‘Kazaro Manoo’ Jadi Motto Dukungan Kepada Paslon Djarot-Sihar

Sejak Dulu Warga Nias Dukung Figur Pelangi

- Kamis, 22 Februari 2018 10:32 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2018/02/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Medan (SIB) -Seruan atau istilah 'Kazaro Manoo' (bahasa Nias, baca: Kazaro Mane) yang artinya 'si Zaro(t) itu sajalah' semakin mengemuka di kalangan masyarakat Nias sebagai wujud dan sikap dukungan terhadap pasangan calon Gubsu-Wagubsu Djarot Syaiful Hidayat dan Sihar Sitorus menjelang Pilkada Sumut tahun ini.Politisi dan tokoh pemuda Nias, Damili R Gea SH, menyatakan sentimen dan fanatisme dengan dasar simpati pluralisme warga Nias terhadap pasangan Djarot-Sihar, karena sejak dulu atau selama ini warga Nias lebih simpati dan membuka diri kepada figur-figur 'pelangi'."Sejak dulu, warga Nias itu memang lebih suka dan simpati dengan figur calon pemimpin atau kandidat yang bersifat pelangi, siapapun dan darimanapun itu. Sosok pelangi itu dirasakan akan mumpuni untuk mengakomodir kebutuhan dari berbagai aspek dan potensi di bidang sosial maupun ekonomi dan politik. Ini tampak dalam sejarah kepemimpinan Sumut ketika Gubsu Raja Inal Siregar dan wakilnya Piter Sibarani dan Tengku Rizal Nurdin dan wakilnya Rudolf Pardede, yang merupakan gubernur Sumut dengan catatan kunjungan terbanyak ke Pulau Nias ketika itu. Bayangkan, bagaimana simpati dan bangganya rakyat Nias ketika melihat catatan, Gubsu Raja Inal selama memimpin Sumut, tercatat 99 kali kunjungan kerja ke Nias, dan Gubsu Tengku Rizal Nurdin buat sejarah dengan berenang langsung di perairan Pulau Tello," papar Damili kepada SIB, Rabu (21/2).Sebutan atau seruan 'Ka-Zaro' itu, ujar Damili yang juga mantan anggota DPRD Nias dan DPRD Kota Gunungsitoli dan pernah menjadi calon bupati Nias, belakangan ini mengemuka tak hanya di kalangan warga dan partai pengusungnya (PDIP) saja, tetapi juga di kalangan warga individu partai dan komunitas lainnya.Seruan atau istilah 'Ka-Zaro' itu merupakan sikap dukungan: 'Si Djaro(t) sajalah'. Di Nias tak mengenal huruf mati di akhir kalimat dalam setiap pembicaraan bahkan tulisan, dan nama atau huruf 'J' atau 'Dj' lebih sering diucapkan dengan kata 'z'. Damili menegaskan, seruan khas itu tak hanya populer saat ini di kawasan kota Gunungsitoli saja, tapi juga di sejumlah penjuru lain di sekitar Kepulauan Nias."Di beberapa lokasi memang terpajang, baliho atau spanduk promo kandidat Paslon lain yang sebelumnya memang sudah sering datang ke Nias dengan kapasitas atau jabatan lain. Tapi justru itu yang membuat reaksi munculnya seruan: Ka-Zaro Manoo-lah. Kira-kira artinya: Siapapun yang ada di situ (calon lain), kita Si Djarot ajalah," katanya optimis. (A04/f)


Tag:

Berita Terkait

Headlines

Kejaksaan Geledah Rumah Eks Menteri KLHK Siti Nurbaya

Headlines

Mirza Adityaswara Mundur dari OJK, Tiga Pejabat Tinggi Ikut Lepas Jabatan

Headlines

KPK Dalami Dugaan Penukaran Uang Miliaran Ridwan Kamil di Luar Negeri

Headlines

Dua Gol Felipe Antar PSMS Kalahkan FC Bekasi

Headlines

Dua Gol Felipe Antar PSMS Kalahkan FC Bekasi

Headlines

Hendri Yanto Sitorus Kembalikan Formulir Pencalonan Ketua Golkar Sumut