Supaya Eksistensi Gereja Dirasakan Masyarakat

* Oleh Thomson Martua Parulian Sinaga
- Minggu, 13 September 2015 15:27 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/09/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Sebuah tulisan di Sinar Indonesia Baru, Minggu, 5/4, sangat menantang dan menarik untuk dicari solusinya. Pada hari Paskah itu, di halaman pertama pula, tulisan "Eksistensi Gereja Kurang Dirasakan Masyarakat Luas," begitu menohok. Mengapa? Kita (Gereja Indonesia) sedang merayakan Paskah-yang merupakan perayaan kebangkitan pusat iman orang Kristen-dan disuguhi tulisan yang sangat relevan untuk direnungkan.Sangat sia-sia apabila tulisan itu dilewatkan begitu saja tanpa sebuah tanggapan positif yang konstruktif bagi Gereja. Dua inti tulisan tersebut yang sesungguhnya saling terkait: Pertama, Gerakan Oikoumene dan Antar-Agama mutlak perlu memerangi radikalisme. Kedua, Eksistensi gereja bergantung pada gerakan oikoumene dan itu kurang dirasakan masyarakat luas.Belajar dari Gereja BaratMeskipun konteksnya berbeda dengan Gereja Indonesia, kita dapat belajar dari Gereja Barat (Eropa) yang kini boleh dikatakan sudah ditinggalkan umat. Alasan utama mengapa Gereja di Barat semakin sepi adalah terjadinya sekularisasi sebagai buah dari pengalaman buruk sebelumnya antara masyarakat dan Gereja.Pengalaman buruk tersebut antara lain adalah bagaimana gereja menghadapi "ajaran sesat" (hal-hal yang bertentangan dengan ajaran resmi Gereja) dengan menghukum mati penganjurnya. Kalau ada temuan ilmu pengetahuan yang bertentangan dengan ajaran resmi Gereja, Gereja tidak segan-segan menghukum mati sang penemu. Secara politik kekuasaan pun, Gereja sangat dominan dengan wewenangnya untuk melantik para penguasa di negara-negara Eropa. Tanpa restu Gereja mustahil seseorang menjadi Raja atau Kaisar.Sekularisasi adalah proses yang sangat panjang di Barat yang bisa saja sudah dimulai dengan jatuhnya Konstantinopel (1453) ke tangan wangsa Utsmani, dilanjutkan dengan zaman Renaissance yang mengagungkan manusia (humanisme dan individualisme). Renaissance(harfiah: kelahiran kembali)adalah periode panjang peradaban Eropa sepanjang abad 14-17. Dalam periode ini terdapat Reformasi Gereja yang membuahkan Prostestantisme (1517-1648). Era ini disusul denganmasa Enlightenment (Jerman: Aufklarung, Pencerahan, abad 18-19), di mana terjadi revolusi Industri(1750-1850) yang bermula di Inggris dengan penemuan mesin uap oleh James Watt (1781), dan revolusi Prancis (1789-1799). Ironisnya, Gereja-yang sebelumnya begitu mendominasi kehidupan masyarakat sejak lahir sampai mati-justru berperan besar dalam semua proses ini. Gereja yang semula menjadi institusi penentu kehidupan manusia, mulai dari klaim penciptaan, pergerakan bumi dan matahari, ilmu pengetahuan, sampai pemimpin pemerintahan suatu negara, ketika keadaan berbalik kemudian ditinggalkan oleh umat.Implikasi revolusi industri adalah munculnya kaum proletar (kelas buruh). Gereja mengabaikan kelas baru ini (baca: tidak melayaninya) demi mengutamakan kelas borjuasi, yakni kaum kapitalis. Gereja menjadi milik orang berduit, sedangkan kaum buruh merasa asing di dalam gereja karena apabila mereka aktif di Gereja mereka harus meninggalkan kawan-kawannya, yakni kaum buruh yang lain.Kedua hal ini membuat Gereja dipinggirkan ke ranah private(pribadi).Dari proses sekularisasi dapat juga ditarik sebuah kesimpulan lain, bahwa dukungan pemerintah terhadap agama tertentu akan menimbulkan kemunduran bagi agama tersebut karena para pemuka agama itu akan menjadi lamban karena difasilitasi kekuasaan, sementara masyarakat akan kurang tertarik.Sehubungan dengan kemunduran Gereja di Barat, Pippa Norris dan Ronald Inglehart mengembangkan apa yang disebut teori keamanan eksistensial (Sekularisasi Ditinjau Kembali, Agama dan Politik Dunia Dewasa ini, 2009). Menurut mereka, semakin terjamin keamanan eksistensial seseorang semakin jauhlah dia dari kehidupan beragama. Keamanan eksistensial antara lain menyangkut pendidikan, keuangan, keamanan, kesehatan, tidak rawan dengan konflik, dsb. Teori keamanan eksistensial ini, menurut saya, hanya bisa diterapkan di Barat karena sejarah panjang sekularisasi itu.Gereja Indonesia harus Memikul SalibnyaIndonesia adalah bagian dari komunitas Asia dengan dua konteksnya yang khas: kemiskinan dan spiritualitas.Oleh karena itu, eksistensi Gereja di Indonesia sepenuhnya bergantung kepada kedua hal ini. Sebagaimana Yesus telah hidup menghamba dan memiskinkan diri secara sukarela, begitulah seharusnya Gereja hidup di Indonesia. Salib itulah jatidiri Gereja yang sejati. Ketika salib diganti dengan mahkota maka dia kehilangan makna sejatinya. Gereja harus menunjukkan sikap pada saat kesulitan masyarakat. Gereja pun tidak boleh mengganti salib dengan mahkota, yakni dengan menikmati kemewahan, kenikmatan duniawi, dsb. Searah dengan itu, Gereja juga harus menempatkan diri di pihak yang "tersalib" (tertindas, terbelakang, terzolimi, dsb) dan ikut memikul salib mereka.(* Penulis adalah alumni Universitas Indonesia, Ketua Sekolah Tinggi Guru Huria (STGH) HKBP, Seminarium Sipoholon/k)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS