Medan(harianSIB.com)
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Kota Gunungsitoli mencatat tingkat inflasi yang sangat tinggi dibandingkan wilayah lain di Sumatera Utara dan nasional dalam beberapa periode terakhir, yang dipengaruhi terutama oleh gangguan distribusi pasokan barang dan jasa akibat bencana dan keterbatasan logistik ke wilayah kepulauan seperti Nias.
Kepala KPPU Wilayah I Medan, Ridho Pamungkas menyebutkan, bahwa secara lokal lonjakan harga barang dan jasa berimplikasi langsung pada daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah yang mengalokasikan porsi pendapatan terbesar untuk konsumsi pokok.
Ini dapat menekan permintaan domestik untuk barang dan jasa lokal, memengaruhi aktivitas sektor usaha mikro dan kecil menengah yang banyak tergantung pada konsumsi rumah tangga.
Ketika harga kebutuhan pokok naik tajam, konsumsi sektor lain seperti jasa dan perdagangan retail, cenderung terkoreksi turun karena daya beli masyarakat tertekan.
Baca Juga: Ibu Hamil yang Sempat Ditolak Terbang Kini Dirawat di RS Teguh Medan Walaupun inflasi di satu kota belum tentu langsung berdampak material terhadap angka inflasi nasional secara agregat, fenomena inflasi tinggi di daerah tertentu mencerminkan tantangan distribusi dan ketahanan pasokan di Indonesia, khususnya untuk wilayah kepulauan dan 3T.
"Ini memberi sinyal bahwa kebijakan penanganan inflasi perlu bersifat fleksibel dan terdesentralisasi, dengan perhatian khusus pada ketahanan pangan dan logistik antarwilayah agar gejolak harga lokal tidak meluas dan menambah tekanan inflasi nasional," jelas Ridho di Medan, Selasa (3/2/2026).
Editor
: Wilfred Manullang