Sri Mulyani Berharap Bank Tahan Walau Rupiah Sudah Rp15 Ribu

- Senin, 08 Oktober 2018 13:45 WIB

Jakarta (SIB) -Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap perbankan nasional bisa bertahan walaupun nilai tukar rupiah terus melemah. Menurutnya, ada dua indikator yang perlu diperhatikan perbankan agar di tengah pelemahan rupiah seperti sekarang mereka tetap tahan banting. 

Indikator pertama, rasio kecukupan modal (capital adequacy ration/ CAR). Kedua, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Ia berharap dua indikator tersebut bisa terjaga baik.

Ani mengakui untuk masalah kredit bermasalah muncul ancaman dari kebijakan kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan oleh BI guna mengimbangi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS). "Memang ada konsekuensi dari kebijakan seperti itu, makanya perlu kehati-hatian, apakah dari sisi CAR, NPL maupun likuiditas mereka," katanya di Jakarta, Jumat (5/10).

Tak hanya sektor perbankan, Ani juga berharap korporasi dan juga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bisa memperbaiki pengelolaan utang mereka. Pengelolaan utang yang serampangan di tengah pelemahan nilai tukar bisa berdampak terhadap peningkatan rasio kredit bermasalah perbankan. 

"Dilihat dari sektor ekonomi lainnya juga, apakah mereka terpapar terlalu banyak dari sisi mata uang, apakah mungkin juga dari sisi utangnya. Kami juga akan melihat itu semua dalam konteks stabilitas sektor keuangan," katanya.

Ani yakin perbankan nasional bisa menyesuaikan diri dengan perubahan ini karena indikator perbankan masih ia anggap baik. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melansir angka NPL tercatat 2,73 persen dan CAR di angka 22,56 persen sampai Juli 2018 kemarin.

Angka NPL itu membaik dari 2,9 persen dan CAR pun tak berubah banyak dari posisi Januari yang masih sebesar 23,43 persen. Padahal pada saat bersamaan, rupiah terus mengalami pelemahan.

"Jadi kalau mengalami adjustment hingga Rp15 ribu, saya rasa ini akan terjadi perbaikan di perbankan," imbuh dia.

Sebelumnya,OJK menyebut perbankan Indonesia masih bisa bertahan walaupun nilai tukar rupiah terus melemah. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan perbankan mendapatkan tenaga dari kenaikan harga komoditas yang akhirnya mengerek pertumbuhan kredit.

Bangkitnya harga komoditas menggerakkan kredit pengolahan batu bara, kelapa sawit, hingga konsumsi. Di samping pertumbuhan kredit, Wimboh juga mengatakan likuiditas perbankan masih kuat. Bahkan OJK mencatat adanya kelebihan likuiditas di sektor perbankan mencapai Rp500 triliun.

"Jadi perbankan tidak terlalu khawatir akan hal itu. Secara agregat atau individual tidak ada masalah,"kataWimboh, kemarin. (CNNI/l)


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

PSMS Menangi Derby Sumatera Lawan Persiraja di Banda Aceh

Ekonomi

PDIP Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Medan Labuhan

Ekonomi

BPS: Nilai Impor Sumut Turun 5,23 Persen

Ekonomi

Medsos Rawan Informasi Tak Berimbang, Dinkes Medan Ajak Warga Percaya Media Massa

Ekonomi

Maha Sendi S Milala Ketua KORMI Kabupaten Karo 2026 - 2030

Ekonomi

Polisi GSN di Pinggiran Rel Kereta Api, Enam Orang Diamankan