Medan (SIB)
Kebutuhan jagung di Sumatera Utara rata-rata 1,4 juta juta ton hingga 1,5 juta ton per tahun. Sedangkan produksi 1,7 juta ton per tahun.
"Produksi jagung ini paling banyak untuk kebutuhan pakan ternak di Sumut," ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, M Juwaini, Senin (24/2/2020).
Ia mengatakan, produksi jagung tertinggi di Sumut yakni Karo, Simalungun dan Dairi. Dengan produksi rata-rata 6,5 ton per hektar.
"Jagung lokal produksi Sumut rasanya manis. Antusias petani cukup tinggi menanam jagung sebab harganya menjanjikan. Di kalangan petani harga jagung mulai dari Rp3.500 hingga Rp 4.000 per kg dengan masa panen tiga sampai empat bulan," katanya.
Di Karo masa panen jagung rata-rata mencapai empat bulan, sebab mereka (petani) cenderung membiarkan jagung tersebut tetap ditanamannya sampai kering.
"Jagung di Sumut semuanya lokal, tidak ada impor jagung," ucapnya.
Ia menjelaskan, pada APBN 2019 Sumut mendapat alokasi bantuan benih jagung dari kegiatan pengadaan fasilitas bantuan benih bersertifikat Ditjen Tanaman Pangan untuk lahan seluas 35.900 hektar namun realiasinya 34.700 hektar. Sisanya benih untuk lahan bantuan benih dikembalikan ke pusat.
"Dari seluruh kabupaten di Sumut, tertinggi yang mendapatkan alokasi bantuan benih ini Simalungun 6.000 hektar, Mandailing Natal 4.250 hektar, Langkat 4.000 hektar, Nias Barat 2.200 hektar, Samosir 2.000 hektar dan Tapanuli Selatan 1.500 hektar, Karo dan Dairi juga masing masing 1.500 hektar," jelasnya.
Sementara untuk tahun ini, alokasi dana benih jagung tersebut diberikan untuk petani, Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) dan saat sedang diseleksi. Tanaman jagung tersebut 35 % berada di lahan beririgasi.
Rencana bantuan bibit jagung tahun 2020 untuk alokasi lahan seluas
52.500 hektar dan akan diberikan kepada 32 kabupaten kota. Masing-masing bantuan bibit lahan diberikan 25 kg benih per hektar," katanya.