Jakarta (SIB)- Survei Indo Barometer menunjukkan Jokowi masih jadi capres paling potensial saat ini. Namun jika Gubernur DKI itu tidak dicapreskan PDIP maka capres Gerindra Prabowo Subianto bisa melaju mulus ke RI 1."Jika capres PDIP adalah Megawati Soekarnoputri, maka Prabowo Subianto yang paling banyak dipilih (19,8%), disusul Megawati Soekarnoputri (17,3 %), dan Aburizal Bakrie (17%)," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam publikasi hasil surveinya di Hotel Harris, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/1).Survei dilaksanakan di 34 provinsi di seluruh Indonesia pada 4 – 15 Desember 2013 dengan jumlah responden sebanyak 1.200 orang. Margin of error survei ini sekitar 3,0% pada tingkat kepercayaan 95%.Responden dipilih dengan metode multistage random sampling untuk menghasilkan responden yang mewakili seluruh populasi publik dewasa Indonesia (berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan). Pengumpulan data dengan wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner.Kondisi berbeda jika Jokowi diusung sebagai capres PDIP. Jokowi diprediksi menang Pilpres."Jika capres PDIP adalah Joko Widodo, maka dukungan pemilih paling tinggi terhadap Joko widodo (37,7%), disusul Aburizal Bakrie (14,6%) dan Prabowo Subianto (13%)," kata Qodari.Berikut hasil survei Indo Barometer jika capres PDIP adalah Megawati Soekarnoputri:1. Prabowo Subianto: 19,8%,2. Megawati Soekarnoputri: 17,3%,3. Aburizal Bakrie: 17,0%,4. Wiranto: 10,5%,5. Muhaimin Iskandar: 2,3%,6. Hatta Rajasa: 1,2%,7. Yusril Ihza Mahendra: 0,8%,8. Surya Paloh: 0,8%,9. Anis Matta: 0,5%,10. Suryadharma Ali: 0,3%,11. Sutiyoso: 0,1%,12. Pramono Edhie Wibowo: 0%,Tidak akan memilih: 0,4%,Rahasia: 1,6%,Belum memutuskan: 21,4%,Tidak menjawab: 6,2%. Elektabilitas Jokowi 32,3%,Megawati Hanya 6,2%Cirus Surveyors Group merilis hasil survei tentang elektabilitas tokoh yang layak dipilih sebagai capres (top of mind). Hasilnya, lagi-lagi Joko Widodo menempati capres paling layak dengan perolehan 31,3 persen."Tokoh yang layak dipilih sebagai capres (top of mind) pertama Joko Widodo sebesar 31,3 persen. Kedua, Prabowo 11,5 persen," kata Direktur Riset Cirus Surveyors Group Kadek Dwita Apriani di Restoran Pulau Dua, Jakpus.Secara berurutan, ketiga adalah Aburizal Bakrie sebesar 9,1% lalu keempat Megawati Soekarnoputri 6,2%, dan Wiranto 5%. Lainnya 11,1 persen dan tidak tahu 24,8 %.Survei ini dilakukan pada kisaran 20 November-30 Desember 2013. Respoden adalah penduduk berumur minimal 17 tahun atau sudah menikah sebanyak 2.200 orang yang tersebar di 33 provinsi. Tingkat kepercayaan 95% dengan margin of error sebesar 2,0%.Survei kemudian menanyakan tentang kesukaan terhadap bakal capres. Hasilnya Jokowi capres paling disukai sebesar 82,0%, kemudian Jusuf Kalla 57,7% Megawati Soekarnoputri 57,2%."Prabowo Subianto disukai sebesar 54,5%, Aburizal Bakrie 45,3%, Dahlan Iskan 31,6%, Mahfud MD 29,5%," ucap Kadek.Berikut elektabilitas capres (top of mind) secara berurutan menurut survei Cirus:1. Joko Widodo:31,3 persen, 2. Prabowo: 11,5 persen, 3. Aburizal Bakrie: 9,1 persen, 4. Megawati Soekarnoputri 6,2 persen, 5. Wiranto 5 persen, Lainnya: 11,1 persen, Tidak tahu: 24,8 persen PDIP Tembus 35,8%Lembaga survei Indo Barometer mempublikasikan survei seputar elektabilitas parpol jika Jokowi dicapreskan PDIP. Hasilnya mengagetkan, PDIP bisa menembus 35,8% jika lekas mendeklarasikan Jokowi sebagai capres."Jika Joko Widodo dicalonkan sebagai capres PDIP, maka suara PDIP meningkat menjadi 35,8%, Golkar 15,8%, Gerindra 7,9%, dan Demokrat 4,6%," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, dalam publikasi hasil surveinya di Hotel Harris, Tebet, Jakarta Selatan.Survei dilaksanakan di 34 provinsi di seluruh Indonesia pada 4 – 15 Desember 2013 dengan jumlah responden sebesar 1.200 orang. Margin of error survei ini sekitar 3,0% pada tingkat kepercayaan 95%.Responden dipilih dengan metode multistage random sampling untuk menghasilkan responden yang mewakili seluruh populasi publik dewasa Indonesia (berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan). Pengumpulan data dengan wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner.Dalam analisa khusus PDIP tampak bahwa pencapresan Joko Widodo berpengaruh secara signifikan terhadap elektabilitas PDIP. Dari hasil survei, elektabilitas PDIP pada kelompok kontrol (tanpa ada faktor Jokowi), mencapai 28,8%."Ada selisih elektabilitas yang signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok treatment 1, peningkatan sebesar 7%," katanya menunjukkan lonjakan elektabilitas PDIP.Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana jika Jokowi dideklarasikan setelah Pileg? "Maka PDIP tidak mendapat manfaat dari efek Jokowi. Pemilih menganggap ada ketidakpastian pencalonan Jokowi sebagai capres oleh PDIP," jawab Qodari.Berikut hasil lengkap elektabilitas parpol peserta Pemilu 2014 jika Jokowi diusung PDIP sebagai capres:1. PDIP: 35,8%, 2. Golkar: 15,8%, 3. Gerindra: 7,9%, 4. Partai Demokrat: 4,6%, 5. PKB: 3,8%, 6. PAN: 2,5%, 7. Hanura: 2,5%, 8. PPP: 1,7%, 9. NasDem: 1,5%, 10. PKS: 1,3%, 11. PKPI: 0,8%, 12. PBB: 0,0%, Suara Tidak Sah: 2,1%, Tidak menandai surat suara: 20,0%.Survei Kompas: PDIP No 1, Demokrat Kian TerpurukLitbang Kompas menggelar survei elektabilitas parpol peserta Pemilu 2014 di akhir tahun 2013. Hasilnya PDIP muncul sebagai pemenang, sementara Partai Demokrat semakin terpuruk.PDIP berada di puncak klasemen mulai pertengahan tahun 2013 (23,6%) dan akhir tahun 2013 (21,8%). Sementara di posisi kedua Partai Golkar terus merangkak naik dari 15,4% (akhir 2012), 16,0% (Juni 2013), dan 16,5% (Desember 2013).Partai Gerindra mulai konsisten di tempat ketiga dengan raihan 11,5% di akhir 2013. Sementara Partai Demokrat justru turun drastis dari 11,1% (akhir 2012), menjadi 10,1% (pertengahan 2013), dan turun lagi menjadi 7,2% di akhir 2013.Sementara itu partai Islam tak menunjukkan elektabilitas signifikan. Partai NasDem dan Hanura malah menunjukkan lonjakan elektabilitas signifikan.Litbang Kompas membandingkan hasil survei yang dilakukan selama tiga periode yakni akhir 2012, pertengahan 2013, dan akhir tahun 2013. Ketiga survei ini dilakukan oleh Litbang Kompas pada 26 November-11 Desember 2012, 30 Mei-14 Juni 2013, dan 27 November-11 Desember 2013.Survei ini menggunakan 1.380-1.400 responden berusia minimal 17 tahun dipilih secara acak dari 34 provinsi di Indonesia pada tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sekitar 2,6%.Berikut hasil survei elektabilitas parpol pada akhir 2013 yang dilansir Kompas pada Kamis (9/1):1. PDIP: 21,8% , 2. Golkar: 16,5%, 3. Gerindra: 11,5%, 4. Partai Demokrat: 7,2%, 5. NasDem: 6,9%, 6. Hanura: 6,6%, 7. PKB: 5,1%, 8. PAN: 3,2%, 9. PPP: 2,4%, 10. PKS: 2,3%, 11. PBB: 1,1%, 12. PKPI: 0,1%, Rahasia: 8,6%, Tidak tahu: 6,7%. Minta Mega Legowo Deklarasikan JokowiSkenario duet Mega-Jokowi di Pilpres 2014 ditentang kader PDIP sendiri. Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri (66) diminta legowo melepas tiket capres PDIP ke Jokowi (52)."Kami hanya menyampaikan suara dan aspirasi yang berkembang di daerah kami. Kami mengharapkan, Ibu Mega sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan yang memiliki hak preogratif untuk menetapkan capres dari PDI Perjuangan mendengarkan aspirasi di daerah kami," kata Wakil Ketua DPC PDIP Jakarta Barat, Dedi Obray, dalam siaran pers, Kamis (9/1).Obray lantas mengungkap aspirasi masyarakat di Jakarta Barat yang menghendaki Jokowi jadi capres PDIP. Dia berharap deklarasi pencapresan Jokowi tak menunggu hasil Pileg."Aspirasi masyarakat di daerah kami, sangat antusias mendukung Jokowi sebagai capres. Itu yang saya dengar setiap kali kami menjumpai masyarakat, dari pedagang kaki lima sampai perumahan-perumahan yang ada di Jakarta Barat," kata Obray.PDIP Jakarta Barat Deklarasikan Pro JOKOWI CAPRES Satu per satu DPD dan DPC PDIP menyatakan dukungan ke pencapresan Joko Widodo (Jokowi). Kali ini DPC PDIP Jakarta Barat yang menegaskan sikap mendukung pencapresan Gubernur DKI itu."Aspirasi masyarakat di daerah kami, sangat antusias mendukung Jokowi sebagai capres. Itu yang saya dengar setiap kali kami menjumpai masyarat, dari pedagang kaki lima sampai perumahan-perumahan yang ada di Jakarta Barat. Gerakan Pro Jokowi ini murni aspirasi arus bawah," kata Wakil Ketua DPC PDIP Jakarta Barat, Dedi Obray, dalam siaran pers, Kamis.Karena itu telah dideklarasikan PDIP Projo Jakarta Barat. PDI Perjuangan Projo Jakarta Barat ini dimotori oleh Dedi Obray, Rocky (Bendahara PAC Kecamatan Taman Sari) dan belasan kader dan simpatisan PDIP se-Jakarta Barat. Mereka berencana membuka Posko Rakyat Pro Jokowi di 8 kecamatan dan 56 kelurahan se-Jakarta Barat."Sebagai daerah yang sejak lama menjadi penyumbang suara yang besar bagi PDIP di Jakarta, kami sangat mengharapkan Jokowi diusung sebagai capres oleh PDIP," ujar Obray.PDIP Pro Jokowi memang terus bergerilya di daerah. Target mereka adalah membuat gerakan pencapresan Jokowi secara nasional. PDIP Pro Jokowi dimotori oleh eks elite PDIP dan sejumlah caleg PDIP baik di kursi DPR RI maupun DPRD. (detikcom/h/f/r)