Medan(harianSIB.com)
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan hebat dalam dua pekan terakhir hingga 3 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun tajam dari level sekitar 9.134 pada 20 Januari menjadi 8.068 pada 3 Februari 2026.
Ekonom Wahyu Ario Pratomo menyebut, penurunan paling dalam terjadi pada 28 Januari 2026 ketika IHSG anjlok lebih dari 7 persen dalam satu hari. Tekanan kembali berlanjut pada 2 Februari 2026 hingga menyentuh level 7.922, sebelum sedikit pulih sehari kemudian.
"Pergerakan IHSG yang naik-turun tajam ini membuat banyak investor merasa pasar sedang tidak baik-baik saja dan memicu kepanikan," kata Wahyu kepada harianSIB.com, Selasa (3/2/2026).
Menurut Wahyu, situasi semakin diperparah oleh pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) serta Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Peristiwa tersebut dinilai sebagai sinyal serius bagi pelaku pasar.
Baca Juga: IHSG Terpuruk, Rupiah Melemah, Emas Stabil Ia menjelaskan, sumber guncangan awal justru datang dari faktor eksternal, yakni pernyataan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kewajaran investasi di pasar modal Indonesia.
MSCI mempertanyakan aspek keterbukaan data kepemilikan saham, porsi saham yang benar-benar beredar di publik (free float), hingga dugaan pola transaksi yang dinilai tidak wajar pada sejumlah saham.
"Ketika MSCI menyampaikan kekhawatiran dan membekukan sementara perubahan tertentu dalam indeks Indonesia, investor besar cenderung mengambil langkah aman dengan mengurangi kepemilikan saham," ujarnya.