Keok Lawan Rupiah dan Dolar AS, Euro di Level Terlemah Sejak 2017

Redaksi - Rabu, 12 Februari 2020 12:10 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_5447_Keok-Lawan-Rupiah-dan-Dolar-AS--Euro-di-Level-Terlemah-Sejak-2017.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
finance.detik.com
Ilustrasi : Euro

Jakarta (SIB)

Mata uang euro mengalami pelemahan yang sangat dalam terhadap rupiah pada perdagangan Senin (10/2) kemarin. Nilai tukarnya nyaris menjadi yang terpuruk sejak 3 tahun terakhir. Bahkan, mata uang ini pun merunduk melawan dolar AS.

Pelemahan euro ini disinyalir karena ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral euro/European Central Bank (ECB) memudar, yang membuat nilai tukar euro terus tertekan.

Mengutip Refinitiv, akibatnya euro mengakhiri perdagangan Senin di Rp 14.935,79/EUR, menjadikannya terlemah 0,16% di pasar spot. Level ini merupakan yang terlemah sejak Juni 2017 silam.

Sepanjang tahun ini pun, rupiah terus menguat melemahkan euro hingga lebih dari 4%. Sementara pada Selasa (11/2), pukul 9:51 WIB, euro melemah 0,05%, di level Rp 14.928,96/EUR.

Euro juga ikut merunduk 0,31% ke US$ 1.0909 Senin melawan dolar AS, hingga awal tahun ini euro terus terpuruk 2,7%. Namun, selama pagi euro sedikit menguat 0,04% ke US$ 1,0913. Hal ini didasari karena ekonomi zona euro yang memburuk.

Selain itu, penyebaran virus corona masih menjadi isu utama pasar finansial hingga hari ini. Berdasarkan data dari ArcGis, total korban meninggal akibat virus corona kini menjadi 1.016 orang dan telah menjangkiti lebih dari 43.000 orang di berbagai negara.

Perlambatan ekonomi kini menghantui pasar global, hasil riset S&P menunjukkan pertumbuhan ekonomi China bisa terpangkas 1,2% akibat virus corona. Negara-negara lain tentu akan ikut terseret arus buruknya ekonomi.

Berdasarkan data Jumat pekan lalu, Destatis melaporkan produksi industri Jerman bulan Desember turun 3,5% month-on-month (MoM). Penurunan tersebut merupakan yang terbesar dalam dalam satu dekade terakhir.

Sebagai motor penggerak ekonomi Eropa, Jerman juga terancam mengalami perlambatan ekonomi ini, sebab tingkat ekspor yang diprioritaskan oleh Jerman ikut terpukul ketika ekonomi China melambat.

Hal itu bisa terlihat saat perang dagang AS-China sudah menunjukkan bagaimana Jerman terpukul, bahkan sempat terancam mengalami resesi pada tahun lalu. Dampaknya, kurs euro terus terpuruk. (detikFinance/q)

Berita Terkait

Ekonomi

Brimob Polda Sumut Gelar Patroli Skala Besar, Antisipasi 3C dan Begal di Medan

Ekonomi

Balap Liar Ganggu Arus Lalu Lintas di Depan Mie Gacoan-SPBU Simpang Mangga Rantauprapat

Ekonomi

Pemko Medan Bantah Larang Jualan Daging Non Halal, M Sofyan: Menata Usaha Agar Tertib

Ekonomi

IGD Tetap 24 Jam, RSU Haji Medan Atur Jadwal Rawat Jalan Saat Ramadan

Ekonomi

Antisipasi Penyakit Masyarakat saat Ramadan, Polres Tanah Karo Amankan 10 Orang dari Rumah Kost

Ekonomi

DPD Kombat Deliserdang Bagikan Ratusan Paket Takjil di Sunggal