Medan (harianSIB.com)Pada awal pekan ini,
Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) dan
Rupiah kompak
mencatatkan penurunan.
Meskipun IHSG sempat dibuka di zona hijau, pada akhirnya indeks ini terkoreksi 0,25% dan ditutup di level 7.702,74. Penurunan ini sejalan dengan tekanan yang dialami mayoritas bursa saham di kawasan Asia.
Menurut Ekonom Gunawan Benyamin, sejumlah emiten seperti BREN, BBCA, BBRI, ASII dan TLKM menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan IHSG pada Senin (9/9/2024).
Di pasar regional, Indeks Hang Seng dan bursa saham Taiwan menjadi yang paling terdampak dengan koreksi lebih dari 1%.
Tidak hanya IHSG, Rupiah pun mengalami pelemahan selama sesi perdagangan. Rupiah ditutup pada level 15.450 per dolar AS, setelah sebelumnya bergerak di kisaran 15.360 hingga 15.470 per dolar AS.
Penguatan dolar AS sendiri dipicu oleh perbaikan beberapa indikator ekonomi di Amerika Serikat. Selain itu, pelaku pasar tengah menanti rilis data inflasi AS yang diharapkan memengaruhi keputusan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Sentimen pasar memperkirakan bahwa The Fed mungkin akan menurunkan suku bunga, namun jika data ekonomi AS menunjukkan performa yang kuat, potensi penurunan suku bunga bisa berkurang. Hal ini berpotensi meningkatkan tekanan pada pasar keuangan global.
Sebagai tambahan, harga emas juga mengalami penurunan dalam perdagangan hari ini, Senin (9/9/2024). Harga emas tercatat berada di sekitar 2.491 dolar AS per ons troy, atau setara dengan sekitar Rp1,24 juta per gram. (*)