Bacaan yang diambil dari Injil Yohanes 15:9-17, isinya sarat dengan kosakata yang berhubungan dengan gagasan "kasih": saling mengasihi, tinggal dalam kasih memberikan nyawa demi sahabat-sahabatnya. Perlu diingat bahwa petikan ini diangkat dari bagian Injil Yohanes yang menyampaikan pengajaran Yesus kepada para murid selama perjamuan malam terakhir (Yoh 13:31-17:26). Ketika para rasul masih berkumpul untuk menanti kedatangan Roh Kudus maka Petrus mengusulkan agar diadakan pemilihan seorang murid untuk menggantikan posisi Yudas Iskariot. Syaratnya adalah seorang yang mengikuti Yesus sejak pembaptisan-Nya sampai Ia naik ke Surga karena seorang Rasul bertugas untuk bersaksi tentang Sabda, karya dan kebangkitan Yesus Kristus. Maka terpilihlah Matias menjadi pengganti Yudas Iskariot. Ia adalah pribadi yang setia, tekun dan bersemangat prihatin. Ia menjadi pewarta cinta kasih Allah dalam diri Yesus Kristus hingga ke Eropa. Dan makamnya terdapat di Trier-Jerman.Isi dari injil Yohanes 15:9-17 ini menuliskan tentang perintah Yesus untuk saling mengasihi. Alkisah, ada sebuah keluarga yang pernah mengalami badai. Cinta kasih di dalam keluarga itu adalah sebuah perjuangan istimewa setiap hari. Ceritanya demikian, ada sepasang suami dan istri yang usia pernikahan mereka sudah sepuluh tahun dan mereka dianugerahi dua orang anak yang baik-baik. Belakangan ini sang istri mencurigai suaminya karena ada perubahan perilaku suami dalam hal komunikasi dan sudah lama tidak melaporkan penghasilannya seperti lima tahun pertama pernikahan mereka. Kecurigaan istri semakin menjadi-jadi dan suami pun semakin salah tingkah. Ya, suaminya memang benar berselingkuh dengan salah seorang staff-nya di kantor. Ia berusaha untuk merahasiakannya. Tetapi apa yang terjadi? Istrinya sudah memiliki bukti-bukti yang jelas dan suaminya harus berkata jujur bahwa ia sudah lima tahun terakhir berselingkuh. Istrinya sangat kecewa. Ia menangis dan mau meninggalkannya tetapi ia masih memikirkan kedua anaknya yang tidak bersalah. Kemudian istri menitipkan anak-anak di rumah neneknya (Ibu si Istri) dan pergi ke sebuah rumah retret (retret, dalam bahasa Inggris : retreat artinya mundur, maksudnya : saat khusus untuk "istirahat" sejenak dari hidup yang penuh kesibukan, untuk berfikir, berdoa, refleksi, dll) di luar kota. Mereka berdua tinggal di sana, berdoa dan belajar untuk mengambil keputusan yang tepat bagi masa depan keluarga. Di rumah retret itu mereka punya banyak waktu untuk berdoa, berbicara satu sama lain, merenung, berjalan bersama di taman, makan dan istirahat bersama. Pada hari terakhir, suaminya masuk ke dalam kamar dan menemukan sebuah tulisan di atas kertas putih, bunyinya: "Saya lahir hanya satu kali. Saya memaafkanmu karena ternyata engkau juga manusia yang lemah. Saya mengasihimu karena engkau adalah bagian dari hidupku. Kita tetap bersama selamanya." Suaminya meneteskan air mata penyesalan dan pertobatan. Ia berlutut dan mencium kaki istrinya. Sekarang mereka saling mengasihi. Ini sebuah kisah keluarga yang dialami juga oleh banyak orang di antara kita. Cinta kasih itu butuh pengorbanan diri dan perjuangan istimewa. Cinta kasih yang benar butuh kerendahan hati dan saling mengampuni. St. Paulus mengatakan: "Kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain." (1Kor 13: 5). Kita sebagai manusia yang lemah gampang jatuh ke dalam dosa. Seringkali kita sendiri yang membuat diri kita berdosa, seperti seorang suami dalam cerita di atas. Namun, kita kagum dengan sikap istrinya yang "rela mengampuni" kesalahan sang suami. Kita berfikir sejenak, apa yang akan terjadi jika istri tidak mau memaafkan suaminya?, mungkin harga matinya adalah cerai. Dan jika cerai, bagaimana nasib kedua anaknya?. Sebagai manusia lemah hal diatas tidaklah gampang. Butuh pengorbanan dan perjuangan. Dan cinta kasihlah menjadi dasar semuanya itu. Ini Nampak dari jiwa sang istri yang begitu tulus membuka keran ampun dan maaf kepada suaminya sehingga membuka jalan lebar bagi hidup rumah tangga yang lebih rukun, damai, dan harmonis.Mari menilik diri kita. Apakah kita gampang jatuh ke dalam dosa atau gampang menaruh kasih kepada sesama kita?. Misalnya, dengan ucapan yang keluar dari mulut kita. Mulut kita sering membawa kita ke dalam jurang dosa yang amat dalam dengan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati orang lain, membuat orang lain kecewa, stres, atau bahkan kehilangan harga dirinya karena kita membeberkan kesalahan seseorang kepada orang lain. Paling ironis adalah memutarbalikkan fakta dengan mencemarkan nama baik orang lain, mengatakan orang itu yang bersalah padahal hanya sebuah jembatan untuk membenarkan dirinya sendiri. Dalam hal ini, sebagai umat beriman perlu menahan untuk bicara. Ada sabda Tuhan yang mengatakan ".....bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang (Matius 15:11)". Oleh karena itu semoga mulut kita tidak menjadi duri bagi kita sendiri maupun untuk orang lain. Ini sangatlah berbahaya karena seringkali dengan ucapan kita menjatuhkan oranglain dan tentu jauh dari praktek cinta kasih. Injil Lukas 6:45 mengatakan "Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya."Yesus memberi perintah baru kepada para murid-Nya untuk saling mengasihi. Mengapa mereka harus saling mengasihi? Karena Yesus menyadari bahwa kodrat-Nya sendiri adalah kasih (1Yoh 4:8.16), Ia berkata, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggalah di dalam kasihKu itu." (Yoh 15:9). Ketika kita mengikuti perintah Yesus yakni tinggal di dalam kasih-Nya maka dengan sendirinya kita juga tinggal di dalam kasih Bapa.Cinta kasih itu berasal dari Allah dan bahwa Dialah yang pertama-tama mengasihi kita. Ia selalu mengasihi kita apa adanya maka kita pun dipanggil untuk saling mengasihi satu sama lain. Praktek cinta kasih di zaman ini jauh lebih sulit. Mengapa? Ada banyak alasan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mari menilik dunia kita; perkembangan yang semakin deras dalam segala bidang, baik teknologi, informasi, sosial, dll sering kali menggeser nilai-nilai hidup seperti pengorbanan, kepedulian, keramahan, diganti ke nilai-nilai hidup yang semu yakni malas berjuang, budaya copy paste, dll Cinta kasih yang benar itu butuh pengorbanan bukan hanya sekedar berkata "Saya mengasihimu". Kasih yang agung dan mulia adalah kasih yang didasari oleh pengorbanan diri. Yesus berkata: "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yoh 15:13). Kisah pengorbanan Yesus karena kasih-Nya kepada kita, kisah perjuangan keluarga di atas mendorong kita untuk rela berkorban demi mempertahankan cinta kasih di dalam kehidupan kita masing-masing. Tuhan telah lebih dulu membuktikan cinta kasih-Nya kepada kita, tidak hanya rela berkorban bahkan rela mati di kayu salib. Maka, janganlah kita jengah untuk berbuat kasih, melainkan berlombalah berbuat kasih kepada semua orang, baik di Gereja, lingkungan kerja, tempat tinggal, dan dimana saja kita berada. Karena dengan melakukan tindakan kasih maka kita akan mampu menjalani hidup lebih damai. Jadi ibarat password menyambut damai. Tindakan kasih tidak hanya untuk orang-orang yang sudah berkecukupan, hidup mapan, segalanya terjamin, dan sejahtera tetapi untuk semua orang dengan apa adanya. Maka marilah kita menanam saham kasih kepada semua orang yang kita jumpai. Memilih menjadi mahluk mencintai (homo amoris) bukan menjadi serigala bagi sesamanya (Homo Homini Lupus), kata Thomas Hobbes. Pada hari ini Tuhan mengingatkan kita: "Kasihilah seorang akan yang lain", itulah hukum yang pertama dan terutama.