Renungan

Panggilan Hidup Bermakna

* Pst. Benny Manurung,OFMCap.*)
- Minggu, 27 Desember 2015 15:16 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/12/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Saur Marlinang Manurung. Yah..teman-temannya biasa memanggilnya, Butet. Dia merasakan betul ketidakberdayaan Orang Rimba yang tak bisa baca tulis saat mereka seringkali dimanfaatkan "orang terang". Orang terang adalah sebutan yang diberikan Orang Rimba terhadap seseorang di luar komunitas mereka. Jerih payah Butet yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajar baca-tulis bagi suku Anak Dalam atau Kubu di Taman Nasional Bukit 12 (TNBD) dan Bukit 30, Jambi, sejak 1999 ini menunjukkan buah. Ia berhasil menjadikan hidup orang Rimba dan hidupnya sendiri berarti, meski ia sempat mendapat penolakan dari masyarakat Rimba itu sendiri karena menganggap pendidikan merupakan budaya luar dan bukan budaya Orang Rimba.Beberapa waktu yang lalu Butet menuliskan latar belakang panggilan dan dedikasinya untuk orang-orang terpinggir. Tulisan yang diberinya judul "Apa yang salah dengan Volunteer" sebenarnya menggambarkan visi Butet. Visinya ialah bahwa setiap orang dipanggil untuk HIDUP BERMAKNA. Saya cermati tohokan sekaligus kritikan tajam terhadap hidup itu sendiri justru terdapat di bagian akhir tulisan itu. Demikian ditulisnya, "Sekolah tidak ada hubungannya dengan banyaknya gaji yang akan kita terima. Demikian halnya prestasi (achievement), tidak selamanya diukur dengan uang. Teman saya, lulusan S-2 dari universitas negeri di Jakarta yang juga bekerja di hutan, pernah ditanyai seorang wartawan yang berkunjung ke rimba dengan penuh apriori, "Berapa gaji yang kamu terima untuk pekerjaan gila seperti ini? Kalau tidak besar, mana mungkin ada yang mau?" Teman saya menjawab dengan jengkel, setengah bercanda, "Kalau untuk mencari banyak uang, saya mendingan piara tuyul saja, Pak, bukan bekerja seperti ini. Uang bukan tujuan saya." Si penanya tentu tidak puas, tetapi bagaimana menjelaskan keindahan lautan kepada orang yang tidak pernah tahu apa itu laut. Lagi-lagi memang kembali kepada tujuan dan keberanian kita menjalani tujuan itu. Keberanian untuk menjadi berbeda dengan ribuan orang yang mengantre pekerjaan di kota. Pikiran-pikiran kami sering dianggap ajaib oleh kebanyakan orang. Sering juga setelah beberapa waktu bercakap-cakap mereka seperti disadarkan bahwa mereka juga ingin punya perasaan-perasaan seperti itu: melakukan hal yang disenangi, merasa bermanfaat. Kekayaan batin akan senantiasa membuat kita bergairah. Namun, tentu gairah akan berlipat ganda kalau kita bisa memberi manfaat bagi orang lain. Kerja sukarela tak hanya bisa dilakukan di hutan, di dunia politik, atau di medan perang, tapi bisa di mana pun. Tidak perlu bermimpi menyelamatkan bumi karena itu tugas Superman dan James Bond. Tak juga harus baik hati selemah Cinderella yang mengharap uluran Ibu Peri karena yang kita perlukan justru kekuatan dan keberanian. Tidak juga sibuk cari pengakuan atas yang kita lakukan karena yang kita cari adalah penghargaan kita terhadap diri sendiri. Tidak juga harus mengikuti petunjuk orang-orang terkemuka yang seolah berhati peri karena dalam beberapa kasus yang menumbalkan rakyat negeri ini ternyata malah didalangi mereka. Tak juga harus sepakat dengan saya. Seperti kita tahu, setiap orang memiliki ketertarikan, prioritas, dan kemampuan sendiri-sendiri. "Jadilah diri sendiri", sering sekali dikumandangkan di mana-mana. Sekali lagi, taruh gadget- mu, lihat lekat-lekat dunia di luar sana, lalu dengarkan hatimu. Sebab, kita perlu menghargai hidup yang hanya sekali ini. Bayangkan jika suatu hari, di usia 75 tahun, tiba-tiba kita merasa hampa dan baru tersadar bahwa kita belum melakukan apa-apa untuk menghargai satu kali hidup kita."Injil hari ini sebenarnya secara tidak langsung berbicara mengenai panggilan untuk memaknai hidup. Penginjil Lukas secara berulang membubuhi pertanyaan ini, "Apakah yang harus kami perbuat?" Dalam setiap detail pertanyaan Yohanes Pembaptis menyampaikan pesan moral, "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." Dengan demikian ia menandaskan panggilan atau semangat untuk berbagi. Kepada pemungut-pemungut cukai ditegaskannya juga, "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." Dan, kepada para prajurit diserukannya, "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." Hidup yang serba instan dan hedonis membuat kita kerap lupa kepada panggilan jiwa kita yang sejati, menjadi berarti dan bermakna. "Rasa bermakna" jauh mengatasi segala hal material, termasuk kerakusan akan uang. Mengherankan bukan, bila untuk uang yang fana dan sementara itu, manusia rela mengorbankan hidupnya yang sejati?!Dalam pertanyaan, "Apa yang harus diperbuat", juga terkandung seruan agar orang mau belajar mengubah diri, belajar memperhatikan sesama, belajar berlaku adil dan lurus. Keinginan inilah yang menjadi kenyataan hadirnya kekuatan-kekuatan ilahi yang datang mempersiapkan dan meluruskan jalan. Inilah kekuatan-kekuatan moral yang bakal menjinakkan kecenderungan serakah, main kuasa, curang dan pelbagai kenyataan buruk di dunia ini yang menjadi bagian kehidupan manusia. Bila terjadi, mulai jelaslah makna anjuran Yohanes agar orang memberikan sehelai dari "dua helai baju" kepada orang yang tak mempunyainya.Di tengah hiruk pikuk godaan dunia ini, seruan kenabian Zefanya kiranya menguatkan kita, "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan." (Zef 3:16-17). Barangkali baik juga kita selami kedalaman makna kata pemazmur, yakni agar kita senantiasa menghitung-hitung hari hidup kita yang singkat ini. Coba bertanya, "SEANDAINYA HARI INI ADALAH HARI TERAKHIR SAYA HIDUP" apa yang akan saya lakukan hari ini? Paling tidak, kita hendaknya melakukan yang terbaik buat orang-orang di sekitar kita. Dengan demikian hidup kita sungguh bermakna. Kesadaran bahwa hidup hanya sekali dan waktu tidak dapat diputar ulang, akan membuat kita menjadi pribadi yang berusaha senantiasa melakukan yang terbaik dalam hidup.  Perhatian yang kecil tapi tulus tanpa kita sadari akan memberi kebahagiaan juga buat diri sendiri dan orang lain. Berenunglah selalu, "Seandainya hari ini adalah hari terakhir saya hidup maka saya akan melakukan yang terbaik buat semua orang yang saya sayangi dan berarti buat hidup saya. Karena saya ingin orang-orang yang saya sayangi mempunyai kenangan yang indah bersama saya."Hidup hanya sekali. Jadikanlah hidup kita bermakna! (*Tinggal di Seminari - Pematangsiantar/d)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS