RENUNGAN

Yesus Teladan Revolusi Mental

* Oleh Pastor Yosafat Ivo Sinaga OFMCap
- Minggu, 15 November 2015 13:51 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/11/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
"Revolusi Mental" adalah salah satu mimpi yang diwacanakan oleh Jokowi sebelum ia terpilih jadi presiden atau pada saat kampanye. Apakah revolusi mental itu sudah terwujud  sampai sekarang? Beragam jawaban yang muncul misalnya; belum sama sekali, masih dalam proses dan sebagian sudah terwujud. Terlepas dari situ kita kerap mendengar kritik-kritik yang bernada sarkastik  dan tajam seolah-olah lambungan revolusi mental hanya di atas kertas saja.  Beberapa contoh disampaikan seperti korupsi yang masih merebak, kekerasan di tingkat masyarakat termasuk berlabelkan agama,  hukum dan disiplin yang belum tegas. Mengritik namun berdiam tidak memberi ide apalagi solusi sama saja omdo kata orang, omong doang. Gereja tidak boleh ikut arus omdo.Orang Yahudi mengharapkan Yesus sebagai pemimpin sesuai dengan angan-angan mereka yakni seperti pemimpin negara umumnya "super hero"; kemana-kemana diapit pengawal, tinggal di istana mewah, pemimpin yang punya pengaruh dalam pembuat kebijakan dan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat. Maka kaum Yahudi sangat kecewa ketika harapan mereka itu tidak nyata malah sebaliknya Yesus wafat di salib.Sebaliknya orang Kristen bangga dan mensyukuri peran kepemimpinan Yesus yang jelas bukan seperti pemimpin dunia. Ia adalah pemimpin yang datang dari atas dengan atribut kasih, pelayanan, hamba dan pengampunan. Inilah muatan revolusi mental yang dibawa oleh Yesus dan inilah yang perlu diteladani oleh elemen bangsa ini baik pemerintah maupun rakyat dan elemen Gereja baik pimpinan maupun jemaat. Datang Untuk  MelayaniSama seperti Anak Manusia, Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan  bagi banyak orang (Mateus 20:28). Misi Yesus ini jelas tertuang dalam pelayanan-Nya. Ia mengunjungi umat-Nya dan membawa kabar baik untuk mereka. Yesus hadir di dunia sebagai pelayan dan hamba. Ia mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2:7). Yesus dengan rela menanggalkan atribut ilahi-Nya dan mengambil rupa sebagai manusia sama seperti kita. Ini adalah satu bentuk pengabdian yang tertinggi ketika seorang Putera Allah mengambil tempat sebagai pelayan bagi hamba-hamba. Yesus tidak terbuai dengan statusnya sebagai putera tunggal Allah. "Revolusi mentalnya" nyata dalam tindakan Yesus menjadi pelayan dan hamba. Saat ini kita kerap dikuasai oleh mental tuan. Jabatan yang kita miliki bukan kita anggap sebagai amanah namun sebagai kesempatan untuk menunjukkan kesombongan diri, sebagai wadah untuk mendominasi orang lain. Kita bangga ketika memberi satu perintah dan orang lain tunduk manut melaksanakannya. Ini terjadi di semua lini kehidupan kita baik dalam keluarga, Gereja, dan juga dalam negara kita ini. Dalam keluarga tidak mustahil jabatan sebagai suami digunakan sebagai alat untuk memerintah se-isi rumah tangga dengan pola otoriter, dalam Gereja, jabatan sebagai kesempatan untuk mengatur dan dalam negara jabatan sebagai wadah untuk menunjukkan otoritas yang tidak bisa diganggu gugat. Kita harus kembali ke spiritualitas dasar bahwa jabatan itu adalah panggilan untuk melayani dan bukan menguasai. Semangat  KasihDalam Yohanes 3;16 dikatakan, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal." Yesus adalah wujud kasih terbesar dari Allah kepada kita. Yesus datang untuk menunjukkan betapa besar kasih Tuhan akan kita umat-Nya. Pelayanan Yesus sinkron dengan kehendak Bapa-Nya yang mengutus Dia, "Sama seperti Bapa mengasihi Aku demikian juga Aku juga mengasihi kamu  maka tinggallah di dalam kasih-Ku itu"  (Yohanes 15:9).Kasih itu meretas batas suku, daerah dan agama. Itulah kasih sejati yang diwariskan oleh Yesus kepada kita.Kasih itu akan menciptakan kedamaian dan persaudaraan. Kasih itu akan mendorong setiap orang untuk mengalahkan ego masing-masing dan mengedepankan kebersamaan. Kasih itu akan menginspirasi kita untuk melihat skala prioritas dalam hidup. Orang yang dikuasai oleh kasih maka tidak akan ada lagi kebencian karena kasih itu sendiri akan mengajak kita untuk saling menghargai dan mendukung kendati di masa lalu kita saling menyakiti, saling menyinggung perasaan, dan saling mengkritik habis-habisan tanpa dasar. Yesus sendiri bahkan mengajak kita untuk mendoakan orang yang menyakiti dan menganiaya kita (Mateus 5:44).Semangat  PengampunanMaaf adalah spiritualitas hidup umat beragama. Ini mau menandakan bahwa setiap orang tidak luput akan kesalahan. Kita dituntut untuk merajut kembali hubungan yang renggang karena salah paham, persaingan dalam tingkat masyarakat, negara (elite politik) dan dalam Gereja. Ungkapan maaf adalah jalan terbaik untuk menciptakan kembali rasa damai dan kasih persaudaraan yang sempat hilang karena gesekan itu. Yesus sendiri mengampuni orang yang mencambuki dan menganiaya diri-Nya saat mengalami sengsara menuju gunung Gologa. Ia berseru, "Iya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya" (Lukas 23:34). Mengampuni bukan berarti kita menyetujui perbuatan salah namun sebaliknya kita mendidik diri kita masing-masing untuk tidak saling menyakiti satu sama lain karena dampaknya cukup menyakitkan bagi kedua belah pihak. Semangat pengampunan akan mendorong kita masuk ke dalam level selanjutnya yakni membina relasi dengan semakin berwajahkan kasih persaudaraan. PenutupYesus telah menaburkan benih sabda untuk revolusi mental. Tiga poin di atas (melayani, kasih dan mengampuni) adalah jalan untuk perwujudan harapan itu. Revolusi mental berlaku dua arah; pertama bagi para pimpinan untuk mengadopsi spirit untuk melayani, memupuk semangat kasih dan pengampunan. Hendaknya mereka yang berada di kalangan atas itu atau mereka yang berlabelkan seorang pemimpin (dalam negara dan Gereja) harus menunjukkan semangat rendah hati dan menghilangkan ego masing-masing. Kritik emosional akan cenderung mau menjatuhkan saja tanpa ada keinginan memberi jalan dan solusi. Para pemimpin adalah pelaksana amanah rakyat dan jemaat. Kalau para elit politik dan elit Gereja sibuk mengurus argumen, kritik dan debat kusir kapan terwujud pelayanan yang maksimal untuk kepentingan bangsa dan masyarakat. Yesus sebagai seorang pemimpin pertama melaksanakan muatan revolusi mental itu. Ia melayani, mengasihi, dan mengampuni maka teladan-Nya itu harus menjadi inspirasi bagi para pemimpin menjalankan tugas kepemimpinannya.Arah kedua yakni bagi masyarakat dan jemaat. Semangat revolusi mental juga harus dimilik oleh tingkat basis. Basis yang umumnya diwarnai oleh perbedaan suku, budaya dan agama sangat rentan terjadinya gesekan baik karena kecemburuan,  persaingan, hasutan, dan konlik sosial yang lain.  Revolusi mental akan membuka mata dan pikiran masyarakat untuk berpikir kritis dan bertindak bijak. Masyarakat harus menumbuhkan semangat persaudaraan dan memiliki mekanisme control diri sehingga tidak mudah dihasut oleh siapapun untuk bertindak keras atau yang melawan hukum baik hukum negara maupun hukum Tuhan yakni hukum cinta kasih. Tuntutan revolusi mental tentu mengarahkan kita semua untuk berpikir bahwa kita adalah bagian dari yang lain. Ketika kita tergerak untuk saling melayani, mengasihi dan mengampuni maka revolusi mental itu akan nyata di semua lini kehidupan kita baik dalam hidup bernegara maupun dalam hidup menggereja. (d)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS