Menteri LH: Banjir di Indonesia Bencana Ekologis

- Selasa, 21 Januari 2014 09:13 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/01/hariansib_Menteri-LH--Banjir-di-Indonesia-Bencana-Ekologis.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/int
Ilustrasi Banjir
Bogor (SIB)-Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya berpendapat banjir yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dewasa ini merupakan bencana yang dipicu faktor alam dan kerusakan ekologis."Banjir yang kita hadapi sekarang akibat kerusakan ekologis. Ekologi kita hancur total," kata Balthasar Kambuaya saat meninjau lokasi pembongkaran vila di Puncak, Bogor, Senin.Mengenai banjir di ibu kota dan sekitarnya yang terjadi dalam sepekan terakhir, dikatakannya, merupakan pengaruh Monsoon Asia yang terkonsentrasi di wilayah Jakarta dan sebagian Jawa Barat dengan curah hujan cukup tinggi secara bersamaan mulai dari hulu Sungai Ciliwung hingga hilir yang disertai dengan pasang air laut.Menurut Balthasar, jika dibandingkan banjir pada 2007 curah hujan saat ini tidak lebih dari 300 mm per hari, namun karena perubahan tata ruang yang meningkat pesat baik di kawasan hulu, tengah maupun hilir terutama untuk pemukiman.Secara umum laju kerusakan ekologis atau degradasi lingkungan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan terlihat dari penurunan luas tutupan hutan di Indonesia dari 49,37 persen pada 2008 menjadi 47,73 persen pada 2012 atau mengalami degradasi sebesar 1,64 persen dalam waktu empat tahun.Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung terjadi penurunan luas tutupan hutan dari 9,4 persen pada 2000 menjadi 2,3 persen pada 2010 atau mengalamii laju degradasi sebesar 7,14 persen dalam kurun waktu 10 tahun atau 0,7 persen per tahun.Kerusakan ekologis di DAS Ciliwung saat ini seperti meningkatnya lahan kritis dengan tingkat erosi dan sedimentasi yang tinggi, fluktuasi debit yang tinggi antara musim kemarau dan pengujan merupakan salah satu faktor penyebab kejadian banjir di Jakarta dan tanah longsor di beberapa daerah hulus DAS Ciliwung.Menurut dia, hal ini menandakan DAS Ciliwung semakin tidak sehat dengan perbedaan debit air musim kemara dan musim penghujan lebih dari 300 kali lipat."Semua terjadi karena salah manusia, perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan khususnya di Sungai Ciliwung dimana sampah dibuang ke sungai," kata Balthasar.Semua hal tersebut menjadikan beban yang harus ditanggung DAS Ciliwung semakin berat, kalau tidak didukung perencanaan tata ruang yang baik dan sinergis antara hulu dengan hilir.Tidak Sekedar Persoalan EkologisSosiolog Universitas Nasional (Unas) Nia Elvina MSi menilai bahwa penyebab banjir, khususnya di Jakarta, bukan sekadar persoalan ekologis."Karena persoalan banjir ini jika kita kaji sama seperti persoalan krisis ekonomi yang disebabkan oleh tindakan manusia, lebih tepatnya karena tindakan manusia yang tamak, dan akumulasi keuntungan yang terus-menerus," kata Nia Elvina di Jakarta, Senin.Memberikan ulasan mengenai persoalan mendasar banjir yang terjadi di Indonesia, khususnya daerah Ibu Kota Jakarta, dirinya tidak sepakat dengan pandangan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang menyatakan bahwa persoalan banjir Jakarta hanya sebatas persoalan ekologis dan lebih disebabkan oleh daerah penyangga, terutama Bogor."Saya kira itu kurang tepat," kata anggota Kelompok Peneliti Studi Perdesaan Universitas Indonesia (UI) itu.Karena itu, ditegaskannya bahwa penyebab banjir bukan murni faktor alam, atau jika jika meminjam istilah ekonom, bukan bersifat eksogen.Nia Elvina mengatakan bahwa persoalan banjir di Jakarta lebih banyak kepada persoalan manusianya, kebijakan yang sangat berpihak kepada kepentingan manusia yang tamak.  (Ant/x)


Tag:

Berita Terkait

Dalam Negeri

Delpin Barus Apresiasi Polda Sumut Bongkar Tambang Emas Ilegal di Tapsel-Madina

Dalam Negeri

Resimen Ekologi Gekira Dideklarasikan, Target Tanam 100 Juta Pohon

Dalam Negeri

Dukungan Investasi Tambang PT DPM Menguat di Dairi, Warga Minta Amdal Dipatuhi Ketat

Dalam Negeri

Pemkab Deliserdang Minta Desa Buat PerDes Tentang Juknis Ternak Babi di STM Hilir

Dalam Negeri

Dukung Program Ketahanan Pangan, Polsek Datuk Bandar Lakukan Cooling System

Dalam Negeri

Gerakan ASRI dan Arah Baru Kebijakan Lingkungan di Era Prabowo