IMF Tawarkan Lagi "Obat Lama" yang Terbukti Gagal

Redaksi - Jumat, 21 Februari 2020 14:46 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_6766_IMF-Tawarkan-Lagi--quot-Obat-Lama-quot--yang-Terbukti-Gagal.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
ekonomi,bisnis.com
Ilustrasi

Jakarta (SIB)

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali menawarkan kepada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia untuk melakukan intervensi pada valuta asing (valas) guna mendatangkan aliran modal asing. Padahal, sistem intervensi itu telah terbukti gagal di masa lalu karena menyebabkan nilai tukar (kurs) runtuh secara tiba-tiba.

Ekonom FEB Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Aloysius Gunadi Brata, mengatakan intervensi valuta asing cuma bermanfaat untuk jangka pendek. "Selain menghabiskan devisa, formula yang ditawarkan IMF itu tidak menyelesaikan masalah fundamental. Seharusnya yang diawasi itu neraca perdagangan dan utang luar negeri," katanya saat dihubungi, Rabu (19/2).

Menurutnya, kalau problem struktural ekonomi Indonesia tidak dibenahi, masalah akan tetap kambuh ketika terkena hantaman dari penurunan perekonomian global maupun dalam negeri. "Ini terjadi karena pemerintah masih berat ke ekonomi ekstraktif (mengolah secara langsung benda-benda yang berasal atau tersedia dari alam, termasuk migas, kontribusinya diekspor masih 30 hingga 40 persen. Istilahnya, ketergantungan di komoditas menjadi persisten," ujar Gunadi.

Saran IMF

Seperti diketahui, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menulis di Financial Times edisi, Selasa (18/2) tentang formula bagi negara berkembang untuk menampung arus modal luar negeri.

Menurutnya, mengatasi arus modal yang tidak stabil dapat menjadi tugas yang menakutkan karena harus memperhatikan kombinasi waktu dan tindakan kebijakan yang tepat. Pertimbangkan episode 2018 saat arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Brasil dan Malaysia melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menopang mata uangnya. Sementara Kolombia dan Afrika Selatan nyaris tidak melakukan intervensi dan beberapa bank sentral menaikkan suku bunga, sementara yang lain tidak. Intervensi kuat sering mengurangi depresiasi, tetapi tidak selalu.

"Semua ini menimbulkan pertanyaan, termasuk untuk IMF. Karena itu, kami memikirkan kembali dan memperbarui saran kami ke negara-negara anggota. Tujuan kami adalah untuk memberikan saran khusus tentang campuran kebijakan negara yang tepat, untuk menjaga pertumbuhan dan stabilitas keuangan," tulis Kristalina.

Kristina menegaskan kerangka kerja IMF saat ini, yang didasarkan pada pemikiran ekonomi yang lebih konvensional, secara luas mengarahkan anggota untuk menggunakan nilai tukar sebagai peredam goncangan. Pendekatan ini memberikan perkiraan yang baik tentang bagaimana ekonomi maju menyesuaikan diri dengan guncangan eksternal dan pergerakan nilai tukar.

"Namun dengan itu bisa kehilangan karakteristik penting dari pasar negara berkembang yang mengubah respons ekonominya terhadap guncangan eksternal dan mungkin memerlukan resep kebijakan berbeda," paparnya. (KJ/q)

Berita Terkait

Ekonomi

Pedagang di Tapteng Sebut Harga Komoditas Belum Stabil

Ekonomi

Kinerja 100 Hari, Polrestabes Medan Ringkus 718 Tersangka Narkoba. Sita 156 Kg Sabu

Ekonomi

Polda Sumut Intensifkan Patroli Subuh Selama Ramadhan

Ekonomi

Ramadan 1447 H, Pemkab Labura Ajak 8 Ustadz Kunjungi Delapan Masjid

Ekonomi

Sungai Simanggar Alami Sedimentasi, Bupati Batubara Minta Penanganan Cepat PSDA Provinsi Sumut

Ekonomi

Sebulan Diburon, Polsek Tanjungmorawa Tangkap Pelaku Curanmor