Ephorus HKBP Pimpin MBO Gereja HKBP Rogate Medan

Rumah Tangga Sekolah Pertama Bagi Anak-anak

* 541 Anak-anak Ditahan di LP Tanjung Gusta Karena Kurang Pembinaan di Keluarga
- Minggu, 17 Januari 2016 15:53 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2016/01/hariansib_Rumah-Tangga-Sekolah-Pertama-Bagi-Anak-anak.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/ Horas Pasaribu
Ephorus HKBP Pdt Willem TP Simarmata MA dan istri br Purba, Praeses HKBP Distrik X Medan-Aceh Pdt Kardi Simanjuntak MMin dan istri br Pasaribu, Pendeta HKBP Resort Cinta Damai Pdt DR Deonal Sinaga, Pendeta HKBP Rogate Pdt Jona Togatorop STh dan seluruh Pa
Medan (SIB)- Ephorus HKBP Pdt Willem TP Simarmata, MA,  mengatakan, rumah tangga Kristen memberi moral yang kokoh kepada generasi muda. Semua itu dimulai dari rumah tangga yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anak, ayah dan ibu sebagai guru pertama bagi mereka. Itulah pentingnya rumah tangga, tempat berdoa, bernyanyi, bersekutu kepada Tuhan, berinteraksi berkomunikasi sehingga karakter anak-anak terbentuk dengan baik.Hal itu dikatakannya pada pesta Maeakhon Batu Ojahan (MBO) Gereja HKBP Rogate Resort Cinta Damai,Gaperta Ujung, Kecamatan Medan Helvetia., Minggu (10/1). Turut mendampingi Ephorus, Praeses Distrik X Medan-Aceh Pdt Kardi Simanjuntak, M.Min, Kepala Biro Jemaat Kantor Pusat HKBP Pdt Nekson Simanjuntak, MTh. Pendeta Resort HKBP Cinta Damai Pdt DR Deonal Sinaga, Pdt Jona Togatorop, STh, parhalado serta jemaat HKBP Rogate.“Itulah sebabnya HKBP menjadikan tahun keluarga di tahun 2016 ini, tahun 2013 sebagai tahun anak-anak Sekolah  Minggu, tahun 2014 tahun pemuda dan remaja HKBP, tahun 2015 tahun Perempuan. Semua itu adalah bagian dari keluarga, sehingga kita buat tahun 2016 ini sebagai tahun keluarga,” terangnya.Zaman dahulu, kebiasaan berkumpul selalu diterapkan keluarga orang Batak Kristen di bona pasogit. Makan bersama, berdoa, bernyanyi sebelum bekerja dan sekolah dan sebelum tidur. Namun sekarang kesibukan melanda keluarga, tapi meski demikan jangan total ditinggalkan. Tapi di dalam kesibukan dalam waktu tertentu harus dimanfaatkan untuk berkumpul.Di dalam keluarga itu, ibulah kata Ephorus sebagai tokoh pembangun moral dan prilaku dan sebagai tokoh yang arif. Seorang ibu selalu memantau anak-anaknya di dalam rumah, dia belakangan makan sebelum anak-anaknya kenyang, itulah warisan nenek moyang orang Batak zaman dahulu. Maka berkat “Soripada” (ibu), abang beradik, namarito selalu kompak, berkat bimbingan ibu di dalam rumah tangga.“Ibu dan ayah membawa anak-anaknya kepada Tuhan, sehingga kita tidak heran kenapa orang Batak banyak berhasil diperantauan, tidak hanya karena pendidikan yang tinggi. Tapi banyak yang berpendidikan rendah bahkan banyak yang tidak tamat sekolah tapi berhasil diperantauan. Itu semua berkat doa ibu yang selalu mendoakan anak-anaknya mulai melangkah dari rumah sampai ke perantauan manapun itu,”  jelasnya.Selain itu, kata Ephorus, di dalam keluargalah filosofi orang Batak juga dibangun dan diajarkan  kepada anak-anak. Itu harus dilakukan oleh keluarga Batak agar budaya dan bahasa Batak tidak punah, tidak hanya di keluarga, guru-guru sekolah minggu juga harus mewariskan filosofi Batak kepada anak anak Sekolah Minggu. Dia menceritakan bahwa ada 541 anak-anak menjadi narapidana yang ditahan di Lembaga Permasyarakatan khusus anak di Tanjung Gusta karena kasus narkoba. Jumlah itu cukup memprihatinkan, karena di usia anak-anak mereka sudah terjerumus oleh bahaya narkoba dan kejahatan lainnya.Seharusnya mereka masih duduk di bangku sekolah, masih bermain layaknya anak-anak pada umumnya.Tapi itu terjadi karena kesalahan di keluarga, tidak boleh disalahkan kenapa tidak ada Polisi atau Satpol PP, karena jumlah mereka sangat terbatas dibanding penduduk Indonesia 250 juta. “Semua tergantung orangtua bagaimana mendidik anak di dalam keluarga, sama juga dengan Tapanuli, dengan keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir, jangan salahkan Pemerintah Pusat, tapi itu tanggung jawab kita orang Batak. Makanya marilah kita didik anak-anak kita agar kelak mereka memperhatikan bona pasogitnya,” paparnya.Pesta tersebut dimeriahkan dengan penampilan lawak dan lagu Nai Malvinas. Turut hadir Kabiro Otda Pemprovsu Jimmy Pasaribu mewakili Plt Gubsu Ir HT Erry Nuradi, MSi, Kadis P2K Drs Marihot Tampubolon mewakili Pj WaliKota Medan Drs H Randiman Tarigan, MAP, Baringin Simanjuntak, SE, MSi, ketua pembangunan HKBP Rogate tahap ke 4, Ir Dorlan Sitorus, Ketua Pesat MBO DR S Pardede, Sekretaris R Silaban, Bendahara SP Sitorus, dll. (A12/h)


Tag:

Berita Terkait

Agama Kristen

Ekspor Sumut 2025 Tumbuh 14,78 Persen, Tiongkok Masih Tujuan Utama

Agama Kristen

Ops Keselamatan Toba, Satlantas Gelar Patroli Sore di Tanjungbalai

Agama Kristen

Plt Kajari Deliserdang Harap PWI Tetap Jadi Mitra Strategis

Agama Kristen

Rakernas PPTSB 2026 Sukses, Sepakati Regenerasi Organisasi dan Kerja Sama Pendidikan

Agama Kristen

Sentimen MSCI dan Bursa Asia Angkat Pasar, Rupiah, IHSG Hingga Emas Kompak Menguat

Agama Kristen

Almisbun Desak Kejati Sumut Tindaklanjuti Dugaan Kejahatan Lingkungan PT LTS