Asap, Penderitaan Akibat Bersikap Kasar Atas Ciptaan Tuhan

- Minggu, 20 September 2015 13:21 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/09/hariansib_Asap--Penderitaan-Akibat-Bersikap-Kasar-Atas-Ciptaan-Tuhan.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Pdt Luhut P Hutajulu
Jakarta (SIB)- Kebakaran lahan di Sumatera dan Kalimantan terjadi lagi. Kesehatan masyarakat yang terpapar asap hasil pembakaran lahan pun terancam. Ancaman yang terus berulang-ulang setiap tahun. Produktivitas dan kualitas hidup warga menurun akibat bencana asap yang sebenarnya bisa dicegah. Pembiaran kebakaran lahan berulang sama saja dengan menyengsarakan jutaan warga. Beberapa hari terakhir kualitas udara di sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan memburuk. Di Padang, Sumatera Barat, misalnya, sejak pagi hingga sore, matahari tak terlihat sama sekali karena tertutup pekatnya asap. Jarak pandang pun jadi terbatas. Di kota Jambi, pekatnya kabut asap membuat dinas pendidikan setempat meliburkan kegiatan mengajar. Asap hasil pembakaran yang mengandung partikel dan gas misalnya sulfur dioksida(SO2), karbon monoksida (CO), karbon dioksida(CO2) dan nitrogen dioksida(NO2). Itu dapat menimbulkan iritasi pada tubuh antara lain pada membran mata, kulit, hidung, dan paru. Jika seseorang terkena asap, mata akan berair, hidung bersin-bersin dan berair, sakit tenggorokan, serta muncul dahak berlebihan. Sementara jika asap terhirup dan masuk ke saluran pernafasan, itu akan menyebabkan pembengkakan pada mukosa saluran napas. Hal itu akan memicu munculnya lendir berlebih dan memudahkan kuman mudah hidup sehingga bisa menimbulkan infeksi. Karena itu, setiap kali kabut asap menyelimuti sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan, kasus ISPA selalu meningkat.Mengapa kita menderita?  Mengapa kita menderita? Bagaimana kita menyikapi penderitaan? Menyikapi penderitaan memang membingungkan. Reaksi terhadap penderitaan memang berbeda-beda. Ada yang melarikan diri. Ada yang memberontak. Ada pula yang cenderung merasa pahlawan, merasa puas dan bangga bahwa ia menderita. Ada juga yang langsung menyerah kalah. Kalau begitu, apa sikap Yesus? Ternyata Ia menjalani dan memanfaatkan penderitaan. Memanfaatkan untuk apa? Untuk belajar. Belajar apa? Belajar menjadi taat. Tertulis,"Dan sekalipun Ia adalah Anak, ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya"(Ibr.5:8) Ia belajar menjadi tabah dan tekun untuk menghadapi dan menjalani penderitaan. Itu berarti Yesus belajar tabah dan tekun karena menderita.Di Indonesia 65 % dari bencana alam adalah bencana hidrometerorologi, yaitu berhubungan dengan iklim dan curah hujan seperti banjir, longsor, angin topan, air pasang, kekeringan, kebakaran hutan, dan gelombang laut. Berbeda dengan letusan gunung dan gempa yang tidak dapat dicegah, sebaliknya kebanyakan bencana iklim dan hujan sebetulnya dapat dicegah karena penyebabnya adalah kita sendiri. Banjir terjadi karena kita menebangi pohon, sehingga air hujan tidak tersimpan di dalam tanah. Lalu kita pun sembarangan membuang sampah, sehingga aluran air tersumbat dan sungai mendangkal. Longsor terjadi karena kita menebangi pohon di lereng. Naiknya air pasang ke daratan terjadi karena kita merusak hutan bakau di pesisir.Akhir-akhir ini pula jenis bencana alam lain. Di tengah musim kemarau tiba-tiba turun hujan lebat dan badai berhari-hari. Atau sebaliknya, di tengah musim hujan terjadi kekeringan. Akibatnya panen gagal. Jenis bencana ala mini disebut pemanasan global atau krisis iklim, dan ini yang paling berbahaya karena mengancam keberlangsungan hidup di bumi.Duduk perkaranya begini. Es yang ada di kutub Utara dan Selatan sejak ribuan tahun lalu kini mulai mencair karena suhu semakin panas. Akibatnya, permukaan air laut diseluruh dunia sedikit demi sedikit naik. Ada kemungkinan permukaan laut akan naik sampai tujuh meter sehingga pantai dan daratan rendah dis eluruh dunia akan tenggelam. Gejala lain adalah terjadinya cuaca ekstrem. Cuaca jadi sulit diprediksi. Terjadinya banjir disatu tempat dan kekeringan di lain tempat atau suhu sangat dingin di satu tempat dan sangat panas di tempat lain.Siapa penyebabnya?Pemanasan global dan krisis terjadi akibat perbuatan kita. Asap mobil dan motor, pabrik, pembangkit tenaga listrik, peternakan, dan penumpukan sampah memproduksi berapa macam gas yang memicu pemanasan global. Kebanyakan bencana alam terjadi akibat sikap kita yang keliru. Kita merasa diri mampu berbuat sewenang-wenang terhadap alam. Kita merasa diri kuat sehingga  bersikap kasar terhadap alam, sama seperti kita merasa diri kuat sehingga bersikap kasar terhadap kelompok minoritas. Kita memang mempunyai dua pilihan dalam sikap terhadap bumi, yaitu bersikap kasar dan sewenang-wenang, atau bersikap harmonis. Cerita penciptaan di Alkitab bagaikan menawarkan dua macam pilihan itu. Cerita penciptaan menururt mazhab Imam (Kej.1:1-2;4A)YANG DITULIS PADA AWAL MASA PEMBUANGAN BABEL abad ke-6 SM menawarkan manusia untuk"menaklukkan dan menguasai"(Kej.1:28;Ibr. Kabash artinya mengalahkan, dan radah  artinya menginjak-injak). Sebaliknya, cerita penciptaan menurut mazhab Yahwis (Kej.2:4b-3:24) yang ditulis pada masa kerajaan Daud abad ke-10 SM, menawarkan manusia untuk "mengusahakan dan memelihara"(Kej.2:15;Ibr.abad artinya mengabdi, dan syamar artinya melestarikan). Cerita penciptaan tradisi Imam berkonteks bumi yang basah dan hijau, sedangkan cerita tradisi Yahwis berkonteks bumi yang gersang. Lalu kedua versi itu disambung menjadi satu sebagaimana yang ada pada kita sekarang oleh para editor di Babel pada akhir masa pembuangan, atau pasca-pembuangan sekitar tahun 530 SM.Memang ada dua pilihan. Pertama, kita mencemari dan merusak bumi. Kedua, kita menyayangi dan memelihara bumi. Kita boleh memilih. Pilihannya terpulang pada kita.Memang selama matahari masih terbit di ufuk pagi, selama masih ada makhluk di muka bumi, selama itu memang penderitaan tidak bisa dipungkiri; tetapi selama itu pula tiap pagi, Tuhan memperbaharui supaya jalan derita bisa ditekuni!Selamat berjuang!. (Pdt Luhut P Hutajulu)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS