BNPB: 387 Orang Meninggal, Tanggap Darurat Gempa NTB Diperpanjang

* Warga Masih Trauma Pulang ke Rumah
- Minggu, 12 Agustus 2018 11:35 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/dir082018/hariansib_BNPB--387-Orang-Meninggal--Tanggap-Darurat-Gempa-NTB-Diperpanjang.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Ant/Ahmad Subaidi
BELUM TERSENTUH BANTUAN: Dua orang korban gempa mandi dekat rumah mereka yang roboh pascagempa di Dusun Lengkukun, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, NTB, Sabtu (11/8). Hingga hari keenam pascagempa para korban gempa yang lokasinya jauh dari

Jakarta (SIB) -Korban meninggal dunia akibat gempa bumi 7 Skala Richter (SR) di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali, bertambah. Hingga hari keenam pascagempa, tercatat 387 orang meninggal.

"Jumlah korban gempa bumi terus bertambah. Hingga Sabtu (11/8), tercatat 387 orang meninggal dunia dengan sebaran Kabupaten Lombok Utara 334 orang, Lombok Barat 30 orang, Lombok Timur 10, Kota Mataram 9, Lombok Tengah 2, dan Kota Denpasar 2 orang," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/8).

Sutopo mengatakan diperkirakan jumlah korban meninggal akan terus bertambah, karena masih ada korban yang diduga tertimbun longsor dan bangunan roboh. Selain itu, diduga masih ada korban meninggal yang belum didata dan dilaporkan ke posko.

"Jika di Kabupaten Lombok Timur kemarin dilaporkan 11 orang meninggal dunia. Setelah diverifikasi ternyata terjadi pencatatan ganda. Satu korban dilaporkan 2 kali karena menggunakan nama panggilan dan nama lengkap," katanya.

Selain itu, lanjut Suotpo, sebanyak 13.688 orang luka-luka. Jumlah pengungsi tercatat 387.067 jiwa tersebar di ribuan titik. Ratusan ribu jiwa pengungsi tersebut tersebar di Kabupaten Lombok Utara 198.846 orang, Kota Mataram 20.343 orang, Lombok Barat 91.372 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang.

Sutopo menambahkan, penanganan darurat masih terus diintensifkan. Masa tanggap darurat penanganan dampak gempa bumi di NTB seharusnya berakhir pada 11 Agustus 2018 kemarin, namun terus diperpanjang.

"Mempertimbangkan masih banyak masalah dalam penanganan dampak gempa, akhirnya Gubernur Nusa Tenggara Barat memutuskan untuk memperpanjang 14 hari masa tanggap darurat yaitu terhitung 12/8/2018 hingga 25/8/2018," katanya.

Dia juga mengatakan kondisi di lapangan masih banyak permasalahan, seperti masih adanya korban yang harus dievakuasi, pengungsi yang belum tertangani dengan baik, gempa susulan yang masih terus berlangsung bahkan gempa yang merusak dan menimbulkan korban jiwa dan lainnya.

"Dengan adanya penetapan masa tanggap darurat maka ada kemudahan akses untuk pengerahan personel, penggunaan sumber daya, penggunaan anggaran, pengadaan barang logistik dan peralatan, dan administrasi sehingga penanganan dampak bencana menjadi lebih cepat," jelasnya.

Masih Trauma

Gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyisakan trauma. Warga belum berani berlama-lama di dalam rumah.

Perasaan takut seperti itu dirasakan Haeriah (65), warga Kelurahan Cakranegara Barat, Kecamatan Cakranegara, Mataram. Ia mengaku memilih meninggalkan rumahnya dan ikut bergabung dengan warga lainnya dalam satu kemah pengungsian daripada harus tinggal di dalam rumah.

"Saya takut, saya nggak berani masuk rumah. Setiap kali mau masuk, pas sudah di depan pintu, saya balik lagi, takut, teringat gempa," kata Haeriah, Sabtu (11/8).

Meskipun bangunan rumahnya tak mengalami kerusakan akibat gempa, Haeriah dan lima anggota keluarganya memilih mengungsi dan tidur di tenda pengungsian.

Tingginya jumlah pengungsi korban gempa dan banyaknya warga yang memilih tidur di tenda membuat kebutuhan akan tenda ikut meningkat. Harga terpal dirasakan tidak wajar, berbeda dengan sebelum gempa melanda Lombok.

"Kemarin saya mau beli terpal, sulit sekali dapat. Terus saya cari di pertokoan Pasar Cakranegara, harganya naik tiga kali lipat, ndak jadi saya beli, mahal sekali harganya," ungkap Haqqul, warga Cakranegara,

Karena itu, Haqqul urung mendirikan tenda. Dia dan keluarganya pun menumpang tidur di tepi teras rumah tetangganya.

Keluhan mengenai sulitnya mendapatkan terpal serta tingginya harga itu juga diungkapkan salah seorang anggota pramuwisata NTB, Rudy. Keadaan tersebut diketahuinya saat akan membeli banyak terpal untuk disumbangkan kepada warga korban gempa di Kabupaten Lombok Utara (KLU).

"Saya heran, kenapa sulit sekali dapat terpal. Keliling saya cari di Mataram ini. Harganya juga masyaallah tinggi sekali. Pokoknya beda dari harga biasanya. Ya, terpaksa saja saya beli karena butuh mau disumbangkan untuk warga KLU," ungkapnya.

Salah satu relawan untuk korban gempa Lombok, Satria, merasakan hal yang sama. Satria memerinci harga terpal, yang kenaikannya signifikan.

"Harga terpal saat pengungsi sedang butuh ukuran 4x6 meter biasanya Rp 150 ribu menjadi Rp 450 ribu. Ukuran 6x8 meter beli biasa Rp 300 ribu jadi Rp 800 ribu. Ukuran 8x12 meter biasa Rp 700 ribu naik menjadi Rp 1,1 juta. Ini kan bencana lagi namanya," keluhnya. (detikcom/h)


Tag:

Berita Terkait

Headlines

Wujudkan Sitkamtibmas, Polres Humbahas Gelar Rakor Linsek Ops Ketupat Toba 2026

Headlines

Bupati Humbahas Serahkan Bantuan kepada Korban Bencana

Headlines

Generasi Muda Dominasi Jumlah Investor di Sumut, Aset Terbesar Masih Milik Investor Senior

Headlines

Tembus 6 Juta Pelaporan SPT Tahunan, DJP Luncurkan Coretax Form dan Coretax Mobile

Headlines

Satresnarkoba Polres Labuhanbatu Tangkap Residivis Edarkan Sabu di Pulopadang

Headlines

Selama Ramadan, SPPG Seibuluh Seibamban Salurkan Menu Makanan Kering ke Penerima Manfaat MBG