Rupiah Terpuruk, BI Intervensi Pasar Rp 7,2 Triliun

- Kamis, 06 September 2018 20:40 WIB

Jakarta (SIB) -Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bank sentral telah menggelontorkan dana sedikitnya Rp 7,2 triliun untuk mempertahankan nilai tukar rupiah yang terus melemah. Langkah stabilisasi itu antara lain dengan melakukan intervensi di pasar valuta asing hingga membeli surat berharga negara di pasar sekunder.

Intervensi pasar dilakukan sejak Jumat pekan lalu, 31 Agustus 2018. "Hari Jumat kami sampaikan Rp 4,2 triliun, lalu Rp 3 triliun kemarin, saya akan cek lagi berapa," ujar Perry di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (4/9).

Perry menuturkan di tengah gempuran terhadap nilai tukar, BI akan semakin mengintensifkan tindakan intervensi itu. "Kami juga akan melakukan intervensi dalam jumlah besar di pasar valas," ujarnya.

Selain melakukan intervensi ganda, langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia antar lain membuka swap dan terus berkoordinasi dengan pemerintah agar segera menurunkan defisit transaksi berjalan.

Pemerintah memang tengah melakukan sejumlah langkah guna memperkecil defisit neraca berjalan itu. "Contohnya untuk B20, kalau tahun ini bisa menurunkan impor US$ 2,2 miliar, tahun depan bisa mengurangi impor minyak US$ 6 miliar," kata Perry.

Belum lagi, pemerintah kini tengah mengupayakan ekspor crude palm oil alias CPO yang diprediksi bisa menurunkan defisit neraca berjalan US$ 9-10 miliar. Ditambah, pemerintah juga tengah menggenjot sektor pariwisata yang bisa menyumbang sekitar US$ 3 miliar. "Itu kan besar, Dari dua itu saja sekitar US$ 12-13 miliar," kata Perry.

Apalagi, saat ini pemerintah juga tengah mempersiapkan beberapa kebijakan, misalnya soal Pajak Penghasilan impor hingga penundaan pengerjaan sejumlah proyek infrastruktur. Dengan demikian defisit neraca berjalan, menurut Perry, akan semakin mengecil dan berimbas pada meredanya tekanan terhadap rupiah.

Perry mengakui masih ada ancaman tekanan terhadap rupiah dari kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serika, The Fed, sebanyak 2-3 kali lagi pada tahun depan. Namun, ia meyakini kenaikan itu tidak setinggi tahun ini. "Kalau soal ketegangan perdagangan memang sulit untuk diprediksi," ujar Perry. "Semoga ada solusi dari ketegangan perdagangan, sehingga risiko di pasar keuangan global berkurang," sebutnya. (T/h)


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Ketua MUI Labura Ajak Umat Muslim Saling Hargai Perbedaan Awal Puasa Ramadan 1447 H

Ekonomi

Rayakan Imlek, KAI Divre I Hadirkan Pertunjukan Barongsai di Stasiun Lubuk Pakam

Ekonomi

Jalan Menuju Nias Utara Bagaikan Kubangan Kerbau, Hambat Aktivitas Warga

Ekonomi

TI Asahan Gelar Seleksi Atlet Untuk Persiapan Kejuaran dan Porprovsu

Ekonomi

Sarang Narkoba dan Judi di Jermal Ditindak, Wakil Ketua DPRD Kota Medan Apresiasi Kinerja Kapolrestabes

Ekonomi

Polres Labuhanbatu Sukseskan Senam Sehat dan Fun Run HPN 2026 di Rantauprapat