Bagi umat Kristen Indonesia, Natal dirayakan penuh dengan kedamaian dan juga sukacita. Namun bagaimana dengan umat Kristen yang berada di wilayah konflik atau pengungsian? Mereka mungkin merasakan Natal yang berbeda dari biasanya. Namun seorang gadis kecil yang harus menjalani Natal di pengungsian memberikan pesan yang sangat menyentuh di tengah keterbatasan yang ia alami.Dalam sebuah wawancara, Miriam seorang pengungsi dari Irak mengatakan bahwa tidak mengampuni para jihadis yang membuat keluarganya dan juga jutaan orang lainnya kehilangan rumah dan juga meninggalkan negaranya hanya membuat keadaan makin buruk. Sekalipun ia menyatakan bahwa dirinya sudah mengampuni mereka (ISIS), ada satu hal yang membuatnya sedih. “Saya tidak sedih karena kehilangan uang dan tempat tinggal,†demikian ungkap Miriam. “Saya tidak peduli dengan semua itu. Yang saya pedulikan adalah tanah air kami hilang. Gereja kami hilang. Banyak yang akan mengampuni namun ada lebih banyak lagi yang tidak. Kurangnya pengampunan akan menghasilkan dampak yang buruk. Tuhan memberikan kita pengalaman ini. Tuhan sedang menguji kita. Dia berkata kamu akan keluar dari tanahmu yang kamu cintai. ‘Tapi Aku mau melihat kamu mengampuni orang-orang yang menghalau kamu keluar, atau apakah kamu akan mengampuni mereka?’ Berkat Tuhan akan lebih besar bagi mereka yang mengampuni. Karena Yesus berkata untuk saling mengampuni, untuk saling mengasihi seperti Aku mengasihi kamu. Ini yang perlu kita pelajari: pengampunan.â€Wawancara dengan Miriam ditutup dengan pertanyaan apa yang menjadi mimpi dan harapannya untuk kehidupan setelah kehilangan begitu banyak hal. “Harapan saya bisa hidup dimana tidak ada perang,†demikian tuturnya. “Dengan tidak ada perang maka di sana akan ada kasih. Jika di sana tidak kasih maka tidak ada keadilan. Dan keadilan adalah yang memuaskan manusia,†demikian tutupnya. Natal adalah tentang pengampunan, karena Yesus datang ke dunia ini untuk memberikan pengampunan kepada manusia yang berdosa. Seperti Miriam katakan, mari belajar mengampuni bahkan kepada mereka yang telah menyakiti kita. Di masa Natal ini, mari kita juga berdoa dan berbagi untuk umat Kristen yang teraniaya dan dalam tekanan seperti para pengungsi dari wilayah Suriah dan Irak. (ABCNews.com)