwa Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Ini sesuatu yang luar biasa. Sementara orang-orang di sekitarnya berlomba-lomba di jalan ketidakbenaran tetapi Nuh tampil beda dengan mereka. Dia (Nuh) tidak terbawa arus laksana ikan mati. Nuh tidak terjerembab dengan perkataan "ini zaman edan" kalau tidak edan tidak kebagian, Nuh  juga tidak terjerembab ke dalam etika determinisme dimana Perilaku baik ataupun jahat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada di luarnya. Kalau lingkungannya, sekitarnya jahat maka ia pun akan masuk dalam lingkaran itu. Kalau lingkungannya melakukan korupsi, narkoba, amoral,  maka dia pun akan ikut di dalamnya. Tetapi Nuh mengambil sebuah keputusan untuk “hidup benar di tengah ketidakbenaran."Bagaimana dengan kita? Bisakah kita hidup  benar di tengah ketidakbenaran? Sebab Firman Tuhan mengatakan "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna amiin… Nats Bacaan  Kejadian 6:1-9. (Penulis adalah Ketua Biro Pemuda Gereja Pentakosta, dan aktif melayani di Gereja Pentakosta Mandala-Medan/f)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS