Semester I Tahun 2018 Pertumbuhan Ekonomi Sumut 5,02 %

* Ekonomi Kuartal II-2018 Tumbuh 5,27%, Sri Mulyani : Saya Senang
- Selasa, 07 Agustus 2018 21:08 WIB

Medan (SIB) -Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2010 pada semester I (Januari-Juni) tahun 2018 tumbuh 5,02%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi di semester I tahun 2018  secara nasional  sebesar 5,17 %  atau pertumbuhan Sumut masih di bawah nasional.

 Hal itu diungkapkan Sabar Harianja, Plh Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Sumut di kantor BPS Jalan Asrama Medan, Senin (6/8).

Disebutnya, pertumbuhan tertinggi yakni pada lapangan usaha  jasa pendidikan sebesar 8,94% diikuti informasi dan komunikasi sebesar 8,29% dan jasa perusahaan 8,01%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada komponen pengeluaran konsumsi LNPRT yang tumbuh sebesar 9,09%.

Berdasarkan pendekatan produksi, katanya,  tiga lapangan usaha utama yaitu pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 21,09%, industri pengolahan sebesar 20,28% serta perdagangan besar eceran, reparasi mobil, sepedamotor sebesar 18,36%.  "Peranan ketiga lapangan usaha tersebut mencapai 59,73% terhadap total PDRB Sumatera," ungkapnya.

Ia menyebutkan, jika dibandingkan terhadap triwulan I tahun 2018, ekonomi di propinsi ini pada triwulan II tahun 2018 meningkat 2,18%. Dari sisi sektoral, lapangan usaha administrasi pemerintahan mengalami  pertumbuhan 4,52%, sedangkan  dari sisi pengeluaran  pertumbuhan tertinggi  dicapai oleh komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 10,26%.

Secara nominal, sebutnya, PDRB Sumut triwulan II tahun 2018 atas dasar  harga  berlaku mencapai Rp 182.018, 37 miliar dan PDRB atas dasar harga konstan 2010 mencapai 126.768,48 miliar.

Di triwulan II tahun 2018, katanya, sumber utama pertumbuhan ekonomi Sumut yakni pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 0,42%, diikuti perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepedamotor 0,41% serta konstruksi 0,35%.

Ekonomi Sumut triwulan II-2018 bila dibandingkan triwulan  sama tahun 2017 tumbuh sebesar 5,30%. Lapangan usaha jasa pendidikan  memiliki pertumbuhan tertinggi 9,79%, informasi dan komunikasi 8,38% serta jasa perusahaan 8,27%. "Semua lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif, lapangan usaha jasa keuangan tumbuh terkecil 0,66%," ujarnya.

Harianja menambahkan, struktur perekonomian Sumut pada  triwulan II tahun 2018 masih didominasi  tiga lapangan usaha utama yakni pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 20,82%, industri pengolahan sebesar 20,18% serta perdagangan besar eceran, reparasi mobil, sepedamotor sebesar 18,43%.  "Peranan ketiga lapangan usaha tersebut mencapai 59,43% terhadap total PDRB Sumut," ujarnya. 

Saya Senang

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2018 mencapai 5,27%. Merespons data BPS tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan capaian itu di atas target yang ditetapkan sebelumnya.

Menurut Sri Mulyani saat rapat dengan DPR target pertumbuhan ekonomi kuartal II-2018 ditargetkan 5,16%-5,17%.

"Ini di atas yang kami perkirakan. Kementerian Keuangan, yang mungkin Anda ingat, kalau nggak ingat ya saya ingatkan, di DPR kami memprediksi di Q2 adalah 5,16-5,17. Jadi kalau sekarang 5,27, itu lebih tinggi," ujar Sri Mulyani di Istana Presiden, Jakarta, Senin (6/8).

Sri Mulyani menjelaskan, pendongkrak pertumbuhan di kuartal II-2018 adalah konsumsi yang tumbuh 5,14%. Meningkatnya konsumsi dipicu upaya stabilisasi harga pangan, libur panjang Lebaran, hingga kebijakan THR dan gaji ke-13 untuk PNS.

Berbagai faktor tersebut berdampak positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2018.

"Berarti apa yang kita lakukan selama ini, seperti stabilisasi harga itu bisa menjaga, lalu hari raya, Puasa, libur panjang, itu menimbulkan pengaruh yang cukup bagus bagi kuartal kedua. Bergesernya panen, lalu THR dan gaji 13 itu juga memberikan hal yang positif," kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Selain itu Sri Mulyani menyoroti PMTB atau Pembentukan Modal Tetap Bruto yang rendah. Selama 3 kuartal sebelumnya PMTB mencapai 7%, tapi kini turun menjadi 6%.

"Dari sisi permintaan, yang agak turun adalah investasi, saya melihat itu agak di bawah yang kita harapkan. Itu harus kita sikapi secara hati-hati, apakah kemarin karena libur panjang, karena dari manufaktur juga rendah, jadi mungkin ada korelasi. Trade off antara konsumsi yang jadi bagus, tapi manufaktur dan investasi agak lemah," terang Sri Mulyani.

Terakhir, Sri Mulyani menegaskan masih ada PR yang perlu diselesaikan yaitu ekspor yang lebih rendah dibanding impor serta menggenjot investasi.

"Kita masih punya PR untuk terus memacu investasi, agar dengan pertumbuhan di atas 5,2% tidak menimbulkan komplikasi dari sisi neraca pembayaran, karena kalau ekspornya terlalu lemah dan impor terlalu rendah, maka pertumbuhan ekonomi akan menimbulkan tekanan pada neraca pembayaran. Itu yang mungkin saya sampaikan, tapi overall saya senang dengan data itu," tutur Sri Mulyani. (A2/detikfinance/f/h)


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Pasca Jadi Tersangka, Kadis Koperasi dan UKM Sumut Jarang Masuk Kantor

Ekonomi

Kasum TNI Tinjau Rehabilitasi Sekolah dan Jembatan Pascabencana di Tapteng

Ekonomi

Sekda Samosir Sudah Tiga Kali Diperiksa Kejari Terkait Kasus Dugaan Korupsi Bansos

Ekonomi

Tingkatkan Profesionalisme Personel, Polres Tanjungbalai Gelar Pelatihan Fungsi Teknis Lantas

Ekonomi

Wabup Tapteng Dampingi Kasum TNI Tinjau Penanganan Pemulihan Bencana di Tukka

Ekonomi

Kemenimipas Drop 30 Ribu Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Bencana di Hari Bhakti Imigrasi