Medan (SIB)- Produksi jagung di Sumatera Utara sedang ketat di tengah upaya Pemerintah melakukan peningkatan hasil panen untuk mengejar swasembada bahkan surplus komoditas itu pada 2017."Produksi lagi ketat karena memang belum panen sehingga harga jual juga bertahan mahal Rp2.200 per kg," kata petani di Dairi, Sumut, Romel Sembiring di Medan, Senin.Menurut Romel, harga jagung yang sebesar Rp2.200 per kg itu sudah menguntungkan meski belum maksimal.Dia menjelaskan, harga jagung baru tersebut menjanjikan kalau di kisaran Rp2.500 per kg mengingat harga pupuk dan benih semakin mahal."Harapannya, harga jangan anjlok saat masa panen seperti yang selalu terjadi. Harga murah saat masa panen itu yang selalu membuat petani kurang berminat mengembangkan jagung," katanya.Dia menjelaskan, panen jagung di Sumut baru akan mulai Maret dan April 2015.Kepala Dinas Pertanian Sumut, M Roem, mengatakan pihaknya sudah melakukan berbagai langkah untuk bisa mencapai target surplus jagung Sumut tahun 2017 sebesar 888.292 ton.Sumut, kata dia, memang menjadi salah satu daerah yang diharapkan Pemerintah menjadi penyumbang surplus jagung dalam upaya target swasembada pangan Indonesia di 2017.Roem mengakui, dewasa ini Sumut masih mengimpor jagung karena meski produksi naik terus tetapi permintaan semakin meningkat.Permintaan jagung yang meningkat itu karena produksi pakan ternak pabrikan Sumut terus naik sejalan dengan kebutuhan yang besar baik untuk penjualan di pasar lokal, provinsi lain, dan ekspor.Dia menjelaskan, kalau pada 2014 produksi jagung masih 1.116.649 ton, maka di 2015 produksi akan menjadi 1.309.912 ton dan terus naik mencapai 1.697.316 ton di tahun 2016 serta 2017 sudah sebanyak 1.776.323 ton."Dengan angka-angka itu, pada tahun 2017 diperkirakan Sumut mengalami surplus 888.292 ton," katanya. (Ant/f)