Hong Zhong Hai dari China, kakek 82 tahun, dinobatkan ke dalam jajaran 46 orang paling dermawan se-Asia Tenggara versi majalah Forbes. Bukannya tidak beralasan, kendati renta, dia rela berkorban demi kepentingan orang banyak. Hong tidak pernah merasa cukup untuk menyumbang dan memberi. Padahal, keadaan Hong saat ini sedang susah juga. Dia berjalan menggunakan skuter listrik sejak jatuh dari sepeda pada 2006 dan mengalami cedera tulang belakang pada 2011. Ia juga menderita penyakit pikun atau demensia dan mengalami kesulitan bicara. "Hidup saya sangat sederhana. Saya menghemat untuk diri sendiri, namun bersedia menyumbang dan memberi," kata Hong. Hong ikut wajib militer menggantikan sang kakak tahun 1945, saat usianya baru 16 tahun dan baru enam bulan menikah. Ia pun terjun dalam perang saudara, perang bom tahun 1958, dan sederet perang lainnya. Saat pulang kampung untuk pertama kalinya pada 1987, Hong mendapati istrinya telah menikah dengan orang lain. Sejak itu ia tidak menikah lagi dan memilih untuk hidup sendiri. Kehidupannya yang sederhana di rumah ini mencengangkan seorang perawat yang berkunjung ke rumahnya. "Saya melihat handuk yang sudah robek seperti sarang laba-laba, tetapi dia tidak ingin menggantinya. Ada pula sayur kubis yang dimasukan ke dalam penanak nasi listrik sampai lunak, bersama ikan kalengan dan roti kukus dimakannya selama seminggu. Usai makan ia hanya mengonsumsi empat butir anggur," ujar si perawat. Sebagian besar uang tunjangan pensiun Hong ditabung untuk disumbangkan di kemudian hari. "Hong Zhong Hai masih membutuhkan perawatan, menyewa perawat sehingga kami menyarankan untuk sementara menyimpan uangnya. Ia sendiri susah berjalan, tetapi tidak bersedia membeli kursi roda listrik," ujar pihak rumah sakit.Keadaan serba kekurangan sebenarnya tidak menjadi penghalang bagi orang untuk memberi. Memberi dari kekurangan adalah jauh lebih mulia. Kata pepatah, Anda tidak akan pernah kekurangan bila memberi, percayalah itu. Dalam perikop Injil hari ini, Yesus memuji persembahan janda miskin. "Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya. " (Luk 12:42-44). "Janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan," maksudnya ialah bahwa janda miskin itu memberikan seluruh dirinya, hal berharga yang dimilikinya. Ia memberi justru dari kekurangannya. Yesus memuji perbuatan janda itu, karena memang Allah mengukur persembahan bukan dari jumlah yang dipersembahkan tetapi dari kasih, pengabdian, dan pengorbanan yang terkandung dalam persembahan itu (bdk. Luk 21:1-4).Dalam Kisah Para Rasul dan dalam surat pastoral Paulus, janda merupakan isu penting bagi komunitas gereja awal. Janda yang masih muda sering harus berhadapan dengan berbagai tantangan sehingga Paulus sering menganjurkan agar mereka menikah lagi. (1Tim 5:3-16, secara khusus dalam ayat 14). Karena kaum janda tak termasuk dalam hukum keturunan Yahudi, maka yang menjadi perhatian para janda adalah sekedar hidup dari hari ke hari. Hidup sehari adalah cukup untuk sehari.Dalam Injil, Yesus memuji janda miskin, yang sekalipun menyumbang sedikit, namun ia memberikan dengan dan dalam ketulusan hati, seluruh nafkahnya. Janda miskin ini dipuji karena ia mendermakan kekayaan yang sedikit itu dengan seluruh hatinya, tanpa memikirkan apapun selain keikhlasan hati. Kita juga dipanggil untuk belajar dari janda miskin. Berani dengan ikhlas tanpa pamrih berkurban menyerahkan sebagian dari apa yang kita miliki untuk kepentingan sesama, itulah panggilan mulia yang hendak kita hidupi. Jumlah kecil yang dikurbankan lebih berharga dari jumlah besar yang tanpa disertai kurban. Cinta adalah keberanian untuk berkurban tanpa menuntut imbalan. Mengutip Mother Theresia dari Calcutta, "Lakukanlah (berikanlah) hal-hal kecil dan sederhana tetapi dengan cinta yang besar." (* Tinggal di Seminari Menengah - Pematangsiantar/f)