Bagaimana merayakan minggu-minggu advent?

* Oleh Pdt Luhut P Hutajulu MTh
- Minggu, 29 November 2015 14:41 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/11/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Sebelum waktu peringatan hari kelahiran Yesus gereja melaksanakan empat kali pesta Advent, yaitu waktu persiapan kedatangan Kristus yang kedua kali. Perayaan Advent telah dimulai sejak abad kedelapan dan berlaku sampai saat ini. Jemaat di Spanyol (mulai tahun 380) merayakan minggu Advent pada tanggal 17 Desember 380 sebagai pendahuluan dari minggu-minggu Ephipanias. Jemaat di Roma merayakan peringatan Advent itu dalam 5 minggu, bahkan di Milano dirayakan selama enam minggu sejak abad keenam. Tetapi kemudian peringatan Advent itu dirayakan selama empat minggu seperti yang biasa dilaksanakan di Indonesia. Minggu pertama Advent adalah antara tanggal 27 Nopember dan 3 Desember. Teologia minggu Advent yang selalu ditekankan dalam khotbah adalah sebagai berikut:1.Advent pertama: Perjanjian yang ada dalam Perjanjian Lama digenapi oleh Yesus pada waktu dia datang untuk membebaskan umat manusia.2.Advent kedua: Kesaksian dan pekerjaan Yohanes Pembabtis sebagai pendahuluan dari kedatangan Yesus.3.Advent ketiga: Pengharapan akan kedatangan Yesus yang kedua kalinya dan sebagai hari terakhir.4.Advent keempat: Waktu pertobatan pada hari Tuhan atau hari penghakiman.Biasanya warna kain penutup altar dan podium tempat berkhotbah pada hari minggu Advent ini adalah warna ungu atau violet.Bagaimana merayakan minggu-minggu advent? Adven (adventus.Latin) artinya  kedatangan. Minggu-minggu Advent, artinya minggu-minggu menantikan kedatangan Sang Kristus, Sang Mesias. Suasana atau sikap hati yang bagaimana yang harus ada, agar minggu-minggu Adven itu bena-benar punya makna? Minggu-minggu adven adalah empat hari Minggu sebelum Natal 25 Desember. Minggu Adven pertama adalah  permulaan tahun gerejawi. Mulai dirayakan oleh gereja sekitar abad ke-6. Liturgi masa adven ditandai dengan lagu-lagu penantian kedatangan Kristus, penyalaan lilin warna ungu, satu lilin pada Minggu Adven I, dua lilin pada Minggu berikutnya, dan seterusnya dan penggunaan warna ungu dalam dekorasi gereja. Makna AdvenKita hanya dapat memahami dan menghayati makna Adven, jika kita menyadari nasib buruk yang membelit kita, dan kesuraman masa depan yang  kita hadapi! Yang penting, kita menyadari bahwa hal yang menyakitkan itu adalah akibat ulah kita sendiri. Oleh karena itu, bukan hanya ada teriak kepedihan dan kesakitan, tetapi juga ratap penyesalan. Inilah suasana hati yang dapat kita rasakan ketika Israel berteriak kepada Tuhan, seperti yang kita baca dalam Yesaya 64:5-6:Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu  kala. Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.Menyadari, mengakui dan meratapi dosa-dosa serta kejahatan kita! Menyadari, mengakui dan meratapi betapa ngeri dan celakanya kita bila murka Allah itu sungguh-sungguh menimpa kita! Oleh karena itu, bukan saja mengaduh dan meratap, tetapi juga berharap kepada Allah, sungguh-sungguh merasa tergantung kepada Allah. Ayat 8 berbunyi,Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, kami sekalian adalah buatan tangan-Mu!Ada penyerahan diri yang sungguh dan penuh kepada Allah. Apakah Anda merasakan hal itu? Kemungkinan besar tidak. Hampir semua orang mengakui bahwa dirinya tidak sempurna, ada cacatnya, ada kurangnya, ada salahnya, ada dosanya! Anda juga begitu kan? Iya! Tetapi apa Anda menyesalinya? Benar-benar menyesalinya? Atau, dengan enteng, kita mengatakan, "Ya maklum aja deh. Namanya saja manusia? "Ini kecenderungan orang. Selalu menganggap enteng dosanya sendiri. Kalau dosa atau kesalahan orang lain? Wow, kita teropong pakai kaca pembesar! Tetapi dosa dan kesalahan sendiri, kita teropong pakai kaca pengecil. Amat sulit memaafkan orang lain, tetapi begitu gampang memaafkan diri sendiri. Selama sikap mental kita seperti ini, ya tidak mungkin kita bertobat. Kalau tidak merasa perlu bertobat, memperbaiki dan memperbaharui diri, kita juga tidak akan merasakan perlunya Juruselamat. Apa perlunya Juruselamat, kalau kita merasakan  safe dan baik-baik saja? Kalau tidak merasa memerlukan Juruselamat, kita juga tidak  merasa perlu menanti, berharap, dan merindukan kedatangan Sang Juruselamat, bukan? Adven jadi tidak punya arti.Ada saatnya kita betul-betul menantikan kedatangan seseorang. Wah, kalau sudah begini, satu menit rasanya satu jam. Satu hari, rasanya satu abad. Kenapa? Karena kita betul-betul memerlukan kehadiran orang itu. Celakalah kita, jika orang itu tidak datang! Kedamaian hati kita betul-betul tergantung pada kedatangan dan kehadiran orang itu. Oleh karena itu, ketika dari jauh kita melihat orang itu datang, betapa leganya  kita. Hati kita rasanya ingin bersorak! Kaki rasanya ingin berlari menyongsongnya! Tangan kita ingin segera memeluknya! Apakah ada perasaan seperti dalam diri kita sekarang ini? Anda mau menghayati makna Adven yang sebenarnya? Ikutilah resep Augustinus. Ia mengatakan, kita harus menyadari bahwa kita seolah-olah seperti orang yang sedang tenggelam. Sebab itu, kita meronta-ronta, tangan kita menggapai-gapai, kita berusaha mengangkat kepala kita dari dalam air. Untuk apa? Untuk mencari udara! Untuk bisa bernafas. Sebab kita tahu, itulah satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup! Kata Augustinus, semestinya orang Kristen itu mencari Tuhan seperti orang tenggelam mencari udara! Hidup kita senantiasa merupakan Adven.Martin Luther pernah berkata begini, "Orang hanya dapat mengalami manisnya dan indahnya anugrah pengampunan Tuhan, kalau ia menyadari betapa tidak berdayanya ia melawan dosa, dan betapa celakanya ia bila dosa itu tetap menguasainya! Hanya ketika kita merasakan betapa perlu kita ditolong, kita akan merasakan indahnya pertolongan itu!"Orang Kristen semestinya hidup dalam suasana Adven terus menerus. Hidup menantikan Yesus yang masih datang. Tetapi selalu ingat bahwa Yesus yang dinanti-nantikan itu adalah juga Yesus yang sudah datang. Karena itu, bagi orang Kristen. Yesus itu tidak hanya akan datang, tidak hanya sudah datang, tetapi juga sedang datang. Hidup dalam keyakinan bahwa Yesus sedang datang itu amat penting. Ada sekelompok kecil tentara Amerika yang terjebak dan kemudian terkepung oleh sepasukan besar tentara Vietnam. Wah, kalau dianalisa secara objektif, tentara Amerika itu pasti tidak bisa bertahan. Paling lama dalam waktu 5 menit, mereka pasti habis. Bayangkan; 6 lawan 70-an. Benar juga. Dari 6, tinggal 5, kemudian 4, kemudian 3 lawan 60-an orang. Yang terbaik sebenarnya adalah segera menyerah saja. Ditawan Vietnam memang menderita, tetapi masih ada kemungkinan hidup. Tetapi toh 3 orang ini bertempur terus, sebisa mereka. Apa sebabnya? Karena melalui radio, mereka  mendengar berita; "Bertahan terus sedapat-dapatnya! Bantuan sedang menuju ke situ!"  Bala bantuan sedang  datang! Itu yang memberi keberanian dan kegigihan kepada ketiga orang itu untuk terus bertahan dan tidak menyerah. Seperti itulah kita terus bertahan! Tetap bertahan! Bahkan bertahan dalam sukacita, karena Tuhan sedang datang! Alangkah malangnya kita jika tidak menyadari hal ini. Lalu kita buru-buru menyerah, karena kita pikir itulah yang paling bijaksana untuk menyelamatkan diri. Padahal, bala bantuan sedang datang! Godaan yang paling besar dalam keadaan seperti itu adalah ketidaksabaran. Lalu kita mencari jalan sendiri. Sebab satu menit rasanya satu jam, satu jam rasanya satu hari. Tidak sabar menanti saat Tuhan bertindak! Padahal Tuhan sedang datang menyelamatkan kita. O, kalau kita sabar. Kalau saja kita bertahan. Mereka yang menanti-nantikan Tuhan, akan mendapat kekuatan baru. Orang-orang muda bisa menjadi lelah dan lesu. Para taruna bisa jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan. Tuhan akan seumpamanya rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya. Mereka berlari dan tidak menjadi lesu. Mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (d)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS